🌧️🌧️🌧️
"Kematian memang tidak akan ada yang tahu, bahkan tidak akan pernah bisa ditolak. Takdir yang sudah menentukan itu semua."
🌧️🌧️🌧️
"Dia adik gue, Rayn." Rayna reflek menoleh. Dio menjawab tepat sekali seperti apa yang ia pikirkan. Tapi itu tidak cukup untuk menjawab semua kebingungan Rayna. Kenapa ia sampai tidak tahu jika Dio punya adik? Tidak, Rayna memang tidak seharusnya tahu, tetapi ia ingat betul Sena pernah mengatakan bahwa Dio adalah keluarganya satu-satunya.
"Adik kandung lo?" tanya Rayna hati-hati. Dio mengangguk, semakin membuatnya menyimpan banyak pertanyaan, "gue ... gue baru tahu kalo lo punya adik. Sekarang dia di mana? Kok gue nggak pernah liat dia?" Dio kembali menghembuskan napas gusar, membuat Rayna gugup takut-takut pertanyaannya itu salah.
"Dia udah nggak ada, Rayn." Rayna tertegun, apalagi saat melihat raut wajah Dio yang semakin tidak enak dipandang. Bukan hanya sendu, ia bahkan terlihat merasa bersalah.
"Sorry, gue nggak tahu." Dio dengan cepat menggeleng dan menatap Rayna lurus.
"Gue memang mau cerita sama lo." Dio tersenyum, senyum yang Rayna tahu adalah senyum yang dipaksakan.
"Ceritain aja kalo ada yang mengganjal di hati lo, biar lebih tenang." Rayna mengusap lembut bahu Dio berharap dengan begitu dia jadi lebih tenang.
Dio menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan, sedangkan Rayna sendiri hanya diam bersiap untuk mendengarkan keluh kesah Dio.
"Dua tahun yang lalu—saat gue akan masuk SMA, adik gue—" Dio menjeda ucapannya, terlihat kesulitan untuk menceritakan hal yang membuatnya berubah seketika itu, "adik gue naik kelas dengan peringkat pertama di kelasnya. Dia bahagia banget saat itu, begitupun gue sama keluarga," tutur Dio mulai bercerita dengan intonasinya yang lambat.
Rayna terus memperhatikan, ia tidak ingin memaksa Dio untuk terus bercerita. "Bokap sama Nyokap mau ajak dia jalan-jalan ke tempat yang dia mau sebagai hadiah, tapi dia nolak itu, dia cuman mau habisin waktu seharian sama gue di taman bermain. Gue saat itu bingung, karena gue juga udah ada janji sama temen buat ngerayain kelulusan. Tapi akhirnya gue ikutin kemauan dia karena nggak mau merusak kebahagiaan dia, gue pikir kumpul sama temen bisa kapan aja. Gue nggak mau liat dia sedih, dia benar-benar sumber kebahagiaan gue, Rayn." Rayna mengangguk meyakinkan Dio bahwa ia pun percaya Dio sangat menyayangi adiknya, "saat itu dia benar-benar bahagia, tapi kebahagiaan itu nggak bertahan lama. Semua nggak seindah yang kita harapkan, diperjalanan menuju taman bermain ...." Dio menghembuskan napas keras, ia menunduk sangat dalam menyembunyikan diri di sana. Rayna sendiri hanya bisa mengusap punggung Dio untuk menguatkan.
"Nggak usah dilanjutin kalo itu bikin lo sakit." Dio menggeleng dan kembali mengangkat kepalanya, Rayna tahu Dio sangat terluka saat ini, tetapi masih bersikeras untuk bercerita.
"Saat itu ... motor kita mengalami kecelakaan di jalan. Kita langsung dilarikan ke rumah sakit, tapi gue benar-benar nggak tahu apa-apa, gue koma selama lima hari. Sampai Bokap sama Nyokap bilang kalo adik gue udah nggak ada karena kecelakaan itu ... dunia gue benar-benar hancur, Rayn. Gue ngerasa bersalah, andai aja gue nggak ikutin kemauan dia saat itu mungkin dia nggak—" Rayna dengan cepat menggeleng sambil menggenggam kedua tangan Dio begitu erat. Ia sama sekali tidak setuju dan tidak mau mendengar kelanjutan cerita Dio, Rayna tidak ingin Dio kembali bersedih atau menyalahkan dirinya sendiri seperti itu.
"Nggak Kak, itu bukan salah lo. Semua itu udah digariskan takdir, lo sama sekali nggak bersalah," tegas Rayna, "adik lo pasti bahagia banget karena punya kakak seperti lo, yang mau ikutin kemauan dia walaupun belum kesampaian. Lo nggak usah merasa bersalah kaya gini, Kak." Kali ini Dio yang menggenggam kedua tangan Rayna begitu kuat, membuat Rayna sedikit meringis, tetapi ia sama sekali tidak protes akan hal itu. Itu lebih baik, daripada harus melihat Dio terus menyalahkan dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgettable
Teen FictionRayna Roseline, gadis yang terjebak di dalam masa lalunya. Ia begitu sulit melupakan. Ketika ia mulai lupa keadaan justru memaksanya kembali bertemu dengan masa lalunya itu. Seakan waktu memang sedang mempermainkan perasaannya, atau justru ingin men...
