||38. Ingin Menyangkal||

195 15 0
                                        

🌧🌧🌧

"Rasa kecewa itu sudah biasa hadir dalam sebuah penantian, hanya waktunya saja yang terkadang sering terlambat disadari. Atau mungkin, sama sekali tidak pernah disadari."

🌧🌧🌧

Air mata jatuh di pelupuk mata Rayna, di dalam taksi ia kembali menangis tanpa suara. Kali ini bukan sekedar terluka melainkan kecewa. Rayna merasa hampa mengetahui bahwa selama ini ia tak pernah diharapkan, tak pernah dikenal, dan ia tak lebih hanya sebuah kesalahpahaman antara Sena dan Dio.

Kedekatannya dengan Sena—ah, ralat, Dio—semata-mata hanya karena Dio ingin Sena menjauh dari Fiona, dan ia bisa memilikinya. Rayna tidak tahu kenapa harus ia yang dijadikan umpan mereka. Memberikan perasaan palsu sampai Rayna tidak bisa keluar dari perasaan itu, lalu pergi meninggalkannya karena merasa permainan mereka sudah selesai.

Satu tahun ini kenanagan itu takterlupakan. Satu tahun itu pula Rayna terpuruk, kecewa, bahkan ada sebuah penantian di sana. Tapi semua itu ternyata sia-sia saat ia mengetahui bahwa mereka sudah merasa tidak ingin lagi berurusan dengan Rayna, orang yang mereka jadikan senjata untuk mendapatkan gadis lain.

Rayna tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak kembali bertemu dengan Sena. Apa yang akan terjadi jika saja ia tak sekolah di sana? Mungkin hanya Rayna yang masih terkurung dalam kenangan dan kekecewaan, sedangkan orang yang membuatnya terluka merasa Rayna bukan siapa-siapanya.

Bahkan, hatinya sakit mengetahui Sena bukanlah orang yang dulu menghubunginya, yang memberinya tawa, yang selalu ada untuknya, itu adalah Dio, Sena hanya sekilas saja datang kedalam kehidupan Rayna. Sekarang Rayna benar-benar merasa hampa, ia bingung. Bahkan, ia pun tidak tahu siapa sebenarnya yang ia cinta?

Rayna tidak bisa menyangkal bahwa awal-awal berkomunikasi dengan Dio saat itu adalah hari-hari yang sangat menyenangkan baginya, karena Dio yang saat itu ia tahu sebagai Sena selalu berhasil membuatnya tertawa. Bahkan untuk pertama kalinya Rayna merasa hidupnya menyenangkan, begitu menyenangkan sampai ia lupa dengan masalahnya di rumah. Saat itu pula ia bisa mengenal Sena sepenuhnya, tetapi jika itu adalah Dio, apakah yang ia kenal selama ini tetap bisa ia katakan sebagai Sena? Dan perasaan yang ia miliki hingga kini apa itu untuk Dio?

Sena berkata ia hanya satu bulan saja berkomunikasi dengan Rayna. Rayna tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi, sejak kapan pergantian orang itu dimulai, yang Rayna tahu ia sama sekali tidak merasa ada perubahan apapun, ia tetap merasa nyaman sampai akhirnya kenyamanan itu digantikan oleh kekecewaan karena Sena memilih untuk pergi dari hidupnya.

Apa karena dulu ia tengah berduka sampai ia tidak sadar bahwa Dio sudah berganti Sena? Apa Rayna begitu buta sampai ia sendiri tidak menyadari kesalahan yang tengah terjadi?

Rayna menggelengkan kepalanya, ia menunduk menghadap kaca di sampingnya. Siapapun dulu yang menghubungi Rayna lebih dulu dan lebih lama, Rayna tetap hanya menganggap itu Sena. Ia tidak kenal dengan Dio, ia tidak tahu Dio. Dio adalah orang asing bagi Rayna, lelaki yang baru saja ia kenal beberapa bulan ini di sekolah Tirtajaya Bangsa. Tapi kenapa justru Dio yang sebenarnya lelaki yang dulu membuatnya nyaman?

Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa orang yang sudah ia yakini dekat dengannya justru adalah orang yang baru saja hadir di hidupnya? Rayna sungguh merasa kehilangan, ia tidak suka mengetahui bahwa Dio lah masa lalunya, ia tidak suka bahwa Dio lah yang lebih dulu mengenalnya. Walaupun jujur saja saat ini Rayna kagum dengan Dio, tetapi ia tidak pernah mengharapkan bahwa Dio lah yang dulu memberikan tawa itu, yang membuatnya jatuh hati pada orang yang bahkan belum ia temui.

Rayna juga tidak senang mengetahui bahwa Dio lah yang menyatakan perasaannya dulu, yang menjalin hubungan dengannya. Rayna sungguh ingin menyangkal kenyataan itu, ia tidak sedekat itu dengan Dio sampai-sampai kenyataan mematahkan segala harapannya.

UnforgettableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang