Prosesi cuci darah Azel selesai beberapa menit yang lalu. Kini, gadis berbibir pucat itu baru saja keluar dari ruang dokter Tio setelah diberi beberapa wejangan untuk tetap menjaga kesehatan.
Kali ini bukan Riana yang menemaninya, melainkan Selma. Hari ini Riana tengah menemani Vian keluar kota, urusan pekerjaan.
"Zel, lo bisa balik sendiri, kan? Maksud gue, sama Pak Nando aja?" Selma bertanya ketika keduanya sudah berada di lobi rumah sakit. Perhatian Selma sesekali terbagi, dari Azel ke ponsel di tangannya.
"Emang lo mau kemana?" tanya Azel balik.
"Gue ada janji sama Arial. Dia sekarang udah deket sini."
Kening Azel mengernyit, samar-samar ia bisa merasakan hatinya diselimuti awan kedengkian.
"Yaaa ... padahal baru aja gue pengen ngajakin lo liat barang-barang lucu di Hello Kitty Shop." Azel berujar dengan nada lemas. Raut wajahnya dibuat se-memelas mungkin. Berharap Selma membatalkan janjinya dengan Arial, dan memilih ikut dengannya.
Namun, Azel lupa, sosok di depannya ini bukanlah sosok yang dengan mudah melanggar janjinya.
"Lain kali aja deh. Gue gak enak, udah telanjur janji sama Iyal," ujar Selma dengan nada tak enak. Bagaimana pun, ia tidak ingin berada di posisi seperti ini. Memilih antara Arial dan Azel. Keduanya penting, dan sekali lagi, Selma tidak bisa memilih.
Azel menurunkan bahunya, tanda ia kecewa. Masih berharap Selma akan berubah pikiran. Namun, sekali lagi itu hal yang sia-sia. Karena motor vespa Arial sudah datang.
Azel bisa melihat raut wajah Selma langsung berubah sumringah ketika melihat kedatangan pemuda itu. Senyum Selma terlihat tulus dan tidak palsu. Dan seketika Azel tahu, Arial sudah termasuk hal yang penting untuk adiknya.
"Tunggu di situ dulu, gue mau nganterin Azel ke mobil." Selma berujar pada Arial sebelum membawa Azel menjauh dari sana.
"Yakin lo dibolehin mama keluar jam segini? Udah mau malem lho." Azel membuka suara ketika keduanya kini sudah sampai di mobil. Terlihat Pak Nando membukakan pintu penumpang seraya menunggu kedua majikannya selesai mengobrol.
"Gue udah izin tadi, dan dibolehin aja kok."
"Masih pake seragam?"
Selma menatap penampilannya. Seragam khas Star High memang masih melekat sempurna di badan. Selesai sekolah tadi, ia langsung menemani Azel ke rumah sakit. Tidak sempat berganti baju dulu.
"Nggak papa, gue bawa cardigan," ujar Selma seraya tersenyum tipis. Tangannya terampil mengeluarkan cardigan merah muda dari tasnya.
Azel lagi-lagi mengerutkan kening. "Lo seolah-olah udah mempersiapkan semuanya. Sebenernya, hubungan lo sama Arial itu apa, sih? Udah pacaran?"
Pertanyaan itu sukses membuat Selma terdiam. Cardigan yang baru saja ia keluarkan dari tas tak langsung dipakainya. Selma sibuk mencari jawaban dari pertanyaan tak terduga Azel barusan.
Pacaran, ya?
Bahkan sampai hari ini, Selma sama sekali tidak tahu hubungan seperti apa yang sedang ia jalani dengan Arial. Ia hanya mengikuti alur yang cowok itu buat. Walaupun Arial tidak pernah gamblang mengucapkan kata sayang mau pun cinta padanya, namun Selma yakin, pemuda itu juga menyimpan rasa yang sama dengannya.
Tapi, pertanyaan Azel barusan sukses membuat Selma tertampar telak. Rasanya ia ingin tertawa keras-keras. Selama ini, ia tak pernah mempermasalahkan jika Arial tidak mempertegas hubungan yang seperti apa mereka jalani. Selma hanya berusaha mengikuti skenario. Selma hanya mengikuti alur. Sampai suatu hari, Arial siap dan mengikatnya dengan hubungan yang lebih jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halcyon [Completed]
Fiksi RemajaSelma Tabitha bukanlah murid terkenal di Star High. Gadis berambut sebahu itu hanyalah siswi biasa yang beruntung bisa terangkat menjadi ketua drawing club. Hidupnya tenang-tenang saja dan terkesan monoton. Sampai suatu hari Selma melakukan sebuah k...
![Halcyon [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/228986441-64-k967674.jpg)