"Jun."
"Apa?"
"Selo?"
"Mayan. Tumben nelpon."
"Keliling yu"
"Mager. Adem."
Jogja mulai sering terguyur hujan setelah adzan magrib. Bagi orang-orang berpasangan alias berpacar, itu pasti menganggu kegiatan apel dan kencan mereka. Namun bagi Juni, itu waktu yang pas untuk menikmati secangkir milo hangat plus buku novel hasil beli diskon di togamas. Oh ya, jangan lupa selimut biru kesayangannya.
Sayangnya, waktu me time-nya nggak-mungkin-nggak terganggu oleh kawan bangsatnya satu itu. Liat aja, baru ditinggal bentar udah nelpon aja dianya.
"Ya pake jaket lah biar anget."
"Gah. Tep adem."
"Ayolaahhh Juunn," rengek Bobby di ujung telepon.
"Males Bob."
"Mampir Alfamart deh."
"Oke."
"Yes!"
Mungkin Juni setengah gila karena mengiyakan ajakan -paksaan- Bobby untuk jalan-jalan malam setelah hujan reda, yang mana udara sisa hujan bercampur udara malam jelas dingin bukan main.
Juni dengan jaketnya kini berdiri di depan gerbang kosnya dengan Bobby yang nagkring di atas Ovan sambil nyengir senang. Juni dengan muka bantalnya memilih nggak peduli dan memakai helm.
Tangan Bobby terulur menaikkan ritsleting jaket Juni hingga ujung atas. Lalu berlanjut mengaitkan kaitan helm Juni.
"Biar gak dingin."
"Biar gak dingin tu ya tidur slimutan di kamar, bukannya dibawa keliling," cibir Juni yang naik ke jok belakang Ovan. Yang dicibir sibuk cengengesan.
Hampir saja Juni badmood dan mendiamkan Bobby sepanjang jalan, coba saja jika Bobby tak memilih lewat fly over UKDW dan menarik tangan Juni agar masuk ke saku jaketnya, mungkin Bobby sudah diblok dari kehidupan Juni selama 3 hari mendatang.
Lampu temaram jalanan di aspal yang sedikit basah karena sisa hujan sesorean sedikit banyak menghibur Juni. Meski tak nampak bintang karena awan-awan sedang sibuk memantulkan lampu kota, Juni sedikit banyak menikmati jalan malam waktu itu.
"Dingin banget?"
"Enggak."
Padahal kaki Juni agak bergetar diterpa udara dingin.
Dengan tangan kirinya, Bobby mengeratkan pelukan Juni padanya. Tangannya juga mengelus-elus tangan Juni yang sudah masuk di saku jaketnya. Juni mencari fokus lain.
Mereka melewati wilayah Jogja Kota, lagi. Sebenernya Juni suka dengan wilayah Jogja Kota. Entah kenapa tiap lewat Balkot dan sekitarnya, ia merasa disambut dengan ramah oleh jalananya yang diapit dengan pohon-pohon rindang.
"Kok diem?"
Juni masih diam. Ia menengok ke arah timur, atau seberang jalan. Seorang pria paruh baya dengan jaket necis berdiri di gerbang gedung Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Juni menemukan fokus baru.
"Ngantuk?"
"Enggak."
Senyap sesaat. Ovan melenggang lurus ke arah utara.
"Cuma mikir, gimana kalo bapak-bapak tadi sebenernya mau transaksi illegal dan lagi nungguin temen atau clientnya."
"Hah?"
"Ya bisa aja kan? Dia sengaja gitu biar gampang ketemunya."
"Ngantuk ya? Makanya ngaco... Adaw! Sakit wey!" teriak Bobby. Pasalnya, Juni baru saja memukul helm Bobby dengan sekuat tenaga dan membuat empunya kesakitan.
"Emang ya, nggak bisa diajak kerjasama bikin novel thriller ya gini," sungut Juni.
"Lah gue anak musik, malah lo ajak bikin novel thriller."
"Ya masa lo song writer ga pake imajinasi sih?"
"Ehehehehe"
tbc
🌊🌊🌊
KAMU SEDANG MEMBACA
Bobby, Juni dan Jogja
FanfictionJogja menjadi istimewa buat kamu yang memiliki keeratan kenangan di sana. "Semanis apapun kenanganmu jangan minum teh botol, karena akan tetap pahit jika hanya mampu kau kenang," -Bobby. [potongan kisah-kisah tolol antara Bobby dan Juni di Jogja]
