||52. Memilih Pergi||

262 10 2
                                        

🌧🌧🌧

"Ternyata lebih menyakitkan lagi ketika diabaikan oleh orang kau sayang, dibandingkan dengan fakta bahwa kondisimu tak baik-baik saja."

🌧🌧🌧

Kantin sekolah seperti biasa ramai dan dipadati siswa-siswi, sekitar lima ratusan orang berada di sana. Rayna melangkah masuk, dan kali ini bersama Dio bukan Shasa. Ia dan Dio memilih duduk berhadapan di kursi kantin yang masih kosong.

Sedari tadi Rayna tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya yang membuat Dio di depannya memicing dan bertanya, "Lo kelihatan seneng banget hari ini, Rayn. Ada apa?" Dio tersenyum, ia juga ikut senang jika melihat Rayna senang.

Rayna senyum semakin lebar. Sambil mencondongkan badannya sedikit ia menjawab, "Lo tahu, Kak? Tadi gue dihubungi Dokter Kira kalo hasil pemeriksaan kemarin udah bisa dilihat besok. Gue beneran nggak sabar buat lihat hasilnya. Semoga cocok, ya."

Rayna tampak begitu antusias dan itu justru membuat Dio tiba-tiba saja diam mendengar penuturannya. Seminggu ini Rayna memang disibukan dengan berbagai pemeriksaan karena ada salah satu orang yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk Rayna. Ia tentu senang bukan main, setelah penantian lama akhirnya ada juga ginjal untuknya. Kemarin ia baru saja selesai melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui apakah ginjal itu cocok untuknya, dan Dokter Kira memintanya datang kembali besok untuk mengetahui hasilnya.

"Memang semuanya belum pasti. Tapi, gue sangat berharap ginjal itu cocok buat gue. Setelah itu gue nggak sakit-sakitan lagi, kan, Kak?"

Dio mengangguk pelan sambil tersenyum. "Gue ikut senang, Rayn, gue juga berharap yang terbaik buat lo. Tapi, apa pun hasilnya nanti lo tetap kuat, ya?" Rayna mengangguk. Semoga saja hasil yang keluar sesuai yang diharapkan. Dio sangat ingin melihat Rayna sembuh seperti semula, Rayna juga sudah begitu senang saat ini dan tampak tidak sabar. Jangan sampai hasil itu mengecewakannya.

Rayna tersenyum lembut, ia lalu menggenggam kedua tangan Dio membuat Dio sedikit tertegun. "Lo bisa, kan, temani gue lagi besok?"

Dio balik menggenggam tangan Rayna sambil mengangguk. "Tentu. Selalu."

"Makasih banyak, ya. Gue sayang sama lo." Dio malah terkekeh mendengar Rayna berucap demikian.

"Gue lebih sayang sama lo, Rayn." Ia beralih mengusap puncak kepala Rayna.

Memang Dio yang selalu menemani Rayna ke rumah sakit, tidak pernah ada yang lain. Dio yang selalu ada utnuk Rayna dimana pun dan kapan pun.

"Ya udah, biar gue yang pesan makanan. Lo mau makan apa?" tanyanya sambil berdiri.

"Apa aja."

"Oke, tunggu, ya." Rayna mengangguk dan Dio berbalik, berbaur dengan kerumunan siswa lain yang tengah mengantri.

♡♡♡

Di lain sisi--seperti biasa--di pojokan kantin lima orang sekawan tengah berkumpul dengan makanan tersaji di meja. Empat di antaranya berbincang dengan begitu hangat, sedangkan satu lagi termenung sambil tatapannya tak beralih dari sepasang orang yang baru saja datang ke kantin dan duduk berhadapan di jarak beberapa meter darinya.

Sepasang orang itu tampak begitu bahagia, senyum senang pun tergambar sempurna di kedua bibir mereka. Ada sebagian hatinya yang merasa sakit melihat itu, tetapi sebagian lainnya ... kecewa? Sena langsung saja mengalihkan pandangan ke arah lain saat perempuan itu, yang tak lain adalah Rayna menggenggam kedua tangan Dio. Hatinya panas dan tidak rela melihatnya.

"Dilihat-lihat Rayna makin deket aja, ya, sama sepupu tengil lo, Sen," celetuk Romi.

Sena tidak menyahuti apa-apa ucapan Romi. Pikirannya sedang tidak berada di sini. Satya, Tiara, dan Farhan pun sudah teralihkan dari perbincangan awal mereka dan ikut menganti Rayna serta Dio di meja lain.

UnforgettableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang