chapter; 61 (as an epilog)

188 16 84
                                        

***note: i suggest you to read this chapter with listen to this beautiful song :)))
**use headphones/earphones and 100% volume for the better feel :))
*i have two versions of 18 here, you can choose the original version or piano version :)
[18 - one direction]

~~~~~

London. April, 2019.

Kanaya Ariessa Aprilla. Perempuan itu berjalan anggun dengan tangan kanan melingkar di lengan adik laki-lakinya yang mengantarnya menuju altar. Tangan kirinya memegang sebuah buket bunga edelweiss yang melambangkan keabadian cinta. Semua mata memandangnya takjub terpesona akan kecantikan yang terpancar alami dari dirinya. Gaun elegan berwarna putih yang membalut tubuh mungilnya menambah kecantikan dirinya.

Naya tersenyum dari balik veil pengantin saat melihat seorang pria yang sudah berada di altar sedang dirapikan dasinya oleh salah seorang sahabatnya yang bernama Liam. Sudah tujuh tahun, tapi pria itu masih tidak bisa berkutat dengan dasinya sendiri. Membuat Naya terkekeh pelan melihatnya.

"He looks so handsome, isn't he?" bisik Danish, adik laki-laki Naya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"He looks so handsome, isn't he?" bisik Danish, adik laki-laki Naya. Tapi perempuan itu enggan menjawabnya. Ia berusaha tetap fokus berjalan karena pertanyaan Danish hanya akan membuatnya salah tingkah.

Detik selanjutnya, setelah pria itu selesai dengan dasinya, ia menghadapkan diri ke arah Naya. Memasang senyum paling bahagia seumur hidupnya. Melihat perempuan yang selama ini ia perjuangkan sedang menatapnya malu-malu dari balik veil transparan yang dipasang dengan tiara di kepalanya.

what if...?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang