"Maaf ...."
"Berhenti merasa bersalah karena hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kamu!"
Niat hati ingin rehat dari aktifitas yang melelahkan sebagi model, Violla Sanjaya justru mendapat dua malapetaka yang tidak pernah ia duga: 1) hampir kehilanga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-= HAPPY READING =-
"Udah dulu ya, Ra."
"Tapi Vi, kalau Om Danu nanya gimana? Gue harus jawab apa?"
Violla memejam sejenak, di dalam otaknya sudah penuh dengan rencana-rencana. "Ra, lo sendiri 'kan yang bilang gue harus temuin Ufi walau untuk terkahir kalinya? Tolong kali ini urus Papa sebentar, gue pasti pulang sebelum jam delapan malam ini."
Panggilan berhenti. Violla mematikannya, sudah separuh perjalanan menuju tempat tujuan dan sampai sekarang ia masih ragu dengan perasaannya sendiri. Violla bertanya-tanya, apakah ini adalah pilihan yang tepat atau tidak? Apakah setelah ini akan menyesal atau tidak? Dengan kalimat itu saja sudah membuat kepala mau meledak rasanya.
Violla langsung pergi menuju Bogor setelah mendapat telepon dari Yayan tadi. Mendengar cerita tentang Ufi yang sampai merokok di rooftop perusahaan sangat membuat Violla khawatir, sejauh ia mengenalnya tidak pernah sekalipun satu batang rokok nampak di rumah Ufi—apa sekacau itu Ufi sekarang?
Mulanya Violla tak percaya, mana mungkin Zulfikar berbuat seaneh itu? Tapi setelah mendengar keras kepalanya Ufi dalam menjadikan ia sebagai model perusahaan hingga sekarang dan tak ingin mengubahnya tanpa sebab membuat Violla terketuk karena merasa sudah melupakan satu hal.
Kontrak yang Ufi buat masih terpampang jelas di kepala bahwa hal itu akan berakhir kala laki-laki itu yang memutuskan kerjasamanya. Namun, sampai sekarang tak pernah Violla dengar kata berhenti menjadi model perusahaan dari mulutnya.
Violla terlalu egois dengan memilih melindungi Ufi dari Papa dan Adam tapi menyiksa Ufi dengan tanda tanya besar. Ufi pasti kacau karena itu juga, siapa yang terima kala masing-masing manusia tahu perasannnya untuk siapa tapi memilih tidak bersama karena sebuah alasan yang sebenarnya bisa dibicarakan.
Violla tak ingin menagis, tak layak juga ia melakukan itu. Semua terjadi jarena kesalahannya sendiri, makanya hari ini ia ingin semuanya selesai. Ya ... selesai. Lega harus tercipta setelah pertemuan ini, entah itu akhirnya akan menyenangkan atau menyedihkan, setidaknya ada kejelasan.
Violla menyambar ponselnya lagi kala mobil hampir sampai di tempat tujuan. Tidak tahu bagaimana, padahal jalanan macet tapi tak terasa apa-apa, kecuali hadirnya Ufi dalam halusinasi.
"Yan, ini gue."
"Mbak Violla? Alhamdulillah.... Mbak mau, kan, jadi model perusahaan lagi? Kaget saya waktu Mbak matiin telepon tadi."
Segurat rasa bersalah tercetak di bibir Violla, ia menyimpan sikutnya ke kaca mobil sejenak. "Yan, Ufi ada di sana?"
"Pak Fikar lagi kunjungan ke pabrik, sih, Mbak. Memangnya kenapa?"
"Gue lagi di jalan otw kantor Ufi, jangan kasih tahu dia ya sebelum gue sampe di sana."
"Serius mau ke sini, Mbak? Oke-oke, Mbak. Ditunggu." Tawa girang mencuat sampai ketelinga Violla, kabar kedatangannya saja sudah membuat orang lain senang. Apalagi jika sampai Violla kembali menjadi model perusahaan Ufi, hal inilah yang membuat ia tak tega jika harus mematahkan harapan-harapan mereka.
Panggilan berhenti setelah Violla mengiyakan. Beruntung jalanan mulai melengang, hari mulai sore dan langit tidak sedang mendung. Pertemuan kali ini harus berhasil, Violla harus bisa berbicara tanpa melibatkan perasaan. Ia benci keadaan ini, mencintai tapi tidak dipersatukan.
***
Ufi harus melakukan kunjungan ke pabrik sore ini, ia ingin melihat bagaimana tas yang telah didesain waktu itu sedang dalam proses penyempurnaan. Sekalian ia ingin melihat keadaan pabriknya agar bisa sejenak melupakan tekanan-tekanan dari Mr. Malorry.
Jika bukan karena permintaan Papa untuk tetap melanjutkan kerja sama, Ufi rela membatalkannya. Baginya hanya Violla yang bisa membuat produk perusahan bersinar saat dikenakan, selalu terlihat indah juga menarik setiap kamera mengambil gambar. Makanya Ufi senang dan percaya diri ketika Violla ada untuk membantunya, wanita itu mempunyai aura yang kuat untuk membuat seseorang tertarik padanya. Termasuk Ufi.
"Mesin jahit, sih, nggak ada masalah, Mas. Cuma ya gitu, sekarang lebih sering mati lampu. Jenset juga kadang suka macet-macetan, kayaknya mau rusak," ujar Pak Karyo.
Ufi keluar dari ruang penjahitan. Mesin-mesin jahit yang terlihat beroperasi dengan baik itu menimbulkan bunyi-bunyian di setiap langkah yang diambil, sampai akhirnya tak lagi terdengar setelah Pak Karyo menuntun Ufi keluar dari sana.
"Setelah proyek dengan Mr. Malorry dijalankan, saya akan mengganti semua perangkat pabrik yang rusak," ucap Ufi mantap.
"Baik, Mas." Pak Karyo mengangguk, mereka sudah sampai di sebuah ruang dengan kursi dan meja yang biasanya penuh jika tengah istirahat kerja. "Oh iya, katanya Mbak Violla sudah tunangan, ya, Mas? Wah, nggak nyangka, ya, jodohnya udah ketemu saja."
Tubuh Ufi sedikit melemas kala Pak Karyo membahas mengenai pertungan Violla. Ia hanya mengulas senyum pahit, lagi-lagi penolakan yang Violla lakukan waktu itu kembali terngiang di kepalanya.
"Mas, menurut saya sih mending kita pakai Mbak Sisca lagi menjadi model perusahaan. Saya juga sempet dengar kabar dari anak-anak kalau Mbak Violla nggak bisa jadi model perusahaan lagi."
Lagi-lagi Sisca, sudah berapa kali Ufi mendengar nama itu? setiap mendengar namanya hati Ufi selalu merasa sakit, rasa kecewa yang sempat menggores hatinya belum mengering, masih menyakitkan setiap kali nama itu terdengar. "Saya akan coba pikirkan, Pak."
Pak Karyo tergelak kala Ufi menjawabnya. "Iya, Mas. Jujur, saya mah suka lihat Mas Ufi sama Mbak Sisca, kayak dulu. Cocok pisan."
Ufi mengambil duduk di kursi yang langsung mengarahkan pandangannya ke sebuah pohon. "Pak ... saya sama Sisca sudah nggak mungkin lagi sama-sama. Dia punya orang lain ..., " Ufi menjatuhkan pandangannya, "bahkan sejak masih sama saya."
Pak Karyo tiba-tiba saja mengusap halus punggung Ufi. "Kalau jodoh, pasti balik lagi, Mas."
Ufi tersenyum simpul. Tidak tahu juga kenapa bisa begitu, perkataan Pak Karyo seolah memberi janji tentang kembalinya sesuatu yang hilang. Bagaimana mungkin Ufi bisa begitu senang mendengarnya, padahal Sisca sudah melukainya? Tapi mau dilihat dari sisi mana pun, senyuman itu tetep terlihat tulus.
Tiba-tiba ponsel Ufi bedering di saku dalam jas, ia langsung mengambilnya hingga seketika usapan halus Pak Karyo pun berhenti. Itu telepon dari Yayan, Ufi tahu karena nama itulah yang muncul pertama kali di layar.
"Iya Yan. Kenapa?"
"Saya masih di pabrik. Sebentar lagi paling saya ke kantor. Memangnya kenapa?"
"Apa?" Mata Ufi berpendar, ia menatap laki-laki di sampingnya dengan semringah. "Saya ke sana sekarang!"
Panggilan berhenti, Ufi beranjak. "Pak Karyo, saya ke kantor sekarang, ya. Violla datang."
"Oh iya-iya. Hati-hati."
Ufi langsung berlari, langkahnya tiba-tiba saja senang bercepat-cepat untuk sampai ke tempat tujuan. Dalam benaknya seperti ada satu pintu yang terbuka, dan sangat melegakan rasanya setelah terjebak dalam ruangan yang semua pintunya tertutup.
Seperti ada jalan yang ujungnya belum kelihatan. Begitulah makna Violla sekarang.