Part 11 - Pelecehan

17.4K 1.5K 156
                                        

Haii!!

Jangan lupa untuk vote dan komen kalau kalian suka sama part kali ini :)

Disini ada yang army kah? Hai, aku juga army yang sedang menunggu BTS comeback besok. Jangan lupa streaming Life Goes On terus ya, army! Semangat! 😹😹😹

Enjoy!

***

"Terkadang, terlihat sering bertengkar bukan berarti bermusuhan." — Eileen Shira Brawijaya.

"Halo semuanya?! Gimana nih, pasti udah pada gak sabar liat penampilan para dancer alias calon-calon cheerleaders kita kan?"

Suara jawaban dengan teriakan penuh semangat memenuhi stadion basket. Acara homecoming kali ini tidak seperti biasanya bagi Eileen. Jika tahun kemarin ia hanya menjadi penonton, kali ini ia ikut berpartisipasi dan itu semua karena sahabatnya, Claudia.

Acara seperti ini jika di sekolah biasa memang tidak diselenggarakan, tetapi di sini sudah seperti tradisi. Sekolahnya benar-benar sudah mirip seperti sekolah dengan tipe pembelajaran di Amerika. Bedanya, di sini tidak ada libur summer seperti di sana, karena bisa dibilang hampir setiap hari di Indonesia adalah musim panas.

Hari kemarin, anak kelas sepuluh sudah melaksanakan semacam bazar dan beberapa pertunjukan live music. Hari kedua ada pertandingan baseball dan voli. Hari ketiga, babak final voli dan baseball. Hari keempat, yang artinya hari ini adalah perlombaan cheerleaders yang pemenangnya akan ditampilkan untuk babak final pertandingan basket yang diadakan besok.

"Sumpah! Tangan gue keluar keringat dingin dong!" ujar Ayodhya.

"Lah gue udah kaya mandi keringat, anjir! Nih muka gue basah!" sahut Ameera.

"Lo mah udah biasa nari depan banyak orang!"

"Beda lah!"

"Kita mengundurkan diri masih sempat kan?" tanya Eileen malas.

"Kok gitu?! Kita ini kan udah latihan keras dari beberapa Minggu lalu!" protes Claudia.

"Iya, tapi lo tau sendiri kan? Kita kalau dibandingin sama yang cheerleaders asli kaya mereka, gak ada apa-apanya!" ujar Eileen.

"Kok lo ngomongnya gitu sih, El?" tanya Claudia murung.

"Gue cuma mau kasih tau kenyataan, Cla. Kita emang perlu optimis, tapi terlalu optimis juga gak baik. Dalam hidup itu butuh sadar sama realita juga," jawan Eileen.

"Udah lah, El. Kita udah sampai sini, mau gimana lagi kan? Ikutin aja, kalau kalah pun ya udah. Terpenting kita udah mencoba yang terbaik!" sahut Paris.

"Iya, daripada mundur sekarang justru buat kita keliatan kaya pengecut," ujar Ayodhya.

"Maaf," lirih Claudia. "Maaf udah paksa kalian ikut acara ini, gue cuma pengen bales Alda aja. Gue terpancing emosi," lanjutnya.

"El?" panggil Ameera pelan sembari memberi kode ke arah Claudia.

Eileen yang menyadari ucapannya terlalu kasar dan menyebalkan, menghela nafasnya. Ia tidak bermaksud menyakiti hati sahabatnya, hanya saja apa yang ada di depan matanya terlihat begitu mustahil. Itu membuatnya tidak bisa berbohong jika semua akan baik-baik saja padahal kenyataannya tidak akan seperti itu.

"Gak apa-apa, maaf, Cla. Gue gak bermaksud patahin semangat lo. Mulut gue emang gak bisa dikontrol!"

"Maaf, El!" ujar Claudia lagi menatap Eileen.

"Gue bilang gak apa-apa, sini!" Eileen menarik tubuh Claudia pelan memeluknya agar bisa mengurangi rasa bersalah sahabatnya. "Maafin, gue yah nenek lampir! Ayo semangat lagi!"

Achilles Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang