02 | Take Me Home

21.7K 1K 144
                                        

[Dia Violla Sanjaya]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Dia Violla Sanjaya]

-=•=-

* Jika ada kesalahan dalam penulisanbahasa asing, mohon dikoreksi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* Jika ada kesalahan dalam penulisan
bahasa asing, mohon dikoreksi.
-------•-------

Ramai tapi sunyi, diperhatikan tapi sendirian, disaksikan tapi harus berpura-pura buta dengan keadaan, bukan lagi hal aneh yang baru ditemukan.

Bergaya di depan kamera dengan lampu yang menyorot ke arahnya sudah sangat fasih Violla lakukan. Hampir setiap hari ia menjalani pemotretan, entah itu di dalam studio atau di outdoor. Wanita berambut layer itu selalu tersenyum bahagia di depan kamera, berbeda dengan saat kamera sudah tak lagi memotretnya.

Menjadi seorang model selama lima tahun terakhir cukup membuatnya bosan, bahkan di usianya yang sekarang menginjak angka dua puluh enam tahun kadang Violla masih bersikap kekanak-kanakan, beruntung ada seseorang yang selalu membantunya. Meski begitu bukan berarti ia tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, perjuangannya sendiri begitu rumit untuk bisa lolos menjadi model dari salah satu agensi yang kini menaunginya.

"Oke cukup," ucap seorang laki-laki yang memang bertanggung jawab atas jalannya proses photoshoot dengan kedua jempol di udara. "Violla thanks, ya. Iklannya nanti bakal keren banget pasti."

Violla tersenyum seperti biasanya. Ia hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. Iklan yang kali ini dibintangi adalah project pertamanya dalam dunia televisi. "Om, aku pulang sekarang, ya. Ada janji soalnya."

Om Beno menunjukan ekspresi kecewa. "Why so hurry? Makan malam bareng dulu aja, gimana?"

"Gak bisa, Om, sorry. Aku harus ketemu Robin."

Akhirnya Om Beno mengiyakan dan memberi Violla semangat agar urusannya lancar. "Good luck!"

Setelah Om Beno pergi, barulah Violla mencari-cari di mana asistennya yang tidak kelihatan sejak tadi. Matanya menyapu seluruh ruangan, tapi Clara tak juga ia temukan. Violla mengambil mantel karena Jakarta malam ini cukup dingin untuknya yang hanya mengenakan pakaian terbuka di bagian lengan. Tak berlangsung lama, ia melihat Clara masuk ruangan dengan sedikit percakapan di telepon yang saat itu juga berakhir.

Memorable Night #N1 ( LENGKAP )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang