"Wanita itu mempunyai hati selembut kapas, jadi jangan membuatnya menangis. Karena sekali basah, kapas akan sulit untuk kering." — Eileen Shura Brawijaya.
Eileen berjalan di sepanjang lorong hendak menuju ke kelasnya. Ia menutupi tubuhnya berharap bagian punggungnya juga ikut tertutup, namun itu tidak ada gunanya. Orang-orang yang ada di lorong itu meliriknya dengan aneh sembari menahan tawa. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menggoda Eileen dengan siulan.
Ia berusaha untuk tidak menghiraukannya, namun tidak berhasil. Itu membuat suasana hatinya semakin memburuk. Sampai akhirnya, karena terlalu fokus menutupi punggungnya, ia tidak melihat depan dan menabrak seseorang hingga terjatuh.
"Are you okay?" tanya gadis yang ditabrak Eileen.
Entah karena terlalu malu, serta tidak mampu lagi menahan emosinya, Eileen menjatuhkan air matanya mengalir melewati pipinya. Kenapa hari ini sangat sial baginya?!
"Hei!"
"Dia baik-baik aja, lo bisa pergi!" suara itu muncul dari belakang Eileen, diikuti dengan jas sekolah cukup besar yang melingkupi tubuhnya.
"Achilles," gumam gadis tadi.
"Apa lagi yang lo liat? Pergi!" ujar Achilles lagi.
Tidak butuh waktu lama, gadis itu beserta temannya melangkah pergi. Sementara itu, Achilles kemudian menangkup kedua pundak Eileen, membantunya berdiri. Gadis itu tidak menolaknya sama sekali. Dia hanya menunduk, menyembunyikan air matanya yang sudah tumpah.
"Sampai ada yang masih liatin gue ataupun cewek ini, jangan harap bisa sekolah dengan tenang lagi di sini!" ancam Achilles dengan suara cukup keras.
Dan itu berhasil, mereka yang mendengar ancaman itu langsung mengalihkan tatapannya. Tidak ada lagi yang berani menatap bahkan melirik saja tidak mau. Kekuatan Achilles tidak boleh begitu saja diremehkan. Apapun yang diucapkan oleh lelaki itu, pasti benar-benar akan dilakukannya.
Achilles menuntun Eileen untuk kembali berjalan. Ia tahu jika gadis ini pasti membutuhkan ruangan yang sepi untuk menangis. Satu-satunya tempat yang tidak akan bisa diganggu oleh siapapun adalah markas Pendragon.
Memang benar, akhirnya Achilles membawa Eileen ke markasnya. Sekarang, gadis itu bahkan tengah duduk di sofa dengan sekotak tisu dipelukannya. Tidak lupa juga dengan suara tangisan dan tarikan ingus yang membahana. Ternyata, kata-kata yang mengatakan perempuan cantik kalau menangis pasti tetap cantik, hanyalah bualan saja.
Buktinya sekarang ada di depan Achilles sendiri.
"Berhenti menangis! Lo gak capek apa nangis terus?" tanya Achilles menatap gadis itu dengan kernyitan dahi.
"Gak!" jawab Eileen lalu menarik ingusnya lagi pada tisu ditangannya.
Achilles menghela nafas melihatnya, gadis ini benar-benar jorok. "Lo keliatan jelek kalo nangis!" ejeknya berharap bisa membuat gadis di sampingnya berhenti menangis.
"Namanya juga nangis! Menurut lo, gue harus nangis kaya di sinetron-sinetron gitu? Yang kalau tokohnya nangis sampai bikin satu kota banjir aja bakal tetep cantik?!" jawab Eileen masih dengan tangisannya.
"Gak gitu juga!" elak Achilles.
"Terus gimana lagi?!" sentak Eileen.
Achilles mendengus, ia merebahkan punggungnya ke sandaran sofa. Kepalanya menengadah menatap ke arah langit-langit ruangan. "Kenapa sih, cewek kalo nangis susah banget buat berhenti?"
Eileen melirik sekilas ke arah Achilles. "Cewek itu paling pinter buat menyembunyikan perasaannya, dan kalau dia udah nangis, artinya hal itu benar-benar menyakitinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
Novela JuvenilPendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
