Angin tampak meniup dengan lembut. Langit berwarna biru, diiringi awan yang berarak seperti kapas. Pohon-pohon di sebuah tanah pemakaman tampak berjejer di pinggiran, menambah estetika. Menyembunyikan fakta bahwa tempat itu adalah tempat penuh duka sebab banyak yang mesti mengikhlaskan seseorangnya di sana.
Dan di antara bunyi gemerisik tangkai pohon yang bergesekan, ada sekumpulan manusia di tanah pemakaman tersebut. Mengartikan bahwa di sana ada makam baru, masih basah dan merah.
Setelah prosesi doa bersama dan menabur bunga, satu persatu manusia tersebut mulai meninggalkan tempat. Menyisakan beberapa manusia lainnya.
"Selma masih mau di sini?" Pertanyaan itu menyentak Selma dari ketermenungan. Dia menoleh dan mendapati wajah Riana. Wajah itu tampak tegar, tetapi Selma tahu ada setumpuk sesak dan getir di dalam matanya.
"Nanti Selma nyusul, Ma," ujar Selma, mengusahakan senyum terbaiknya.
Riana balas tersenyum, sebelum kemudian air mata mulai meleleh di pipinya. Air mata kesekian untuk hari ini. Lantas, kedua perempuan itu berpelukan. Riana menepuk-nepuk bahu Selma, berniat menguatkan, meski dirinya sendiri tengah dilanda rapuh tak berkesudahan.
"Selma anak yang kuat," bisik Riana tepat di telinga Selma.
"Always, seperti yang Mama bilang," balas Selma dengan nada lirih.
Sekitar satu menit, pelukan itu terlepas. Riana sekali lagi tersenyum, lantas menoleh ke arah Vian yang ada di belakangnya. Mengerti, pria itu maju dan menepuk-nepuk puncak kepala Selma dengan sayang.
"Anak Papa yang paling kuat. Enggak ada yang ngalahin." Ada getar dalam suara pria itu. Membuat Selma merasakan sesak di dalam hatinya. Namun, meski begitu, dia tetap memaksakan sebuah senyum. Tidak ingin membuat khawatir semua orang.
"Aku anak Papa dan Mama, jadi emang udah harus kuat." Selma mencoba berkelakar, dan itu rupanya berhasil meski dipenuhi kepalsuan.
Setelah berbasa-basi sejenak, pasangan suami istri itu mulai meninggalkan makam. Meninggalkan Selma dan seorang gadis yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.
"Lo enggak pergi juga, Nin?" Bukan bermaksud mengusir, tetapi Selma hanya tidak ingin Kanin melihatnya dengan kondisi seperti ini. Selma tidak bisa berpura-pura kuat lebih lama lagi. Air mata pertamanya memang sudah tumpah sejak di sekolah tadi, tetapi dia mencoba tegar saat prosesi pengajian hingga jenazah seseorang itu disalatkan.
Kanin memperbaiki selendang hitamnya, perempuan itu tersenyum tipis. "Gue enggak bakal pergi sebelum lo pergi juga, Sel."
"Jangan bercanda. Lo tau gue, 'kan?"
"Justru karena gue tau lo, makanya gue tetep di sini. Gue mau lo keluarin semua emosi lo, Sel."
"Gue enggak mau terlihat rapuh, Nin."
"Enggak ada salahnya untuk itu. Kenapa harus ditahan kalo dikeluarin bisa bikin lega?" Kanin mendebat. Dan hal itu membuat Selma mendelik tidak suka.
"Lo enggak bakal ngerti, Nin. Jadi please, tolong lo pergi. Gue pengen sendiri."
"Enggak." Kanin tetap pada pendiriannya.
Udara di sekitar Selma mulai mendingin, kedua tangannya mulai naik dan memeluk dirinya sendiri.
"Gue enggak mau lo liat gue nangis, Nin," lirih Selma. Pandangannya mulai menunduk.
Kanin menghela napas sesaat sebelum kemudian dia maju dan berdiri tepat di depan sang sahabat. Dia memegang dagu Selma dan membuat perempuan itu mendongak.
Lima detik, pandangan mereka berserobok. Kanin mengalihkan pandang lebih dulu. Dia tidak tahan, hatinya mencelos saat melihat beribu luka dan kegetiran di mata Selma.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halcyon [Completed]
Ficção AdolescenteSelma Tabitha bukanlah murid terkenal di Star High. Gadis berambut sebahu itu hanyalah siswi biasa yang beruntung bisa terangkat menjadi ketua drawing club. Hidupnya tenang-tenang saja dan terkesan monoton. Sampai suatu hari Selma melakukan sebuah k...
![Halcyon [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/228986441-64-k967674.jpg)