chapter; 60

129 14 80
                                        

hey hey hey!

sebelumnya, gue mau ngucapin selamat ulang tahun dulu ke abang Tommo tersayang hueee ganyangka 29 taun tjuiii :"))))

doa dr ak, semoga cepet nepatin 'promise' nya eaaaa😂✌

oke, langsung aja jan lupa vomments okkk😜💗

enjoy this chapter! luv, Nx







⚠️ – little bit of fighting & body touch.
Please, read at your own risk!!








~~~~~

-Naya's pov-

Hari menjelang malam. Matahari sudah hampir tenggelam sempurna di ufuk barat. Cahaya jingga bergradasi dengan biru tua terlihat sangat memanjakan mataku. Aku mengambil buku gambar dan krayon milik Olivia lalu menggoreskan warna yang ku lihat di langit ke dalam sebuah kertas. Aku tidak bakat melukis, hanya saja kali ini sayang rasanya kalau tidak mencoba untuk mengabadikan pemandangan indah ini.

Tanganku bergerak lincah memadukan warna-warna krayon. Sampai suara berat seorang pria mendistract kegiatanku ini.

"Aku tidak tahu kau bisa melukis,"

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pria itu. Tapi rasanya munafik kalau aku menghindari untuk berkontak langsung dengannya. Hampir sebulan tidak melakukan komunikasi. Aku hampir gila karena perasaan bersalah yang menggelayut setelah kejadian malam itu. Malam dimana aku mengatakan sebuah hal fatal yang membuat aku dan pria itu memiliki jarak untuk yang kesekian kalinya.

"Ya aku memang tidak bisa melukis Niall. Tapi lihatlah senjanya, sangat indah.." ku rasakan Niall mengambil tempat di sebelahku. Memperhatikan setiap detail pergerakan tanganku.

"Senja itu indah, tapi tidak akan bertahan selamanya Nay,"

"Aku tahu. Makanya aku sedang melukisnya supaya aku tetap bisa melihatnya abadi meskipun hanya dari atas kertas,"

Ku dengar kekehan Niall yang renyah bersamaan dengan kunyahan kentang goreng McD di mulutnya. Astaga, ia tidak pernah berubah walaupun ini tahun keenam aku mengenalnya. He such a food lover.

"Hadirmu bagaikan senja, menenangkan meski hanya sesaat."

Tanganku berhenti dari kegiatannya. Hatiku mencelos begitu mendengar kalimat dari mulut Niall. Nafasku tidak beraturan sesaat.

"Maaf," hanya satu kata yang mampu terucap dari mulutku.

"Aku mengatakan itu bukan untuk membuatmu meminta maaf padaku."

"Niall, maafkan aku.." air mataku tumpah begitu saja. Astaga aku cengeng sekali.

Niall menarikku masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tidak ingin naif, aku memeluknya erat. Berusaha menebus rasa rinduku padanya.

"Shh don't cry Naya. Kau tidak lelahkah menangis melulu dua bulan terakhir ini?" Niall berusaha menenangkanku yang semakin terisak. Membelai kepalaku lembut dan sedikit merapikan helaian rambut yang terbang terhempas angin sore.

"Kalau tahu pada akhirnya aku hanya akan menghancurkan persahabatan kita seperti ini, aku tidak akan pernah mengatakan hal bodoh itu Niall. I'm such a fool, maafkan aku karena kembali membuat jarak di antara kita,"

what if...?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang