"Tidak ada kata terlambat untuk memulai segalanya lagi."- Athalla Mahendra.
***
Laboratorium, tempat praktik para siswa jurusan IPA. Saat ini ruangan itu sudah terisi oleh anak-anak kelas dua belas yang akan memulai praktik membedah katak. Mereka dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari dua orang. Achilles kebagian berkelompok bersama dengan Martin. Lalu Leon dengan Jagat di meja belakang mereka berdua.
"Anjir, ini lembek-lembek gimana gitu! Geli gue!" ujar Martin jijik menusuk katak mati dengan pisau asal.
"Bego! Lo bukan disuruh ngebantai ini katak, ngapain ditusuk-tusuk gitu!? Psychopath lo?" ujar Achilles.
"Jijik, bos! Mana baunya amis banget lagi! Muntah nih gue, bangke!" gerutu Martin.
"Kenapa gue harus sekelompok sama lo?! Badan doang gede, nyali seupil!" Achilles menarik nampan tempat katak ke arahnya.
Kedua tangan Achilles sudah tertutup oleh sarung tangan karet berwarna putih. Ia memegang pisau dan mulai membedah katak itu sampai mengeluarkan isi perutnya. Menjijikan memang, tapi mau bagaimana lagi?
"Gue gak kuat, Yon! Baunya kaya jigongnya Martin, sialan!" ujar Jagat keras di belakang Achilles.
"Heh, anak curut! Kenapa gue jadi dibawa-bawa?!" protes Martin.
Tidak hanya Jagat sebenarnya, beberapa teman sekelas mereka juga seperti itu. Bahkan ada yang sampai tidak kuat dan pergi ke kamar mandi untuk muntah.
"Gantian, bos! Biar gue-"
Martin mengarahkan pisaunya namun ternyata salah mengarah dan justru menggores lengan Achilles. Darah segar mulai keluar cukup deras. Bahkan lukanya juga cukup lebar, jika orang melihat mungkin akan berpikir ini sengaja digoreskan bukan karena ketidaksengajaan.
"Achilles!" seru Jagat yang langsung menghampiri lelaki itu dan mengulurkan kain apapun di atas meja untuk menutup luka.
"Les, gue gak sengaja! Sumpah, gue gak sengaja!"
"Astaga, cepat pergi ke UKS, Achilles! Luka kamu keluar darah terus, biar dokter di sana yang ngobatin!" seru gurunya.
"Ayo, Les!" ajak Jagat panik.
Sebelum bergerak, ia melirik ke arah Martin yang sudah pucat karena ketidaksengajaan tadi. "Lain kali hati-hati!" ujar Achilles.
"M-maaf bos!"
Sementara Achilles dan Jagat keluar, Leon masih tetap diam di tempatnya. Ia menunduk masih fokus pada kayaknya yang tengah ia bedah. Darah dari katak itu mengeluarkan bau amis namun Leon tampak tidak terganggu. Bibirnya tersenyum sinis dengan dengusan di akhir.
"Ah, ternyata udah ketahuan," gumamnya.
***
"EILEENNN!!!"
Suara cempreng itu seperti ingin membuat orang lain menjadi tuli. Bahkan suaranya lebih menyeramkan dibanding sirine polisi. Eileen menoleh dengan sewot, mereka tengah melakukan pelajaran olahraga dan berhubung karena guru tengah ada urusan sebentar, jadilah mereka di lapangan basket melakukan pemanasan sendiri.
"Claudia! Ini bukan hutan, lo kebanyakan berteman sama Tarzan sih jadi begitu!" ujar Eileen.
"Tau tuh! Gak malu lo diliatin temen sekelas kita?" tanya Ameera.
"Soalnya ini penting! Gue yakin lo bakal berterima kasih karena kasih tau kabar ini, El!" ujar Claudia menggebu.
"Kabar apaan sih? Lo gak berganti kelamin 'kan di kamar mandi tadi?" tanya Ayodhya dan langsung mendapat pukulan ringan oleh Claudia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
TienerfictiePendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
