I'm Fine
Acara bakar-bakar mereka berlanjut dengan aman, tanpa bahan makanan yang kurang atau bumbu yang kurang (sebagaimana episode Idul Adha kemarin). Juni yang biasa teledor, kali ini otaknya benar-benar dipakai dengan baik. Nggak ada bahan yang kurang tapi malah kelebihan beli. Jangan ditanya apa harus nombok, jelas iya lah.
Juni cuma bisa mendelik liat mie instan yang tiba-tiba udah masuk di keranjang, juga perkiraan harga yang nggak terduga dari frozen food yang mereka ambil. Awalnya Bobby hendak mengcover dana tambahan itu, tapi dengan rasa setia kawan yang masih tersisa, Juni ikut menyodorkan selembar uang berwarna biru.
Belanjaan mereka yang diperkirakan hanya sekantong, tiba-tiba beranak menjadi 3 kantong. Ya apalagi kalo bukan karena snack sama minuman bersoda yang Bobby ambil. Bersyukur mereka aman dari amukan Yoyo, macam Idul Adha lalu.
Sekarang mereka anteng-anteng nusukin sosis, bakso, otak-otak, dan nuget. Yoyo sibuk sama bumbu oles, dibantu sama bacotannya Johan. Di luar, Chandra sama Bobby nyiapin arang.
"Udah si, digoreng aja. Atau pake fryingpan kan bisa," Johan ngotot.
"Namanya mo bakar-bakar, ya berarti dibakar lah Johan Gemilang Buana." jawab Yoyo.
"Ya tapi kan lebih enak digoreng Yoyo! Dibakar tu repot. Ini gue udah mandi, udah wangi, masa bau asep lagi."
"Ya nanti mandi lagi lah," balas Yoyo.
"Jadi dibakar apa digoreng nih?" celetuk Ezra yang lesehan di lantai ruang tamu sekaligus ruang tengah kontrakan.
Chandra melongokkan kepalanya dari pintu depan, "Wah kalo jadinya digoreng, gue siksa lo pada pake areng panas!"
Johan yang bergidik ngeri pun diam dan matanya beralih ke segala arah kecuali ke arah Chandra yang mendelik. Ia pun melenggang masuk ke toilet.
Juni dan Ezra menahan tawa melihat betapa takutnya Johan atas ancaman Chandra.
"Hello everibadeeehhhh!" teriak June yang baru turun dari motor dan mengangkat dua kresek hitam yang nampak berat.
"Apaan tuh?" tanya Juni.
"Amunisi boskuu," jawab June.
"Astagfirullah maksiat terus," sahut Ezra sambil geleng-geleng.
"Halah lo juga mau tar juga," sahut Johan yang muncul dari balik toilet.
"Maksudnya nggak boleh kalo sering-sering," lanjut Ezra kalem.
"Bicit lo Zra!" teriak Juni.
Semuanya udah siap, hasil bakar-bakaran mereka sudah tertata rapi di karpet ruang tamu kontrakan. Mereka semua sudah duduk rapi melingkar. Jangan lupa beberapa bungkusan plastik berisi botol-botol kaca.
Bobby baru saja masuk setelah mematikan arang di depan kontrakan. Segera saja ia mengambil duduk di samping Juni, yang langusung ditolak Juni.
"Minggir lo bau asep!"
Juni mendorong Bobby supaya menjauh, sedangkan yang didorong-dorong malah tak bergeming.
"Tu kan gue bilang juga apa, mending digoreng aja," sahut Johan.
"Lo bacot lagi, gue tusuk ya!" ancam Yoyo sambil menodongkan tusukan bekas bakso. Sementara Bobby masih sibuk menggoda Juni. Dia nempel-nempel juga ndusel-ndusel ke Juni, sedangkan Juni mendorong Bobby jauh-jauh.
"Halah ntar juga nempel-nempel kok sok banget si lo!" cibir June.
Nggak perlu menunggu lama, sate-satean mereka sudah ludes termasuk yang gosong-gosong, karena kerjaan Junedi Ahmad yang ngipasnya kekencengan. Padahal hari masih belum berganti, dan masih pukul 10 malam.
Jay sebagai tetua sekaligus bandar pun mulai membuka acara nyemil dan minum-minum. Pukul 12 tepat, mereka mulai tipsy dan mengabaikan suara ledakan petasan yang ada dimana-mana. Omongan Chandra dan Johan sekarang makin ngelantur, June mulai sesi karaoke, Ezra sibuk dengan pikirannya, Yoyo yang paling waras pun memilih beres-beres.
Juni? Tepat seperti kata June, Juni nyender di pundak kiri Bobby. Matanya setengah merem, antara ngantuk dan tipsy. Bobby yang disandari tenang-tenang saja dan sibuk ngobrol dengan Jay yang makin cerewet. Tangan kiri Bobby melingkar di pinggang Juni, menahan agar Juni tidak oleng dan ambruk.
"Minum lagi Jun," tawar June dan Juni mengambil gelas yang baru saja diisi oleh June. "Gue tau lo kuat minum kan? Satu fakultas dah tau semua." lanjut June.
Belum sempat Juni menenggaknya, Bobby berucap pelan "Udah aja minumnya, lo udah mabok." Bobby hendak mengambil gelas Juni, tapi lebih cepat Juni yang dalam sekali libas meminum habis separuh isi gelas.
"Gue cari angin bentar," ucap Juni sambil berdiri dan berjalan keluar.
"Kemana?" tanya Bobby yang langsung mengikuti Juni.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Bobby, Juni dan Jogja
FanfictionJogja menjadi istimewa buat kamu yang memiliki keeratan kenangan di sana. "Semanis apapun kenanganmu jangan minum teh botol, karena akan tetap pahit jika hanya mampu kau kenang," -Bobby. [potongan kisah-kisah tolol antara Bobby dan Juni di Jogja]
