Chapter 35

213 25 2
                                    


Mari-mari ikut meramaikan yang belum ramai ini..

Hehehee.....

Maaf kalau ada typo ya. Mohon di mengerti, ngetik cuma pake hp. 😂



_____________________

Berkat kemampuan centil seorang Nadia disinilah mereka berada. Angel, Nadia dan Sesil bergabung di meja yang selalu diduduki teman-teman Ardian. Dan hal ini juga sudah di rencanakan matang-matang Angel dan Nadia sementara Sesil mengikut saja.

"Bagas, lo udah selesai baca komik gue kan kok belum lo balikin." tagih Nadia yang duduk tepat di sebelah Dhika. Dia menatap Bagas yang ada di depannya.

"Lupa mulu Nad, lo kalo kerumah langsung ambil aja di kamar kalo gue lupa mulu ngasihnya." balas Bagas.

"Ogah, kamar lo banyak stiker dewasa. Mual gue masuk sona." ucap Nadia sembarangan yang membuat Bagas mengangkat kepala meloto dan ingin membekap mulut sepupu cerewetnya itu.

"Huss, fitnah banget si lo bocah."

"Beneran kamar Bagas banyak stiker gituan?" tanya Chaka yang menanggapi serius.

"Bohong, jangan percaya omongan ni bocah. Musyrik lo entar." Bagas ingin membela dirinya kalau yang di sampaikan Nadia itu hanya kebohongan.

"Gue percaya sama Nadia." Angel mengangguk menyetujui.

Bagas menggeleng kearah Angel. "Wah Angel udah kena virus Nadia, lo kalo percaya omongan dia gelap hidup lo Angel. Sesat ni sepupu gue." Bagas menunjuk-nunjuk Nadia yang asik saja minum jus jeruknya tanpa peduli.

"Pantes aja kalo gue mau masuk kamar lo selalu lo larang." kini Elang yang ikut menambahi.

"Ini lagi kampret pake nambahin lagi." kesal Bagas menatap Elang sementara Elang hanya menyengir gila. Padahal dia sering masuk ke kamar Bagas, sering tiduran bahkan nginap disana. Dan yang dikatakan Nadia memang benar kalau kamar Bagas banyak stikernya tapi bukan stiker dewasa melainkan stiker anime atau gambarnya sendiri yang dia pajang, karena Bagas hoby sekali menggambar.

"Mau gue tambahin juga gak?" tanya Dhika ikut menyengir gila seperti Elang.

"Gue juga bisa ikutan nambahin." Ardian yang kali ini menambahkan. Pria itu tidak tersenyum gila seperti temannya tapi tatapan datar Ardian lebih menakutkan. Isi otak Ardian saat mengarang cerita tuduhan lebih bahaya daripada otak gesrek Chaka.

"Gara-gara elo sih Nad, gue jadi sasaran tuduhan." Bagas menatap kesal Nadia yang membalas memeletkan lidah.

Tak lama mereka semua diam saat menikmati makanan mereka. Bagas yang sudah hilang selera makannya menatap Sesil yang sedari tadi diam sambil meminum jus alpukatnya.

"Lo nggak makan?" tanya Bagas pada Sesil yang memang duduk di sebelahnya.

"Nggak, ini udah cukup." Sesil mengangkat singkat minuman Alpukatnya.

Bagas mengangguk saja dan sesekali menatapi wajah Sesil dari samping. Lucu.

Sementara Nadia yang menyadari tujuan awalnya bergabung kemeja ini menatap ke Angel yang duduk di sebelah Ardian. Angel memakan baksonya dengan tenang sama Ardian juga makan dengan tenang. Melihat itu Nadia memutar bola matanya, Angel ini bodoh atau bego sih, harusnya kesempatan begini dia manfaatkan ngapain malah diam begitu.

Gemas melihat itu Nadia menendang kaki Angel dan saat Angel menatapnya Nadia memberi kode Agar menjalankan aksinya.
Angel mengerti maksud Nadia, menoleh melihat Ardian yang makan dengan lahap Angel menelan salivanya susah payah. Apa yang harus di lakukannya, semua rencananya seperti menghilang karena ini di depan teman-teman Ardian. Tapi Angel harus melakukan sesuatu. Melihat dahi Ardian penuh dengan keringat Angel pun berinidiatif mengambil tisu.

Guardian and Angel (story love school)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang