🌧🌧🌧
"Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi untuk orang yang telah lama pergi. Barangkali mereka juga tidak menyadari bahwa perasaan itu ikut serta hilang bersama orang terkasih. Mereka hanya menyangkal kekecewaan dengan berpikir bahwa perasaan itu masih sama, masih melekat dalam hatinya."
🌧🌧🌧
Rayna menaiki tangga menuju rooftop. Langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki yang sedari tadi ia cari tengah berdiri di ujung pagar yang membatasi rooftop sekolah. Rayna menghela napas, ternyata benar ia berada di tempat ini.
Dua hari sudah Rayna mendiamkan Sena, dan itu membuat perasaannya lega, karena itu ia jadi tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Mendengar penjelasan Sena dan juga Shasa beberapa hari lalu, membuatnya sadar bahwa sulit untuk menentukan siapa yang bersalah. Sena tidak tahu apa-apa, begitupun dengan Dio, ia tidak tahu dampak dari perbuatannya.
Barangkali Rayna yang bersalah, ia sudah berada di antara keduanya. Merusak hubungan mereka, hubungan Sena dengan Dio, Sena dengan Fiona atau bahkan Dio dengan Fiona. Jika sedari awal Rayna tidak hadir, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Rayna berpikir, hal yang tepat jika ia menganggap bahwa semuanya tidak pernah terjadi apa-apa, bersikap layaknya ia tidak pernah mengenal mereka sebelumnya, dengan begitu Rayna pasti bisa berdamai dengan masa lalu, walaupun itu tidak mudah.
Mengenai perasaannya sendiri, Rayna sungguh tidak tahu. Barangkali perasaan itu sudah hilang bersamaan dengan perginya Sena yang ia kenal dulu. Yang pasti saat mendengar penjelasan Sena beberapa hari yang lalu, seperti memberikan sinyal bahwa di hatinya sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi. Selama ini mungkin hanya perasaan nyaman yang tumbuh antara kakak dan adik di sekolah saja. Ya, hanya itu tidak lebih.
Perlahan Rayna melangkah menghampiri Sena, ia berdiri di samping Sena yang sedikit terkejut dengan kehadirannya. Rayna menoleh, menunjukan senyum yang justru terasa kaku di bibirnya. "Hai." Entah itu hanya perasaan Rayna saja, atau Sena juga merasakan hal yang sama. Berdiri berhadapan seperti ini terasa canggung dan aneh, "sorry ya ganggu lo."
"Ra—Rayna. Sejak kapan lo ada di sini?" tanya Sena yang tatapannya tidak beralih dari Rayna. Rayna mengalihkan tatapannya ke depan.
"Baru, kok," jawabnya singkat.
Ada keheningan yang cukup lama di antara mereka, baik Rayna maupun Sena saling terdiam dengan perasaan asing yang bercokol di hati masing-masing. Rayna tidak tahu harus mengucapkan apa. Seperti biasa kata-kata yang sudah ia susun sedemikian rupa mendadak buyar saat berhadapan langsung dengan Sena. Maka Rayna memilih untuk memfokuskan pandangannya ke depan, menatap langit yang tidak mendung dan juga tidak cerah itu, barangkali dengan begitu pikirannya kembali tenang.
"Maaf kalo kehadiran gue cuma bikin lo sakit hati," ucap Sena pelan. Rayna diam, entah kenapa ucapan Sena itu membuat Rayna merasa sedih. "Gue sama sekali nggak pernah berniat menyakiti lo, Rayn. Gue hanya melalukan apa yang terlihat di depan mata gue. Tapi gue nggak menyadari kalo ternyata itu bikin lo sakit hati," lanjut Sena.
Rayna dengan cepat menoleh, ia menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya aneh mendengar Sena meminta maaf akan hal itu. "Gue bukan sakit hati karena kehadiran lo, Bang. Gue sakit hati karena gue tahu selama ini gue berada di temapt yang salah. Kehadiran gue yang justru membingungkan hidup kalian," sanggah Rayna.
Hal yang dilakukan Sena selanjutnya membuat Rayna sedikit terlonjak, Sena berhambur ke dalam pelukannya. Rayna kembali diam, tidak tahu harus berbuat apa. Ada kenyamanan sekaligus kesedihan yang Rayna rasakan. Pelukan ini membuat Rayna merasa bahwa ini adalah sebuah kesalahan, tetapi ia tidak ingin beranjak dari Sena.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable
Novela JuvenilRayna Roseline, gadis yang terjebak di dalam masa lalunya. Ia begitu sulit melupakan. Ketika ia mulai lupa keadaan justru memaksanya kembali bertemu dengan masa lalunya itu. Seakan waktu memang sedang mempermainkan perasaannya, atau justru ingin men...
