39 | Basah Wajah

3.6K 284 10
                                        

NOW PLAYING

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

NOW PLAYING

Yoo Hwe Seung - Expectation

00:00 •───────── 05:31
|◁     II     ▷|

-= HAPPY READING =-
[wajib dengerin lagunya]

Separuh malam yang panjang Violla habiskan dengan kekhawatiran yang menjadi momok di kepalanya sendiri kala keyakinan digoyahkan oleh ketakutan-ketakutan yang memupuk cabang takut kehilangan.

Violla berjanji pada dirinya untuk hanya menutup mata tanpa meninggalkan kesadarannya, tapi nyatanya ia kalah juga. Ia kalah dengan lelah di tubuhnya, ia tertidur dengan rasa takut.

Tidak sampai satu jam setelah Ufi mengusap puncak kepala dan membuat tenang, Violla hilang kesadaran. Sebelum benar-benar tertidur, wanita itu merasakan dingin di keningnya tertiup angin, seperti ada yang mengecupnya tapi mata entah kenapa menolak dibuka. Tubuhnya terlalu lemas sampai lelah merengkuh habis tubuh ke dalam dunia mimpi yang sedang menarik pergi.

Matahari pagi memancarkan sinarnya sampai menerobos lubang udara di atas kaca jendela, gorden masih merahasiakan pemiliknya. Sekitar pukul enam lebih empat puluh lima menit Violla membuka mata yang masih terasa sakit-sakit, wajah bantalnya mengukir jelas. Salah satu tangan meraba-raba sesuatu yang malam tadi ada di sampingnya, rabaan itu semakin cepat gerakannya.

Violla membuka mata sekaligus dan ternyata ... Ufi tak ada di sana.

"Fi?" panggilnya sedikit berteriak lalu menggeliat dan menguap. "Apa pindah ke kamarnya, ya?"

Violla mengenyahkan selimut yang semula melekat, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang kusut akibat kejadian malam tadi. Di depan cermin, ia memperhatikan matanya yang sembab lalu berkumur karena busa dari pasta gigi yang belum dibasuh merambat ke mana-mana.

Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi membuat wajah Violla tampak lebih segar meski raut-raut sayu masih saja tergambar. Ia mengikat rambut panjangnya sembari berjalan menuju kamar Ufi yang tertutup rapi.

Pintunya tidak dikunci, Violla tahu itu saat gagang alumunium ia pegang. Ragu-ragu ia masuk karena takut-takut Ufi tengah melakukan sesuatu di dalam, degan segenap rasa penasaran Violla membuka pintu lebar-lebar dan ternyata ....

hanya ruangan rapi tak bercela.

Ufi tidak ada di sana.

"Fi? Ufi?"

Rasa cemas semalam kembali dan ketakutan yang ia rasakan datang lagi, padahal sempat berkurang ketika Ufi mengecupnya malam tadi. Violla tak lagi memedulikan langkahnya yang semakin cepat menuruni undukan anak tangga, dadanya berdebar kencang karena takut hal yang tidak ia inginkan terjadi.

"Kamu di mana, Fi?"

Violla ingin menangis sekarang, di dapur tak juga ia temukan keberadaan sang pujaan hati. Di halaman belakang juga sama hasilnya, tak ada siapa-siapa kecuali rumput-rumput dan beberapa pakaian yang belum diangkat.

Akhirnya tangisan itu jatuh juga, Violla usap dengan tangan sebari berlari ke beranda rumah, tapi ia hanya menemukan Kimi yang tengah duduk di salah satu kursi. Gerbang terlihat tertutup dari kejauhan, tapi saat Violla memastikan ternyata tidak dikunci.

Rasa takut kini membuat lubang di tiap-tiap dinding perasaan seperti akan berkembang biak dan siap menghancurkan ketegaran-ketegaran yang sempat dikumpulkan. Violla melihat garasi masih tertutup dan ternyata tidak dikunci, mobil Ufi masih di sana terparkir rapi seperti biasanya. Namun, Violla tak juga menemukan di mana pemiliknya.

"Fi, kamu di mana?"

Violla kembali kacau, ia meremas rambutnya sembari air mata berjatuhan di kedua matanya. Ia kembali berlari menuju lantai dua, kali saja pria itu ada di perusahaan karena urusan mendadak meski hatinya tak percaya hal itu sepenuhnya.

Sungguh, ditinggalkan tak pernah menyenangkan. Violla tak ingin spekulasi tentang dugaannya terwujud, jika apa yang ia kira benar-benar terjadi ternyata Tuhan tidak pernah mau Violla bahagia. Tidak adil rasanya saat banyak ancaman yang menyudutkan kini harus rasa kehilangan yang diberikan.

Cepat-cepat ia mencari ponsel, ia menghamburkan seluruh isi tas tak peduli ada barang apa di dalamnya dan mengambil benda pipih dengan keadaan kacau balau. Tangisnya tak henti-henti dan ponselnya tak mendapatkan jawaban.

"Fi, jawab ... jawab, please!" Rasanya seperti dicekik amarah yang terpendam dalam-dalam. Hampir tak terdengar dan sangat memperihatinkan. Ini sudah telepon yang ke lima kalinya dan hasilnya tetap sama, ponsel Ufi hilang kesadaran.

Violla menjambak rambutmya sendiri, kemudian berjongkok tak tahu harus apa lagi. Seperti mendapat wangsit, ia menarik napas panjang meski sebenarnya tak tenang. Dia menelepon Yayan yang kini sedang berada dalam panggilan lain. Violla tak menyerah sampai di sana, ia terus melakukan hal itu berkali-kali sampai di percobaan ketiga mendapat kepastian.

"Ufi di mana?!" todongnya kala Yayan mengangkat telepon. "Cepetan bilang, Yan!"

"Mbak, tolong tenang dulu."

"Tolong katakan, Yan! Dia ada di sana, kan?"

"Di sini? Pak Fikar tidak ada di sini, Mbak."

Seketika semua harapan-harapan yang masih bisa menolongnya lenyap tak berbentuk bahkan lebih kecil dari partikel-partikel air. "You're lying!! Dia di sana, kan? Tolong bilang ke Ufi kenapa dia nggak membuatkan sarapan? Kumohon, Yan!"

Air mata membuncah berhamburan, Violla tak sanggup lagi bicara tapi ia tetap menunggu jawaban Ufi di sana.

"Mbak, Pak Fikar tidak ada di sini."

Violla menutup mulutnya tak percaya. Ponsel yang menempel di telinga seketika terjatuh bersamaan dengan dirinya yang menjatuhkan diri ke lantai, perasaaanya lebih hancur dari pada ponsel yang terbentur. Ia menangis sampai rasanya pusing. Ia menenggelamkan wajahnya di balik lutut yang ditekuk dipeluk kedua tangannya sendiri.

Fi, where are you? Aku di sini nyari kamu. Violla membatin dengan isakan yang semakin lama semakin jelas suaranya.

Siapapun pasti merasa kehilangan saat seseorang yang selalu ada di sampingnya, selalu menjaganya lebih dari menjaga dirinya sendiri lalu tak ada dalam sekejap mata. Violla tak habis pikir dengan rencana semesta yang semena-mena, seharusnya ia tak percaya perkataan Ufi kemarin.

Seharusnya ia tetap terjaga saat ia yakini ada yang aneh dengan Ufi, seharusnya ia tak mudah menjatuhkan kepercayaan hanya karena orang yang dicemaskan berkata baik-baik saja.

Seharusnya, Violla tahu kalau Ufi menyembunyikan sesuatu.

Brang!!

Violla menghempaskan semua benda yang ada di atas nakas, gelas kaca yang berisi air itu sudah hancur seperti perasaannya. Tumpukan buku yang menghiasi salah satu dinding juga sudah tak beraturan lagi susunannya, Violla menjatuhkan semua itu seperti hilang kendali dan hilang kesadaran.

Tepat saat akan menghampiri meja rias, langkah Violla berhenti. Ada rasa sakit lain di bawah sana, meski tidak seberapa tapi cairan merah keluar perlahan. Tenyata kakinya terluka, serpihan kaca tak sengaja ia injak sampai telapak kakinya robek.

Violla mendengkus. Robek? Batinnya lalu kembali tersungkur meratapi kehilangan yang ia dapatkan.

Sakit.

-= Memorable Night =-

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang