[46] Izin Menyayangi Saja Sudah Cukup

192 35 2
                                        

Selma baru saja sampai di rumah sakit ketika ponsel di saku seragamnya berbunyi. Panggilan tersebut dari mama.

"Halo, Ma. Selma udah di depan." Seraya berjalan, Selma menjawab panggilan itu.

"Bisa langsung ke kantin dulu enggak? Beli makanan buat mama, buat kamu juga."

"Bisa. Mama di ruangan, kan?"

"Iya, Sel. Langsung ke sini aja nanti."

Setelahnya, panggilan singkat itu pun terputus. Selma memasukkan kembali ponselnya pada saku seragam, lantas membelokkan langkahnya menuju kantin rumah sakit yang ada di sayap kiri.

Suasana kantin di sore hari itu terlihat sepi, sesuatu yang wajar karena waktu makan siang sudah lewat. Selma langsung menuju meja resepsionis dan memesan dua porsi nasi ayam. Kurang lebih satu menit, sekantung kresek berisi dua kotak nasi diterimanya. Setelah melakukan transaksi pembayaran, Selma segera melenggang dari sana.

Tinggal beberapa langkah ruangan Azel, dari sini Selma bisa melihat Riana dan Dokter Tio yang tampak berdiri di depan ruangan. Kedua orang itu sedang bercakap-cakap serius, dan Selma penasaran akan hal itu.

Dengan langkah hati-hati, Selma mendekati keduanya. Sebisa mungkin ia tak menimbulkan suara yang berarti agar mama dan dokter tidak terganggu.

Dari arah sedekat ini, kini Selma bisa melihat wajah Riana dengan jelas. Keningnya mengernyit tatkala mendapati ekspresi sendu Riana.

"Kami akan mengusahakan yang terbaik, Bu. Namun, kalau dalam waktu dekat ini, tidak adanya pendonor, entah apa yang akan terjadi." Terlihat Dokter Tio menghela napas berat.

"Saya dan keluarga juga sedang berusaha, jadi tolong ... tolong sembuhkan anak saya, Dokter."

Dokter Tio mengangguk, lantas tersenyum menenangkan. "Banyak-banyak berdoa, ya, Bu. Sekarang ini, kekuatan doalah yang bisa kita andalkan."

Selma bisa merasakan pegangannya di kantung makanan melemah. Ia tidak bodoh untuk mengerti kemana arah pembicaraan tersebut.

Ketika Dokter Tio sudah pergi melaluinya, Selma segera menghampiri sang mama. Mata gadis itu memanas ketika melihat raut wajah Riana yang pucat sekaligus sendu.

"Mama baik-baik aja?" tanya Selma dengan suara serak.

Riana mengangguk pelan, terselip senyum palsu di bibirnya. "Azel akan sembuh, 'kan, Sel? Iya, 'kan? Kakak kamu enggak boleh pergi."

Selma menitikkan air mata pertamanya kala mendengar racauan lirih itu. Ia mendekap tubuh sang ibu lantas memberinya elusan lembut di punggung.

"Azel anak yang kuat, Ma. Dia ... bakalan bertahan," ujar Selma. Meski kalimat itu terdengar optimis, tetapi Selma mengucapkannya dengan ragu.

"Kita harus cari pendonor buat Azel." Riana berucap dengan tegas. Jejak air mata tampak di kedua pipinya yang mulai mengeriput.

Selma memberinya anggukan. "Kita semua sedang berusaha, Ma. Papa, mama, aku, juga dokter. Semuanya pengen Azel bertahan. Jadi, seperti kata Dokter Tio, yang bisa kita lakukan sekarang itu adalah berdoa."

Riana tergugu di tempat, ia kembali memeluk anaknya. Perempuan itu terlihat rapuh, dan sungguh, Selma tidak kuat melihatnya.

"Kalo enggak ada pendonor dalam waktu dekat ini, biar punya Mama aja." Ucapan Riana itu mendapat reaksi berlebihan dari Selma. Gadis itu melepas pelukan mereka, lantas menggeleng kuat.

"Enggak! Mama enggak boleh ngorbanin diri!" tegas Selma, ada kepahitan dalam nada suaranya.

"Azel anak Mama, Sel! Mengorbankan diri untuk anak bukan perbuatan sia-sia."

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang