"Setiap manusia terlahir suci, tidak membawa dosa apapun. Masyarakatlah yang menilai jelek hanya karena perilaku orang tuanya."— Athalla Mahendra.
Suasana museum mulai sepi, hari juga sudah semakin sore. Walau begitu, Eileen masih betah berada di tempat sunyi itu seperti menikmati keheningan yang tercipta. Gadis itu tampak fokus dengan buku gambar dan juga pensil yang ada ditangan dan pangkuannya. Tampak fokus mencoret-coret sesuatu di kertas putih itu.
Achilles hanya diam mengamati gerakan tangan yang terus berulang menggoreskan pensil di buku gambar. Mereka berdua tengah duduk di lantai dengan posisi memandang ke arah suatu foto yang terpasang di dinding. Ia baru tahu jika ternyata si gadis tomboy menyukai melukis.
"Buat apa digambar? Lagian lo bisa kesini kapanpun, bahkan bisa lo foto juga," ujar Achilles.
Ia melihat senyum kecil sebagai jawaban. Eileen masih fokus pada lukisannya yang entah sampai kapan akan selesai. Achilles menekuk satu kakinya lalu meletakan tangan kanan di lututnya. Ia menyenderkan kepalanya ke dinding lalu menguap.
"Kita disini udah 2 jam, gue suntuk banget," ujarnya selepas menguap.
"Suruh siapa lo mau ngikut gue ke sini?"
"Gue kan gak tau lo mau ke sini, Ropeah!"
"Ck, nama gue Eileen bukan Ropeah!"
"Ini museum bentar lagi mau tutup, dari tadi penjaganya ngeliatin kita terus tuh! Ayo balik!" ajak Achilles berdiri dari duduknya.
"Bentar lagi!"
"Ngapain sih gambar foto begitu? Gak ada gunanya,"
"Siapa yang gambar foto itu!?"
"Terus yang dari tadi lo gambar apaan?"
"Rahasia!" seru Eileen lalu membereskan alat gambarnya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi. "Ayo pulang!"
"Enak banget langsung pulang, gue dari tadi nemenin lo di sini terus lo mau pulang gitu aja?"
"Iya emang mau kemana lagi? Udah sore juga,"
"Kita mampir ke toko es krim deket sini aja sebentar, gue sering beli di sana."
"Lo suka makan es krim?"
Achilles berdehem setelah menyadari kejujurannya yang menurutnya termasuk memalukan. "Bukan gue! Si Martin yang sering beli disitu, gue cuma nitip— kadang."
Eileen terkikik, "lo suka juga gak apa-apa sih, bukan hal yang salah. Gue juga suka es krim,"
"Tapi bayangin aja, ketua geng ngaku kalau makanan kesukaannya es krim. Bisa diketawain musuh satu angkatan nanti!"
Benar juga, Eileen langsung tertawa saat menyadarinya. Posisi Achilles adalah ketua geng, pantas saja dia malu untuk mengakui hal itu.
"Lah, bener juga! Ketua geng harus keliatan sangar terus yah?" ejek Eileen.
"Lo seneng banget yah ngejek gue?"
"Siapa yang ngejek? Gue kan cuma ngomong fakta,"
"Udah lah! Ayo cepet, nanti keburu sore lo pulangnya!" ajak Achilles lebih dulu keluar dari gedung.
Ini bukan pertama kali Achilles jalan dengan seorang gadis, tetapi ia merasakan perbedaan sangat kentara. Biasanya, tidak ada yang berani membantah perkataannya apalagi mengajaknya berdebat. Mereka selalu menurut dan merasa takut walau hanya untuk menolak.
Eileen adalah gadis pertama yang berani menolak, mengejek, bahkan memarahinya. Bahkan Achilles mau menuruti keinginan gadis itu hanya dengan satu permintaan, menemaninya di tempat yang sebenarnya sangat tidak disukai Achilles.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
Novela JuvenilPendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
