"Kehidupan itu lucu. Sama seperti sinetron yang kadang tidak masuk akal. Atau mungkin hanya kehidupanku yang seperti itu?"— Achilles Julian Mahendra.
***
Kantin sekolah tampak ramai, anak-anak mulai mengambil makanan mereka dan duduk di bangku yang kosong. Biasanya, Achilles sudah memiliki tempat tersendiri di bangku petinggi Pendragon. Namun sekarang, ia bahkan bukan siapa-siapa di dalam geng.
Achilles memasuki kantin dengan tatapan dari anak lainnya. Sudah biasa, Achilles sendiri juga tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Mata Achilles sedang mencari seseorang, sampai kemudian ia melihat gadis tengah bersama temannya hendak menuju bangku kosong.
Sebelum gadis itu sampai, Achilles dengan cepat berdiri di depannya— menghalangi jalan. Hampir saja nampan makanan di tangan gadis itu jatuh karena bertubrukan dengan perut rata Achilles.
"Achilles!"
"Hai, cantik!" goda Achilles.
"Apa sih? Kenapa menghalangi jalan? Nanti kalo tumpah kena seragam kamu gimana?"
"Disapa cantik malah ngomel, dibales ganteng gitu loh!"
"Idih, itu sih mau kamu!"
Achilles terkekeh lalu merangkul Eileen menuju bangku lain sembari memberi kode pada teman gadis itu untuk membawa Eileen bersamanya. Achilles memilih bangku dekat jendela kaca yang tidak terlalu ramai.
"Makan!" ujar Achilles berpangku tangan menatap Eileen di sampingnya.
"Kamu gak makan?"
"Gini aja aku udah kenyang."
"Ih kok jadi lebay yah?" ujar Eileen tertawa.
"Biar keliatan ada romance-nya gitu, perasaan pendekatan kita lempeng aja gak ada hangout bareng atau makan bareng."
"Ini lagi makan bareng,"
"Kamu doang yang makan, aku 'kan gak makan."
"Mau?" tawar Eileen.
Mata Achilles sedikit berbinar semangat, pasti Eileen akan menyuapinya. "Mau lah!"
"Ya udah ambil sendiri sana!"
"Kamu gak ada niatan berbagi makanan bareng sama aku?"
"Ini makanan aku, nanti kalo aku bagi dua sama kamu, gak kenyang dong."
"Dasar! Ya udah makan sampai habis, biar cepet gede!"
"Apanya?"
"Kok kamu tanya apanya?" tanya balik Achilles canggung. Duh, pikirannya jadi kotor sekarang.
"Ya aku kan udah gede, apanya lagi yang harus gede?"
Sungguh! Ini bukan keinginan Achilles, tapi matanya itu tidak bisa diajak kerja sama. Pupilnya langsung turun menatap apa yang ada di dada gadis itu. Terlihat rata dan tidak ada yang bisa dilihat sebenarnya. Apa itu yang dinamakan besar? Mana mungkin! Achilles pernah melihat yang benar-benar besar sesungguhnya. Jadi milik Eileen—
Plak!
"Liat apa kamu, hah?!" bentak Eileen memukul pipi Achilles cukup keras.
"Sakit, El." ujar Achilles pura-pura kesakitan.
"Lagian punya mata gak bisa dijaga! Emang dasar kamu itu mesum yah! Waktu kita baru kenal aja kamu udah langsung nyosor! Pantes, emang kalo kamu dipukul! Otaknya perlu dibersihin tau!" ujar Eileen.
"Namanya juga cowok, kalo mesum justru wajar. Asalkan sama cewek, bukan ke cowok!"
"Mana ada begitu! Mau aku pukul lagi kamu, hah?!" ancam Eileen mengangkat sendoknya mengarah ke kepala Achilles.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
Teen FictionPendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
