CHAPTER 32

687 56 5
                                        

Sorry For Typo

















Keluarga Jung tengah menyantap makan malamnya dengan khidmat, formasi keluarga yang lengkap ditemani berbagai hidangan serta suasana yang hangat membuat sudut bibir Taehyung terangkat.

"jangan lupa minum obatmu nak" perintah kepala keluarga sembari mengusak pelan pucuk kepala sibungsu

Taehyung tersenyum lalu mengangguk, "ne appa"
"setelah minum obat istirahat lalu tidur, besok kau mau sekolahkan sayang?" lagi-lagi Taehyung tersenyum dan mengangguk "ne eomma"
"jaga kesehatan, jangan sakit"
"ne hyung"

Sungguh rasanya benar-benar menyenangkan, sebelumnya tak pernah dia merasakan perhatian sebegitu manisnya, terutama dari keluarganya, mungkin hanya satu orang, yang mulai terasingkan dari tempatnya semula, dari hati dan pikiran Taehyung.

.
.
.

"huft, aku sudah mencari hampir keseluruh kamar tapi kemana passportku, aku tidak mungkin menghilangkannya kan?" entah pertanyaan itu ditunjukan kepada siapa

Pemuda bertubuh tegap dan berlesung pipi itu berkacak pinggang, rencananya dia akan pulang ke Korea dan menemui adiknya, sayangnya benda yang dia perlukan tak kunjung ketemu.

Peaches and cream
Sweeter than sweet
Chocolate cheeks
And Chocolate wings

Bunyi itu membuat fokus Namjoon buyar, dengan langkah malas dia menghampiri benda pipih yang dia letakkan diatas nakas sebelah tempat tidurnya.

Mata naganya membulat sempurna kala membaca seseorang yang tengah menghubunginya, dengan segera dia membawa tubuhnya kebalkon kamar.

"yeobseyo" hatinya berdesir tak karuan, sungguh. Cairan bening menetes begitu saja dipipi mulusnya
'yeobseyo'
"boghosipda"
'eomma juga merindukanmu, putra tampan eomma, mian ne eomma tak pernah menemuimu dan saudara-saudaramu setelah kejadian itu'

Mendengar itu, Namjoon mendongak menatap langit Tokyo tak terlihat namun dia yakin ibunya sedang menahan tangis disebrang sana.
"eomma...bagaimana kabar eomma?" pemuda berIQ tinggi itu berusaha mengalihkan pembicaraan
'ne, kabar eomma? Tentu baik, hanya saja pekerjaan disini semakin banyak sedangkan tubuh eomma tak sekuat dulu lagi, kau tau Joonie? Mungkin saja ada benang putih dikepala eomma'

Namjoon terkekeh mendengar penuturan ibunya, wanita hebat yang sosoknya hanya mampu dia tatap menggunakan perantara, tanpa mampu memandangnya langsung dengan mata naga miliknya.

"kalau begitu, eomma harus banyak istirahat, jaga kesehatan eomma, jangan sakit, dengan begitu eomma bisa menemuiku segera"
'kau boleh pegang janji eomma, eomma berjanji akan datang kembali dalam hidup kalian, entah putra-putra eomma akan menerima kehadiran wanita tua ini atau tidak'

"aku tunggu saat itu eomma"
'Joonie...adikmu baik-baik sajakan? Adikmu dimana?' Namjoon mendadak kelu, lidahnya mengapa membeku? Apa yang harus dia ucapkan?

"aku sedang tidak bersama Taehyung, tapi Taehyung baik-baik saja eomma, aku yakin"

'syukurlah kalau begitu, ah ne! ya, saya akan kesana!' pemuda berdimple itu yakin kalau ibunya sedang sibuk sekarang
'mian nak, eomma sudah harus bekerja lagi, kalau begitu eomma tutup telponnya ne, bye'
"bye, eomma"

Sambungan telfon ditutup oleh ibunya, kalau boleh meminta adik Seokjin itu ingin sekali mendengar suara ibunya lebih lama, hingga hpnya kehabisan batraipun tak apa.

Tapi dia mengerti, Namjoon sangat tau kalau ibunya itu wanita karir waktu untuknya tak selamanya ada, bahkan sudah bertahun-tahun suara hangat itu tak menyapa rungunya.

SORRY || kthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang