Spesial Edisi Bakar-bakar

20 1 0
                                        

Idul Adha kali ini, Juni memutuskan untuk tak pulang. Tumpukan tugasnya tak akan membiarkan ia berleha-leha di rumah sembari membakar daging kambing. Ia kini hanya goleran di kasur kosannya dengan laptop menyala di atas meja dan tumpukan kertas berhambur di lantai.

Kepalanya berasap, terlalu banyak input data yang berlalu lalang di dalam sana. Kepalanya jadi terasa berat. Setidaknya ia sudah sarapan meski sekarang loyo lagi.
Baru saja matanya terpejam, ponselnya berdering. Itu si babi.

"Ayo!"

"Kemana?"

"Mirota."

"Ngapain?"

"Cari tusuk sate sama bumbu sama areng. Si Yoyo goblok, dateng bawa daging tapi gabawa bumbu sama arengnya."

Di belakangnya terdengar teriakan yang menyuruh Bobby agar segera beranjak membeli keperluan tersebut.
"Otewe!" teriak Bobby mengakhiri teleponnya.

Mendengar itu, Juni segera melompat dari kasurnya dan berpakaian. Tak lupa hoodie kedodoran, juga ponsel dan dompet ia masukkan dalam saku hoodienya. Oh iya, masker juga. Ia malas kalau harus bertemu kawan kampusnya. Bisa ribet nanti urusannya kalau ada yang liat mereka belanja berdua.

Tak lama kemudian, Bobby sudah nangkring di trotoar depan kosnya. Mereka segera menuju ke Mirota dan berdesak-desak dengan orang-orang yang juga mencari kebutuhan untuk bakar-bakar.

Juni mengambil keranjang dan berjalan di antara sempitnya rak-rak yang penuh manusia. Ia fokus mencari bahan-bahan tetapi fokusnya hilang saat keranjangnya tiba-tiba menjadi berat. Badan Juni oleng dan keranjangnya sudah di lantai. Dua botol besar softdrink ada di sana. Kelakuan siapa lagi kalau bukan Bobby yang nyengir.

"Abot cuk," cebik Juni.

"Yaudah iya biar gue yang bawa." ucapnya sambil membawa keranjang itu menjauh ke deretan makanan ringan. Dengan santainya, Bobby memasukkan beragam jajanan ke dalam keranjang.

"Lo bawa list bahan-bahan nggak?"

"Oh, ada kok. Cek aja nih," jawab Bobby menyodorkan hpnya.

"Dimane?"

"Ya di situ."

"Nggak usah bikin emosi lah, Bob."

"Ini loh, masa nggak liat Mbak Juni." menunjukkan list yang ada di roomchat grup kontrakannya.

Malas menanggapinya, Juni beralih ke rak berisi bumbu. Bobby mengekorinya dengan keranjang yang sepertinya hampir penuh. Mengambil saos dan kecap masing-masing satu botol besar.

"Ini nyari tusuk sate dimana?"

"Ya mana tau, gue kan jarang belanja di sini."

Ingin rasanya Juni memukul mulut Bobby yang dengan gampangnya berucap demikian. Tapi sayang energinya kalau habis sia-sia gara-gara makhluk astral itu.
Mereka berjalan di wilayah peralatan dapur. Juni berkeliling dan tak menemukan apapun yang ia cari.

"Kok raono yo?"

"Ini," tunjuk Bobby sambil mengangkat dua bungkus tusuk sate. "Makanya, nyari tu pake mata, bukan pake mulut."

"Tak sampluk kowe hlo Bob," gertak Juni dan beranjak pergi.

"Ini butuh gak?" tanya Bobby sembari mengangkat kuas.

"Ya menurutmu?" galak Juni sedang yang digalaki malah nyengir. "Ini udah semua?" lanjut Juni.

"Kayaknya udah."

Pas mereka beranjak untuk ke kasir, Juni rasanya mau pulang aja. Demi apapun, ngeliat antrian orang di kasir dengan belanjaan penuh macam mau buka warung membikin ia pening. Juni bersiap puter balik mau nunggu di motor aja tapi tangan Bobby udah narik pergelangan tangan Juni.

Bobby, Juni dan JogjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang