||22. Cerita Di Penghujung Senja||

280 18 0
                                        

🌧️🌧️🌧️

"Jangan pernah kau samakan senja dengan kehilangan. Kehadiran senja memang sementara, tetapi ia akan berusaha kembali di keesokan harinya."

🌧️🌧️🌧️

Sore hari adalah waktu yang paling Rayna sukai, terutama saat cuaca sedang bersahabat seperti saat ini, langit terlihat sangat menawan dengan warna biru yang mendominasi serta awan-awan putih yang bergerak cepat di sekitarnya. Burung pun turut bergembira mengepakkan sayap mereka, seolah-olah langit miliknya dan berhak dikuasainya.

Di bawah langit—di sekitar Rayna, siswa-siswi yang baru saja keluar dari area sekolah pun ikut berceloteh ria. Waktu sore adalah waktu yang sangat menyenangkan bagi mereka, karena telah terbebas dari ruangan yang beberapa jam lalu telah menyekap dan juga memaksanya mengonsumsi materi yang memusingkan, dan terkadang membosankan. Bagi siswa bubar sekolah adalah hal yang paling dinanti-nanti, walaupun tak jarang ada juga yang ingin berlama-lama di sekolah.

Rayna berjalan seorang diri di trotoar menuju halte bus, ia baru saja berpisah dengan Shasa di gerbang sekolah. Sampai pada akhirnya suara yang begitu familiar menggema di belakang tubuhnya, memanggilnya dengan sebutan yang khas.

"Hujan ... hujan ...!"

Rayna meringis mendengar suara panggilan itu. Apa cowok itu tidak berpikir terlebih dahulu sebelum memanggilnya dengan sebutan semacam itu? Tentu saja orang-orang yang tidak tahu ia sedang memanggil Rayna akan kebingungan karena ia berteriak demikian di cuaca yang cerah benderang. Rayna tahu siapa pemilik suara bass itu, ia tidak berniat berhenti melangkah. Biar lah reputasi si pemanggil  menurun karena kecerobohannya sendiri.

Rayna sungguh tidak bisa menahan tawa saat melihat orang-orang di sekitarnya menatap cowok itu dengan tatapan bingung, penuh pertanyaan, dan kekhawatiran. Berharap cowok yang berteriak 'hujan' benar-benar masih memiliki akal sehat.

Cowok itu berhenti berlari, ia sudah berdiri di samping Rayna dengan napas tersengal. "Lo budeg atau gimana si, Rayn? Gue dari tadi manggil lo, tapi nggak nyaut-nyaut juga," sungut Sena yang membungkukkan badannya untuk mengatur napas.

Belum sempat Rayna menjawab, suara motor yang menderu menghampiri mengalihkan perhatiannya, beberapa motor itu berhenti tepat di samping Rayna dan juga Sena. Romi, Farhan dan juga Satya yang membonceng Tiara di belakangnya.

"Sena sinting, ternyata lo ganteng-ganteng bego juga ya," semprot Romi tanpa aba-aba diikuti kekehan teman-temannya yang lain.

"Mata lo kenapa, Sen, minus?" Mereka berempat tertawa terbahak-bahak, Rayna pun tak bisa lagi untuk tidak tertawa kali ini, ia mengerti apa maksud teman-teman Sena. Tapi justru Sena lah yang tidak mengerti apa maksud teman-temannya.

"Lo semua pada kenapa, si?" tanya Sena keheranan.

"Lo masih waras kan Sen, teriak hujan padahal cuaca cerah kaya gini? Lo nggak lihat tatapan bingung semua orang?" Ucapan Satya membuat Sena menaikan sebelah alisnya, ia lalu melirik ke sekitar di mana masih banyak orang yang menatapnya keheranan.

Seperti baru tersadarkan, Sena menepuk jidatnya keras-keras karena baru paham apa yang dimaksudkan temannya itu. "Astaga reputasi gue. Pantesan aja orang-orang kok liatin gue terus, gue bisa disangka gila kalo gini ceritanya." Teman-teman Sena menggelengkan kepala serentak.

"Lo bukan lagi disangka gila, tapi langsung di bawa ke rumah sakit jiwa kalo lo teriak-teriak hujan lagi di cuaca yang cerah kaya gini, Sen." Sena mendengus mendengar ucapan Romi.

"Mendung tak berarti hujan dan hujan belum tentu ada mendung," elak Sena tidak mau kalah dengan teman-temannya. Lagipula, ia mana tahu jika orang-orang menatapnya kebingungan seperti itu? Toh, Sena memang sama sekali tidak perduli.

UnforgettableCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang