Setelah cukup lama tertidur Ardian membuka matanya, namun pria itu tidak bergerak sama sekali, hanya matanya yang terbuka dengan buku diatas wajahnya.
Saat ini Ardian terbaring di kursi panjang perpustakaan yang terletak paling sudut. Sedari tadi Ardian terbaring disana, sama sekali tidak ada yang menyadari atau melihat keberadaan pria itu.
Hari ini seluruh kelas dua belas sudah mulai latihan mengerjakan lembar ujian, dan Ardian setelah selesai mengerjakan lembar soalnya memilih ke perpustakaan untuk melihat beberapa buku yang diperlukannya. Sampai akhirnya pria itu memilih satu buku tebal dan membacanya.
Karena kantuk Ardian membaringkan dirinya di kursi panjang dan memilih tertidur. Tidur Ardian teramat nyenyak karena ketenangan dalam perpustakaan, tak sama jika tidur dikelasnya. Kelasnya sudah seperti pasar ikan mencari pembeli.
Ardian mengerjap beberapa kali di balik buku yang masih berada diatas wajahnya.
"Gila ni cowok masa nolak ceweknya mulu. Nggak kasian apa liat ceweknya udah berkorban banyak."
Ardian mengerutkan alis mendengar suara itu. Suara gadis yang sangat dikenalinya.
"Ngeselin!"
"Diembet sama cowok lain baru tau rasa loh."
Ardian diam saja mendengar Angel yang terus saja mengomel pelan. Gadis yang didengar suaranya barusan adalah Angel, Ardian sangat kenal dengan suara Angel.
Entah apa yang di omeli gadis itu. Tapi tebakan Ardian, gadis itu sedang membaca novel yang memancing amarahnya.
Ardian mulai tersenyum tipis mendengar omelan tak jelas Angel. Angel terlalu ekspresif membaca bukunya.
"Eh malah dibuat nangis ceweknya. Emeng nggak punya hati ni orang."
"Lo juga manja banget dah, jangan tangisin dong, kuat kek, kayak gue dong kuat terus ngejer Ardian, suka Ardian."
Perlahan senyum tipis Ardian meluntur mendengar kalimat Angel. Ardian masih tetap mendengarkan namun pikirannya seolah menariknya.
"Lo yang sabar yah, nasib kita sama kok. Kita sama-sama lagi suka sama orang yang nganggap kita berbeda dengan apa yang kita mau."
"Gue bacanya sampe sini dulu yah, akhir kisah lo bahagia, tapi gue belum mau tau gimana cara bahagia lo."
"Semoga akhir cerita gue bisa bahagia kayak lo yah. Meski cara bahagia kita pasti berbeda, gue yakin apapun akhirnya gue juga pasti akan bahagia."
Tringgggg
Bel berbunyi, Ardian tak lagi mendengar suara Angel,sepertinya cewek itu sudah pergi. Membangunkan dirinya, Ardian menatap meja dan buku dihadapannya. Buku yang dibaca Angel barusan sampai membuat gadis itu memaki tak jelas.
Ardian mengambil buku itu dan melihat sampulnya. Hanya novel remaja dengan sampul berwarna pink muda.
Ardian lalu berdiri meninggalkan meja, dengan buku bersampul pink muda itu di genggamannya.
Ardian masih terus mengingat saat berada di perpustakaan siang tadi. Memandangi sebuah buku diatas nakas, Ardian menghela nafas berat.
Entak kenapa dirinya meminjam buku itu di perpustakaan tadi.
******
Akhirnya pagar rumah Angel sudah terlihat, tapi tunggu dulu ada yang aneh. Mobil hitam terparkir di depan rumah Angel, mobil itu? Milik Ardian.
Setelah sampai didepan gerbang Angel dapat melihat Ardian menatapnya di depan mobilnya. Lebih tepatnya Ardian menatap pria yang tak asing di samping Angel. Mario. Sementara Mario menatap Ardian dengan tatapan santai namun terkesan meremehkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Guardian and Angel (story love school)
Teen Fiction-FOLLOW SEBELUM BACA 💙- GUARDIAN dan ANGEL adalah dua orang yang telah menjalin persahabatan dari kecil umur yang hanya selisi satu tahun membuad Guardian merasa harus menjaga Angel karena tanggung jawabnya. Menganggap Angel sebagai adik sudah lebi...