[50] Kepingan Terakhir

160 23 7
                                        

"Selma, dengerin gue baik-baik. Gue enggak bakalan ngulang ini lagi, jadi please stay."

Selma yang sedang menempelkan ponsel di telinga kirinya, sedang tangan yang satunya menuang air putih ke gelas sontak mengernyit. Suara Kanin di seberang sana tampak serius, dan dia cukup penasaran apa yang menyebabkannya.

"Okay, gue bakalan diem dan dengerin baik-baik," ujar Selma setelah diam beberapa detik. Terdengar hela napas dari seberang sana sebelum kemudian serentetan kalimat dikeluarkan Kanin.

"Satu hari sebelum Azel meninggal, Arial kecelakaan, Sel. Malem pas abis dari rumah sakit nengokin Azel, pulangnya dia tabrakan gitu sama truk. Gue dapet kabar ini dari Gathan, dan waktu itu gue mau langsung ngasih tau lo pas esok harinya. Tapi malah kabar buruk yang kita semua dapetin. Gue pikir ... waktu itu lo belum siap buat dengerin fakta ini, jadi gue simpen dulu sampe lo bener-bener enggak terfokus atensinya ke Azel.

"Gue tau, gue salah, Selma. Tapi gue bingung harus ngapain waktu itu. Dan Gathan serta Alden pun ternyata lakuin hal yang sama, nutupin ini semua dari lo untuk sementara.

"Waktu awal-awal, keadaan Arial juga buruk. Dia kritis dan dokter udah bilang kalo kemungkinan selamatnya cuma beberapa persen. Tapi kuasa Tuhan, gue baru aja dapet info kalo Arial udah ngelewatin masa kritisnya. Dan semua, termasuk maminya Arial ngomong ke gue kalo udah saatnya lo tau.

"Sekarang Arial ada di RS Medika, Paviliun Ceria no. 1105. Kalo mau ke sana dan nggak mau sendirian, gue bisa temenin, Sel.

"Sekali lagi, maaf, ya, udah nutupin ini semua dari lo."

Kalimat Kanin selanjutnya tidak didengar lagi oleh Selma. Raut wajah perempuan itu berubah sendu sebelum kemudian dia beranjak dengan gerakan terburu-buru. Secepat kilat dia berlari ke kamar, meraih dompet serta kardigan cokelat muda untuk menutupi piama yang dikenakannya.

Melewati ruang tengah, Selma bisa melihat keberadaan Vian dan Riana yang tengah fokus menonton acara televisi.

"Ma, Pa, pamit dulu, ya? Selma pinjem Pak Kardi dulu. Assalamualaikum!"

Tanpa menunggu balasan, Selma berlari kencang keluar dari rumah. Beruntung, keberadaan Pak Kardi terdeteksi dengan cepat oleh penglihatannya. Supir Azel, yang sekarang merangkap menjadi supir seluruh anggota keluarga itu tengah mengelap mobil.

"Pak, anterin saya ke RS Medika, ya? Cepet!"

"Siap, Non."

Selma masuk ke mobil, disusul Pak Kardi yang segera mengemudikan kendaraan tersebut keluar dari halaman. Hiruk pikuk kota Bandung di malam hari selalu menjadi pemandangan favorit Selma. Seolah-olah kota itu ingin menyaingi kemacetan Jakarta.

Namun, malam ini, Selma rasa-rasanya ingin segera menyudahi perjalanan tersebut dan segera sampai di tujuan. Bagaimana mungkin dia bisa tidak tahu kalau Arial habis kecelakaan?

Sekejap saja air mata Selma mulai menetes. Belum reda kedukaannya akan kepergian Azel, kini dia sudah dihadapkan lagi dengan ujung kehilangan. Meski Kanin mengatakan bahwa Arial baru saja berhasil melewati masa kritisnya, Selma tetap tidak bisa tenang.

Bagi Selma, semua orang yang menutupi fakta kecelakaan Arial darinya, sungguhlah jahat. Tidak peduli jika mereka melakukan itu untuk membuat Selma tidak kepikiran. Baginya, menutupi hal itu sama saja membunuh Selma secara pelan-pelan.

Tapi di sisi lain, Selma juga tidak bisa marah. Dia sadar betul, beberapa hari belakangan ini dia terlalu sedih. Terlalu berdiam dengan kedukaannya sendiri sampai-sampai tidak sadar jika keberadaan Arial absen dari hari-harinya.

Setelah melewati waktu berpuluh-puluh menit, sampailah mobil yang ditumpangi Selma di parkiran rumah sakit. Dengan gesit, dia langsung turun dan berlari masuk ke gedung tersebut. Mampir sebentar di area resepsionis demi menanyakan ruangan yang disebut Kanin tadi ada di mana.

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang