13 | Tak Perlu Gula Asal Ada Kamunya

7.5K 517 48
                                        

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan.
------•-------

Spidometer mobil Merchedes-Benz yang Ufi kendarai sudah mencapai titik maksimal batas berkendara di jalanan yang kini tengah terjadi aksi kejar-kejaran antara mobilnya dengan mobil Toyota FD86 yang tadi menabrak Papa di depan kantor Pak Birowo—papa Sisca. Mobil itu dengan lihai melewati mobil-mobil lain yang memenuhi jalan hingga membuat Ufi ketinggalan, tak sadar kini wajah seorang anak yang nyaris kehilangan papanya itu sudah dipenuhi oleh keringat dingin akibat gigi yang ia tekan kuat-kuat.

Ufi mengesah sembari memukul setir kemudi kala lampu merah menyala, sialnya mobil yang ia kejar terus melaju karena tepat sebelum rambu lalu lintas memunculkan warna merah, mobil itu berada jauh di depannya. Jika saja mobil itu juga terjebak lampu merah mungkin Ufi bisa langsung turun sembari membawa kunci inggris di bagasi dan memecahkan kaca mobilnya, atau melakukan apa pun yang membuat amarahnya reda. Ufi mencengkram setir dengan kuat karena tekadnya sungguh bulat untuk menghabisi si pengemudi tadi. Pedal gas ia injak setelah lampu kembali berubah warna.

Matanya menyibak kiri-kanan tapi mobil itu tak juga dalam pandangan, ia yakin belum terlalu jauh meski sekarang sudah sepuluh menit berlalu. Dan dugaannya benar, mobil itu kini tepat berada di sebrang jalan—dua ratus meter di depannya, terparkir di sebuah tempat di mana orang-orang biasa mengobrol santai. Ufi heran kenapa bisa pengendara memarkirkan mobilnya di sana, dugaan Ufi pasti si pengemudi sudah turun dan membiarkan mobilnya tapi ternyata mobil itu juga bergerak pergi. Disaat ia akan mengejar, sebuah bus tiba-tiba melintas dari arah utara hingga membuat pandangan tertutup seluruhnya. Sial! Ufi kalah lagi.

Tepat di seberang kedai kopi, ada sebuah toko yang menyediakan berbagai macam jenis hadiah. Pikiran Ufi membawanya ke sana sembari terus memperhatikan kedai di sisi jalan dekat pertigaan, sengaja ia tak langsung mampir ke kedai karena di sana terlihat cukup sepi dan tak mungkin seorang pelaku berdiam diri di tempat umum yang keadaanya bisa ditemukan kapan saja, kan? Kalau kedai itu ramai bisa saja pelaku berdiam di sana, menghindar dan berkamuflase menjadi orang-orang sok sibuk, toh Ufi tak melihat wajahnya juga, kan?

Mengingat mobil pelaku sudah pergi, Ufi bertanya pada seseorang di toko kado, takutnya kalau ia bertanya ke kedai justru mereka adalah kawanannya. Coba pikirkan, untuk apa pelaku singgah ke kedai kalau bisa bersembunyi di tempat yang lebih aman? Ya karena mereka mempunyai koneksi untuk sembunyi, kalau tidak untuk apa? Well, bisa benar bisa tidak.

Bunyi lonceng di atas pintu timbul kala Ufi mendorongnya, baru saja ia datang karyawan di sana sudah menyambut ceria.

"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya seorang laki-laki bermata sipit.

"Bisa bantu saya carikan hadiah?" Ufi pura-pura karena di depan kasir terlalu banyak orang yang sedang membungkus kado, ia dengan susah mengenyahkan raut murkanya meski tidak sepenuhnya hilang.

Laki-laki itu membawa Ufi ke sisi kanan. Bisa diakui koleksi untuk kado di sana lumayan bagus-bagus dan untungnya di sebelah sana sepi dan mempunyai kaca yang tepat mengarah ke kedai kopi.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang