"Terlalu sakit hanya karena mencintaimu."— Eileen Shura Brawijaya.
***
Berita penyerangan pada rumah Achilles sudah tersebar. Teman-teman Achilles masih harus diinterogasi untuk kemungkinan orang yang menjadi penyerang. Sementara Ares dan William turut pergi ke rumah sakit saat diberitahu terdapat korban meninggal. Begitu juga dengan Hanna yang sangat terkejut karena tidak menyangka jika lingkungan geng seperti itu bisa mengorbankan sebuah nyawa.
Mereka semua berada di depan ruang jenazah. Keluarga dari Bu Darmi sedang dalam perjalanan. Achilles sendiri saat ini tengah duduk di lantai tanpa memperdulikan Ares dan keluarga Kim yang ada di sana. Beberapa saat kemudian, seseorang dari kepolisian datang. Ares dan William ikut dengan polisi itu untuk mengurus beberapa hal.
"Kamu temani Achilles dulu, Mama mau ke toilet sebentar," ujar Ibu dari Hanna.
"Iya, Ma."
Suasana diantara mereka sangat terasa penuh kesedihan dari Achilles. Hanna berusaha mendekat, ia berdiri di samping dimana Achilles duduk. Hanna melihat ke bawah, kepala Achilles masih saja menunduk dan tidak terangkat sama sekali sejak tadi.
"Gue turut berduka," ujar Hanna.
Tidak ada jawaban.
Hanna menghela nafasnya, ia memang belum pernah kehilangan sosok orang yang sudah dianggap orang tua seperti Achilles. Tetapi kehilangan orang yang ia sayangi pernah. Kakeknya meninggal lima tahun yang lalu, dan ia sangat menyayangi Kakeknya. Hanna bahkan pernah mogok makan karena larut dalam kesedihan.
"Dia pasti berharga banget buat lo. Gue gak pernah liat ada orang yang sedih banget karena kehilangan pembantunya."
"Dia bukan sekedar pembantu," sahut Achilles. "Dia bahkan jauh lebih berharga dibanding Nyokap kandung gue sendiri."
"Kenapa?" tanya Hanna pelan.
Achilles mendengus kecil. "Saat lo tanya ke Nyokap kandung gue, apa makanan kesukaan gue? Apa kebiasaan gue? Apa hal yang gak gue suka? Gue bisa jamin seratus persen, dia gak akan tau apapun. Bahkan ngerawat gue aja gak pernah."
Hanna termenung sejenak, ia menurunkan tubuhnya berjongkok di sebelah Achilles. Ia menoleh ke samping melihat wajah bagian kiri lelaki itu yang bahkan terlihat sempurna.
"Melahirkan seorang anak mungkin berat karena bertaruh dengan nyawa. Tapi membesarkan seorang anak, jauh lebih sulit. Apa yang dilakukan orang tua akan membekas selamanya pada anak mereka. Kepribadian anak tergantung sama apa yang orang tua mereka lakukan. Terkadang, kegagalan anak adalah sebagian dari kegagalan orang tua. Dan gue adalah satu contoh kegagalannya."
"Gak semua anak gagal cuma karena orang tua mereka gagal. Lo bisa lewatin semua itu sendiri, menurut gue udah luar biasa, Les. Gak semua anak bisa lewatin apa yang udah lo alami. Lo gak gagal! Lo justru berhasil bertahan diantara orang tua yang gagal mendidik anaknya. You did it! Bu Darmi ... juga pasti bangga sama lo. Anak yang kuat, dan gak pernah menyerah. Kali ini, gue yakin lo juga pasti bisa lewatin semua ini."
Pundak Achilles berguncang hebat, nafas lelaki itu terdengar berat. Tangis Achilles kembali pecah, suara isakan tangisnya terdengar kembali sangat memilukan. Tangannya berusaha menutupi matanya walau terus gemetar tidak henti.
Hanna yang menyaksikan betapa menyedihkan pemandangan ini turut meneteskan air mata. Ia mengubah posisinya, berlutut menghadap Achilles. Hanna mengulurkan tangannya pada tubuh lelaki itu, membawanya ke dalam pelukannya. Tangisan yang Hanna dengar bukan hanya tangis biasa, bahkan Achilles sampai mengeluarkan sesenggukan yang biasa dikeluarkan saat orang menangis dengan penuh luka menyakitkan dalam hatinya. Ia hanya ingin meringankan perasaan Achilles dengan pelukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
TienerfictiePendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
