02 | Perselisihan.

5.6K 254 12
                                        

Aku bukan dia, bukan pula mereka,
Tapi ini aku. Aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku.
Aku bisa menjadi mereka, tapi tak bisa untuk menyamakan setiap kelebihannya.
Tolong lihat aku, sebagai aku. Bukan sebagai orang lain, tapi sebagai aku.
Jangan menutup mata, karena kamu takan melihat keistimewahaanku.
Tolong jangan menutup telinga, karena kalian tidak akan mendengar hal baik tentang aku.
Tatap aku sebagai aku, maka kalian akan mengerti setiap rasa yang terpendam dapat tersampaikan tanpa aku berkata.

➖Dari Aku, dan tentang Aku.
IchaRa.

~o0o~

"Gue bakal kesana sekarang." kata seseorang di sebrang sana dengan suara tenang.

"Gue ikut." Thabina menjawab dengan nada tegas, tidak boleh di bantah.

"Jangan telat, Pamela udah Otw."

"Oke."

Thabina mematikan sambungan sepihak. Tubuhnya dengan tergesa bangkit dari ranjang, mengambil jaket kulit hitam serta rambut yang sudah diikat satu.

Tangannya memasukan ponsel dan kunci motor ke dalam saku jaketnya. Berjalan tergesa, menuju keluar rumah. Menghiraukan sekerumpulan keluarga yang tengah berkumpul bersama di ruang keluarga tanpanya.

Thabina membuka knop pintu, namun sebelum pintu itu terbuka. Tangan seseorang dengan cepat menutup pintu kembali dengan gerakan cepat.

Thabina melirik dengan sinis, berniat tak perduli kembali membuka pintu, namun pintu itu ditahan dengan tubuh orang yang menghalangi jalan Thabina.

Thabina menghela napas malas. "Minggir."

Gadis itu hanya tersenyum tipis. "Mau kemana kak? Udah malem."

"Bukan urusan lo!" kata Thabina dengan nada suara dingin. "Minggir!"

Namun, gadis itu tidak berpindah dari tempatnya. Dia masih dengan santai menyandarkan punggungnya tanpa rasa bersalah.

Tangan Thabina mengepal, dengan gerakan reflek tangan kanan Thabina menarik Thalita--adik Thabina--yang menghalanginya. Hampir saja tubuh tak siap Thalita mencium lantai, jika papanya tidak menahan.

"Thabina, dia adik kamu. Bisa gak sih lembut sedikit." Aditama, papa Thabina berkata dengan suara tegas.

"Aku anak tunggal." ujar Thabina tajam, sambil menatap Adi dalam.

"Thabina." Adi mengeraskan rahangnya.

Thalita menggelengkan kepala. "Aku gak papa kok, pa."

Thabina berdecih atas drama picisan yang baru saja terjadi. Dirinya membalikan tubuhnya berniat melanjutkan tujuan awalnya, pergi dari rumah.

🌻🌻🌻

Udara kian mencekam, dingin angin malam ia hiraukan. Malam yang semakin larut, membuat jalanan begitu lenggang. Minimnya aktifitas membuat jalanan digunakan sebagai arena balap liar.

Matanya memandang spion di dekat kemudi, kakinya meninjak gas dengan kecepatan tinggi. Sorakan dari berbagai sisi orang itu hiraukan, terburu dengan waktu yang semakin memburu.

Senyum simar tercipta saat garis finish mulai terlewati. Tangannya memukul stir dengan semangat. Orang itu keluar dari mobil sport berwarna hitam, hampir tak terlihat karena tenggelam dengan keheningan malam.

Gadis itu menyisir rambutnya kebelakang, menghampiri sebuah mobil yang terparkir tepat di belakangnya.

"Mana kuncinya." ujar gadis itu dengan senyum menyeringai.

GENESIS [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang