"Persahabatan bukan hanya soal menghabiskan waktu bersama, tetapi saling memahami dan peduli satu sama lain."— Eileen Shura Brawijaya.
Pintu kamar berwarna putih dibuka cepat tanpa ketukan sama sekali. Hal itu membuat Eileen, pemilik kamar merasa terkejut. Ia menatap lelaki yang sudah menjadi Kakak kandungnya selama lebih dari 17 tahun hidupnya.
"Apaan sih, bang?! Masuk kamar gak pake ketuk pintu dulu!" protes Eileen.
"Masih tanya apaan lagi! Tadi lo ngapain, hah?" tanya Edgar bersanggah tangan pada pinggul menatap adiknya tajam.
"Apa? Gue gak pergi sama Achilles kok! Lo salah orang kali, gue udah balik duluan kok sama Claudia." Eileen memalingkan wajah kembali fokus ke meja belajarnya.
"Nah, kan ketahuan! Gue cuma tanya lo ngapain yah, bukan tanya tentang Achilles!" seru Edgar. "Ngaku lo! Sok-sokan mau bohong, jam terbang lo masih kurang daripada gue soal ginian!"
"Ih tau ah! Abang keluar aja sana, gue mau ngerjain tugas!" elak Eileen.
"Kasih tau dulu! Lo ngapain sama Achilles?!" tanya Edgar.
"Gak ngapa-ngapain kok! Udah sana keluar!" seru Eileen berdiri mendorong Edgar untuk keluar dari kamarnya.
"Bohong lagi! El, inget yah, dia itu musuh Abang sama pacar lo! Jangan sampai lo malah suka sama Achilles!"
"Gue gak suka!!"
"Terus ngapain kalian jalan berdua tadi?"
"Ih Mama!! Bang Edgar gangguin Eileen lagi belajar nih!!" teriak Eileen.
"Apa sih pake ngadu segala! Jawab dulu pertanyaan Abang!"
"MAMA!! PAPA!! EL MAU BELAJAR, BANG ED NIH!!"
Eileen masih berusaha mendorong Edgar yang kekeh tidak mau keluar dari kamarnya sebelum mendapat jawaban. Sampai beberapa detik kemudian, pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok sang Ibu membawa sapu lidi dan juga Ayahnya di samping kanan Ibunya.
"Edgar!!" bentak Aveera menatap tajam putranya.
"Ma, Edgar bisa jelasin! Edgar tuh cuma mau—"
"El gak bisa belajar, dari tadi Abang berisik terus! Padahal tugas El lagi banyak, Ma, Pa," potong Eileen.
"Apa sih lo! Ini mulut gak usah kaya dakjal yah!" kesal Edgar mencubit bibir adiknya.
"Mmaaaa ......" teriak Eileen namun tertahan.
"Anak ini benar-benar!" ujar Rafael mendekat bersamaan dengan istrinya.
Edgar yang melihat kedua orang tuanya maju langsung melepaskan cubitannya dan berlari menghindar. Ia benar-benar merasa seperti maling di rumah ini. Lihat saja Ibunya yang mengacungkan sapu lidi serta Ayahnya yang seperti siap berkelahi.
"Sini kamu!" ujar Aveera.
"Bukan salah Edgar, Ma!" teriak Edgar masih berlarian kesana-kemari di dalam kamar Eileen. "Sialan! Punya adek laknat banget sih, anjing!" gerutunya.
"NGOMONG APA KAMU?!" bentak Rafael dan Aveera bersamaan.
"Salah ngomong, anjir! Eh maaf, Ma! Dasar mulut goblok!" elak Edgar.
"Ngomong lagi!!"
"Ampun, Ma, Pa!!" Edgar berlari keluar kamar dengan kejaran Ibu dan Ayahnya.
Sementara itu, Eileen bergerak cepat langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia bersandar di pintu sembari mengelus dadanya lega. Setidaknya abangnya itu tidak akan banyak bertanya soal Achilles untuk sekarang, karena jika ditanya lebih jauh, Eileen juga tidak tahu apa jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Achilles
Roman pour AdolescentsPendragon Geng terkenal dari salah satu sekolah elite swasta yakni SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh sekolah lain. Berani menantang mereka, maka bersiaplah bertemu dengan sang malaikat pencabut nyawa dari geng itu. Achilles Julian Mahendra, siswa...
