Kali ini, masih dengan kerandoman yang sama, Juni dan Bobby sudah berdiri di trotoar sempit jalanan. Dengan cahaya matahari yang keemasan dan bulatan sempurna yang tak tertutup awan di langit barat.
Bobby mengabaikan klakson dari pengendara mobil dan motor yang berseliweran. Ia juga mengabaikan tatapan aneh dari banyak orang. Tentunya ia juga mengabaikan tatapan tak percaya dari Juni.
Semuanya berawal dari duduk santai di burjoan dan Bobby yang tiba-tiba sok-sokan ngide.
"Ayo!"
"Kemana?"
"Nyunset."
"Pantai? Gunung?" tanya Juni. "Emang masih keburu? Udah jam segini juga." Juni memandangi jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul 5 lebih 7.
"Ada lah. Lo pasti suka." jawab Bobby dengan yakin dan beranjak menuju Ovan yang terpakir dengan gagah.
Merasakan gelagat tak beres, Juni pun memperingati "Jan aneh-aneh! Ogah ya gue berurusan sama satpam, apalagi kantor polisi."
"Enggak. Ini aman kok. Serius deh!"
Berdasarkan kepercayaan yang Juni coba bangun untuk Bobby, sekarang di sinilah mereka berada. Berdiri di trotoar kecil yang berhimpitan dengan pembatas fly over UKDW, mencoba fokus menyaksikan senja super cantik dengan cahaya jingga keemasan yang membuat orang enggan berpaling.
Juni akui, dia amat menyukainya. Namun mengingat bagaimana klakson dan pandangan aneh dari orang-orang sekitar membuat Juni risih. Orang-orang memandang mereka seolah sepasang manusia yang bosan hidup dan berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri dari flyover saat kereta lewat di bawahnya.
Juni bergidik ngeri membayangkannya.
"Gimana? Suka senjanya?" tanya Bobby senyum manis gigi kelincinya di sela-sela klakson dan semburat senja -yang-dengan-kurang-ajar-membuat-ia-nampak-sangat-tampan.
Kalau tak ingat Bobby masih punya keluarga yang menantikan ia pulang dengan gelar sarjana, sudah dipastikan Juni mendorong Bobby ke bawah atau ke tengah jalan supaya ia pulang dengan peti jenazah.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Bobby, Juni dan Jogja
FanficJogja menjadi istimewa buat kamu yang memiliki keeratan kenangan di sana. "Semanis apapun kenanganmu jangan minum teh botol, karena akan tetap pahit jika hanya mampu kau kenang," -Bobby. [potongan kisah-kisah tolol antara Bobby dan Juni di Jogja]
