||29. Perkelahian Sengit||

198 17 0
                                        

🌧️🌧️🌧️

"Apa yang membuatmu begitu marah? Luka, masa lalu, atau cinta? Jadi bagaimana jika semua itu dipadukan menjadi satu dengan campuran ketidakberdayaan. Apakah amarahmu akan semakin meledak? Atau justru kau akan jatuh terpojok? Semua itu hanya kau sendiri yang tahu."

🌧️🌧️🌧️

Sena membulatkan matanya saat Rayna mematikan panggilan telepon secara sepihak. Ia melempar ponsel putus asa ke atas kasur lalu melirik jam yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ini waktunya makan malam, anggota keluarganya pasti sudah menunggu di bawah, tetapi Sena malas untuk turun. Sedari siang ia memang belum makan apapun.

Sena melangkah menuju meja belajar, menyalakan laptop dan memakai kaca mata belajarnya. Ia lebih baik menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, walaupun pikirannya masih belum teralih dari Rayna, tetapi tugas-tugasnya yang menumpuk untuk besok pagi bisa terbengkalai jika ia hanya terdiam. Sena mulai fokus dengan tugasnya, mengabaikan perutnya yang sakit karena tidak ada bahan untuk digiling lambung. Sena terus berkerja agar tugasnya bisa cepat selesai, setelah itu ia bisa istirahat.

Tok, tok, tok.

"Masuk!" teriak Sena tanpa beralih, saat pintu dibuka, Sena melirik sekilas ke sana dan melihat kakaknya masuk sambil membawa satu nampan penuh berisi sepiring nasi dan juga segelas air.

"Lambung lo sekuat apa kalo seharian ini belum makan? Jangan sok-sokan cari penyakit. Makan dulu, nih." Lena meletakan nampan itu di atas meja nakas, lalu duduk di tepi kasur sambil memperhatikan adiknya. Sena beralih dari laptop ke arah kakaknya sambil melepaskan kaca mata.

Ia menaikan sebelah alis bingung. "Lo nggak marah lagi, Kak? Tumben banget bawain makanan gue ke sini." Sena terkekeh. Walaupun tadi ia kesal dengan kakaknya begitupun sebaliknya, tetapi mereka berdua memang tidak bisa marah untuk waktu yang lama.

"Kalo bukan Ayah yang suruh, mana mau gue anterin makanan lo," cibir Lena. Sena mengangguk lalu meraih sepiring nasi itu dan melahapnya tanpa izin seperti tidak makan berhari-hari. Lena hanya memperhatikan adiknya sambil menggelengkan kepala, ia menunggu sampai Sena selesai makan.

Setelah selesai menghabiskan makanan itu hingga tandas, Sena meletakan kembali piring kosong itu ke atas nampan, ia hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menghabiskan makanannya karena begitu lapar. Ia meraih minum dan meneguknya beberapa tegak. Lalu kembali ke arah Lena.

"Makasih," ucap Sena sembari nyengir sedangkan Lena memutar bola matanya malas. "Em ... maaf juga karena gue tadi marah-marah sama lo, gue kebawa emosi. Dan kalo lo mau marah, ya, jangan sekarang juga. Soalnya gue mau ngerjain tugas, gue nggak mau fokus gue luntur cuman karena dengerin omelan lo," cerocos Sena begitu enteng sehingga membuat Lena melotot ke arahnya.

"Gue yang kesel kok lo yang nawar," sungut Lena. Sena tahu kakaknya kemari memang bukan untuk marah-marah, tetapi ada hal lain yang ingin ia bicarakan. "Jadi jelasin, kemana tadi lo pergi?" Sena langsung berbalik kembali ke arah laptopnya yang masih menyala. Benar bukan, Lena pasti ingin tahu hal itu.

"Kalo itu gue nggak bisa kasih tahu," kata Sena sembari memakai kaca matanya kembali dan fokus lagi dengan tugasnya.

"Kalo gitu gue bakal marah lagi sama lo kalo lo nggak mau cerita." Lena terus memaksa Sena untuk bercerita. Sena jadi tahu seperti inilah yang dirasakan Rayna, dipaksa menjelaskan sesuatu saat dirinya tidak ingin menjelaskan apa-apa sangat tidak menyenangkan.

"Kok lo kepo? Masalahnya itu gue lagi banyak tugas, Kak, memang lo mau kerjain tugas gue? Udah lebih baik lo ke bawah lagi sana, gue mau konsentrasi sama tugas biar cepat beres, nih. Gue capek, pengin cepat istirahat." Lena nampaknya sudah menyerah dengan adiknya. Ia bangkit berdiri, tetapi Sena cepat-cepat menahan. "Lo, kan, cantik nih, baik hati lagi, sekalian ya ini dibawa lagi ke dapur." Sena menyodorkan nampan yang hanya tersisa piring kotor ke arah kakaknya, Lena menerimanya sambil mendengus. Adiknya ini memang kurang ajar.

UnforgettableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang