Part 34 || Kemarahan Achilles

11K 951 387
                                        

"Manusia tidak bisa ditebak, paling dekat bukan berarti paling mengerti."— Achilles Julian Mahendra.

Senyum lebar menghiasi wajah lelaki dengan keringat di dahinya. Ia mengambil bola yang tadi sudah masuk ke dalam ring dengan sempurna. Sementara gadis yang menjadi lawannya terlihat kesal dengan tangan menopang di pinggang.

"Jangan nangis," ujar Achilles lebih tepatnya mengejek.

"Gue gak cengeng kali! Gini doang! Satu hari kan? Oke!" kesal Eileen.

"Gak usah ngegas juga dong, neng!" Achilles menyentil dahi Eileen pelan sembari terkekeh.

"Ish! Lo itu tadi curang! Coba aja kalo mainnya adil, pasti gue yang menang!"

"Alasan terus," ujar Achilles.

"Yaudah deh, lo mau apa?!"

"Nanti, gue bakal kasih tau kalo udah waktunya."

"Udah waktunya gimana?"

Achilles hanya tersenyum menjawabnya. Ia melihat jam di tangannya dan ternyata sudah hampir selesai waktu istirahat. "Udah mau masuk, lo belum sempat makan apa-apa dari tadi."

"Iya lah, kan lo yang ngajak gue main basket."

"Ya udah balik sana, nanti gue suruh orang beliin makanan buat lo di kantin."

"Gak usah deh, gue ada bawa roti juga dari rumah. Lo gimana?"

"Gue—" perkataan Achilles terpotong saat melihat Leon datang dari pintu dengan wajah datarnya. "Lo balik ke kelas sendiri gak apa-apa, El?" tanyanya kembali menatap Eileen.

"Oh, oke. Kayanya lo ada urusan, kalo gitu gue balik dulu," jawab Eileen lalu berbalik dan berpapasan dengan Leon. "Hai, Yon!" sapanya.

"Hai, El. Maaf gue ganggu lo sama Achilles," ujar Leon.

"Gak apa-apa, gue duluan!"

Setelah kepergian Eileen, Leon kembali melangkah mendekati Achilles yang tengah bermain memantulkan bola seakan menunggu dia mendekat.

"Ada apa?" tanya Achilles.

"Bantu gue," ujar Leon.

"Kenapa, Yon?"

"Singkirkan Alda."

Achilles menaikkan satu alis ke atas dengan tatapan heran. "Ada apa sama si Alda?"

"Dia yang selama ini serang anak-anak BGS sama masa lalu mereka."

"Darimana lo tau?"

"Kali ini Paris yang jadi sasarannya. Mungkin selanjutnya Eileen. Lo yakin bakal diem aja?"

"Emang apa yang bisa gue lakuin, Yon? Lo suruh gue mukul cewek?" tanya Achilles.

"Lo peduli sama Eileen kan? Apa lo bakal diem aja kalo ada orang yang ganggu dia?"

Achilles menghela nafasnya, tentu saja ia akan menjawab tidak. Bagaimana mungkin ia diam ketika melihat gadis yang disukainya diganggu orang lain?

"Oke, gue bakal cari cara ungkap tentang dia bersalah ke guru, dengan gitu gua punya alasan buat minta dia di do. Puas?" ujar Achilles.

"Thanks, Les." Leon menyugar rambutnya lalu berjalan menuju bangku penonton dan duduk di sana.

"Buat apa lo masih deketin Paris? Dia gak akan mau nerima lo lagi," ujar Achilles melemparkan bola ke ring dan masuk.

"Gak ada yang gak mungkin."

"Goblok! Mana ada cewek yang udah dihina, direndahin, diselingkuhin, dan diputusin sepihak mau balikan ke cowok berengsek kaya gitu. Yah, kecuali dia terlalu bego."

Achilles Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang