"Seharusnya tidak begini. Bagaimana bisa aku salah sasaran dalam jatuh cinta?"— Hanna Kim.
***
Achilles duduk di satu sofa dalam kamar berukuran sedang. Ia melihat lelaki yang duduk di atas kasur sembari memeluk kedua lututnya. Tubuhnya sedikit lebih kurus dari biasanya. Namun tidak seperti sebelumnya, dia tampak jauh lebih baik sekarang.
"Lo keliatan kaya manusia sekarang," ujar Achilles.
"Emang lo pikir sebelumnya gue ini apa? Setan?" sahutnya.
"Seandainya lo bisa liat diri lo sendiri minggu-minggu lalu, lo lebih mirip zombie daripada manusia."
"Kalo gitu zombie ganteng!"
"Damar!" geram Achilles lalu tertawa kecil. "Seenggaknya lo udah bisa bercanda sekarang."
"Lo masih belum ngelakuin apapun, Les." ujar Damar.
"Emang gue harus ngelakuin apa?"
"Gue udah tau semuanya dari Jagat, jadi selama ini kalian tau ada pengkhianat di antara kita tapi gue sendiri yang gak tau?"
"Gue gak mau lo kecewa."
"Lo pikir sekarang gue gak kecewa?!" dengus Damar.
Achilles menghela nafasnya berat. "Gue bakal urus ini, dan gue pastiin dia kembali ke jalan yang lurus!"
"Lo pikir lo pemuka agama pake buat dia balik ke jalan yang lurus?! Dia udah berusaha nyerang lo selama dua tahun lebih dan lo selalu diam. Jadi semua kecelakaan yang terjadi ke lo beberapa kali itu karena dia?!"
"Dia gak bermaksud ngelakuin semua itu. Gue yakin ada alasan dia mau jatuhin gue. Mungkin aja gue punya salah yang gak gue tau ke dia."
"Bullshit! Jangan sok baik deh, Les! Gak pantes buat lo!"
Senyum terbit di bibir Achilles. " Gue emang bukan orang yang baik, tapi asal lo tau, Dam. Gue paling gak bisa nyakitin orang-orang gue."
"Bahkan saat mereka berkhianat ke lo?!"
"Selama ini gue sendirian, kalian datang jadi teman, sahabat, dan keluarga buat gue. Bagi gue gak apa-apa kalo mereka nyakitin gue, asal gue gak nyakitin mereka. Apalagi orang lain yang nyakitin mereka. Ada hal yang buat gue marah sampai pernah hampir berpikir harus ngebunuh dia, tapi tiap inget gimana kami dulu, gue tetap gak bisa."
"Lo terlalu bodoh, Les. Lo terlalu gampang menerima orang lain masuk ke kehidupan lo tanpa melihat mereka tulus atau gak. Bahkan gue yakin, lo pasti juga gak tau apa gue tulus atau gak 'kan ke lo?" ujar Damar.
"Lo tulus," jawab Achilles
"Darimana lo tau gue tulus?" tanya Damar. "Dengan gampangnya lo membuka tangan buat orang-orang yang bersikap baik ke lo, padahal aslinya mereka cuma penjilat— penipu! Lo terlalu mudah ditaklukkan tanpa lo sadar, Les. Cover lo emang menakutkan, tapi saat melihat ada orang yang berani berdiri di samping lo tanpa rasa takut, lo ngerasa kalo dia beneran menerima lo apa adanya. Tapi kenyataannya, itu cuma tipu muslihat."
"Lo gak akan ngerti, Dam. Lo gak akan ngerti sampai lo ada di posisi gue!"
"Gue tau rasanya kesepian. Gue tau rasanya dikhianati orang terdekat. Tapi jangan bodoh biarin mereka terus mengusik lo. Dia aja gak pernah peduli sama lo, kenapa lo harus peduli sama dia?!"
Apa ini semua salah? Selama ini Achilles terus diam karena masih memikirkan lelaki itu. Peduli sebagai seorang sahabat. Tapi memang benar kata Damar, lelaki itu saja mungkin tidak pernah peduli padanya— bahkan menganggapnya teman saja mungkin tidak pernah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
Teen FictionPendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
