[35] Penolakan Pertama

277 40 14
                                        

"Ih, sumpah, ya, Yal! Lo ngeselin banget!" Wajah Selma sudah merah padam, hidungnya kempas-kempis menahan kekesalan.

Bagaimana tidak, ia sedang sibuk menonton drama korea Its Okay To Be Not Okay di laptop, dan Arial datang-datang langsung menutup laptop itu.

Selma memang agak terlambat menonton drama itu. Bukan karena tidak ada waktu, pulsa kuotanya tidak memenuhi untuk mendownload. Dan terima kasih untuk wi-fi rumah Arial yang sangat kencang.

Yap, saat ini Selma memang sedang berada di rumah Arial. Beberapa hari ini, sepulang sekolah, ia sering mampir ke rumah cowok itu. Keduanya sedang mengerjakan projek pertama mereka.

Rencananya, minggu depan, Arial akan meng-upload video pembahasan materi tentang Sin-Cos-Tan. Tentunya akan dibantu oleh Selma dalam hal ilustrasi.

"Kita di sini tuh bukan mau nonton, ya!" sergah Arial galak. Cowok itu meletakkan perangkat laptopnya di meja berikut beberapa buku.

Saat ini keduanya memilih mengerjakan tugas itu di halaman belakang. Tepatnya di dekat kolam ikan. Di sana, ada sebuah meja pendek berbentuk persegi empat yang dilengkapi dengan kursi bantal.

"Ih, tapi, kan, tugas gue tuh udah selesai. Tinggal lo edit-edit doang," protes Selma. Laptopnya masih ditahan Arial, membuat ia menjadi misuh-misuh sendiri.

Arial menggeleng seraya menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Selma. "Nggak boleh liat cowok lain kalo lagi sama gue."

"Hah?"

"Iya! Lo tuh, ya, kebiasaan banget kalo lagi sama gue, suka nontonin cowok-cowok plastik itu. Gantengan juga gue!"

Mulut Selma terbuka sedikit. Detik setelahnya ia menyemburkan tawa. Menurutnya, Arial ini benar-benar konyol.

"Lo cemburu sama Oppa-oppa gue gitu?"

Arial berdecak sejenak. "Ya, enggaklah. Kurang kerjaan banget. Ya, tapi ini tolong dong kerja samanya. Gue lagi pusing-pusing edit, lo malah baper-baperan liat cowok Korea."

"Ih, lucu banget, sih, kalo lagi cemburu!" Tangan Selma terulur dan mencubit kedua pipi Arial dengan gemas. Membuat si empunya menjadi kesal.

"Sel!"

"Iya, Iyaaaal?"

"Lepasin!"

Karena tidak ingin diamuk, Selma segera melepas tangannya dari sana. Tawa masih dikeluarkan gadis itu, meski hanya tawa kecil.

"Lo makin hari makin berani, ya, sama gue? Udah bisa lawan singa emang?" tanya Arial dengan nada galak.

Kalau biasanya Selma akan langsung menciut, kali ini perempuan itu malah terkikik geli. Arial dengan wajah galaknya memang perpaduan yang sangat pas. Menarik sekali.

"Singa itu bakalan luluh kalo udah berhadapan sama hal yang dia sayang," ujar Selma dengan lembut. Tak lupa ia menampilkan senyum manisnya.

Arial terdiam sejenak, mendadak pasokan di udara menipis. Sial! Senyum itu masih saja melemahkannya!

"Udah, stop. Gue mau ngedit nih." Arial memilih mengalihkan pembicaraan. Tangan cowok itu mulai membuka laptop miliknya dan menghidupkan benda itu.

"Sambil ngedit, bisa, dong, gue nonton."

"Nggak boleh."

"Ck, terus gue cuman duduk diem aja gitu?"

Arial terlihat berpikir sejenak. Laptop milik Selma masih berada dalam tawangannya. Ia tak akan mengembalikan laptop itu kalau Selma masih menonton para cowok-cowok Korea itu.

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang