chapter; 44

99 15 26
                                        

happy saturday!🌞

don't forget to give me vomments! xixixi

enjoy reading^^

luv, N💗





⚠️ – harsh words, fighting & little bit of self harm.
Please, read at your own risk!!





~~~~~

"Dimana Naya?!!" teriakan Harry menggelegar ke seluruh ruangan basecamp. Ia segera berlari menuju kamar Naya di lantai dua.

Keempat sahabatnya yang sudah sampai di basecamp lebih dulu berusaha menahan Harry yang sudah dalam kondisi tidak karuan sejak ia kepergok oleh Naya sedang membicarakan soal fake datingnya dengan Kendall di gedung pers.

"Harry calm down," Liam mencegah Harry yang memberontak kuat akibat dekapan Zayn.

Namun dengan kasar Harry melepas dekapan Zayn dan mulai menggedor-gedor kamar Naya. Ia tahu Naya sedang berada di kamarnya sekarang. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan Naya di gedung pers tadi karena asisten Mr. Claffin datang dan membuatnya harus menyelesaikan urusannya dengan Kendall terlebih dahulu.

"Ia tidak keluar kamar sejak ia sampai basecamp beberapa jam yang lalu Harry. Ia tidak merespon kita berempat. Yang kita dengar hanyalah suara tangis dan isakannya yang menjadi-jadi," ucap Louis sambil terus mengusap bahu Harry untuk memberikan sedikit rasa tenang.

Penjelasan Louis malah membuat rasa bersalah Harry semakin memuncak. Harry semakin menyalahkan dirinya karena kebodohan yang sudah ia lakukan.

"Naya open the door please!!" teriak Harry keras diikuti dengan gedoran yang sangat kuat.

Zayn, Liam, Louis, dan Niall menatap Harry sendu. Mereka semua mengelilingi Harry dan terus berusaha menenangkan pria malang itu.

"Ku mohon Naya, dengarkan penjelasanku dulu.."

"Get off!! You're full of shits!!" balas Naya kasar. Terdengar suara isakan tangis Naya dan gemuruh langkah kaki dari kamar gadis itu.

"Naya aku tahu aku pria yang brengsek tapi tolong kau harus percaya kalau aku benar-benar mencintaimu!!" Harry menyandarkan kepalanya di pintu kamar Naya. Ia masih berusaha untuk membujuk Naya untuk membuka pintunya.

"Bullshit Harry, bullshit!!" ucap Naya sambil menendang kencang pintu kamarnya dari dalam. Ia sedang dalam keadaan kecewa dan marah yang menjadi satu.

Semua yang berada di depan kamar Naya terdiam setelah suara tendangan terdengar. Sedangkan di dalam kamar, Naya duduk bersandar di tepian ranjang sambil memeluk erat buku diary directionnya. Dengan posisi seperti itu, ia bisa melihat bayangan The Boys dari garis lubang bawah pintu.

Nafasnya benar-benar tidak beraturan. Entah sudah berapa banyak inhaler yang ia habiskan dalam beberapa jam terakhir. Puncaknya sesaat setelah ia selesai bertelefon dengan Mr. Claffin.

"Maafkan aku Naya. Tapi apa yang kau dengar dari mulut Harry dan Kendall benar adanya. Kami benar-benar minta maaf karena menjadikanmu asisten One Direction dan memaksa Harry untuk memacarimu untuk menaikan rating film dokumenter mereka. One Direction butuh perhatian lebih dari publik saat perilisan film. Dengan Harry memacarimu itu bisa membuat publik semakin penasaran dengan 1D karena ada sebuah highlight an idol is dating her assistant who basically is his fan."

what if...?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang