[10] Stiker Kepala Singa

397 52 5
                                        

Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kelas 11 IPS 1 bahkan sudah sepi, hanya menyisakan beberapa murid di sana. Dan di antara murid itu, ada Selma Tabitha. Gadis yang hari ini tampak membungkus seragam putihnya dengan cardigan merah muda itu sedang memegang ponselnya. Atau lebih tepatnya, sedang menghubungi seseorang lewat chat.

Arial Radezka W: Gue udah di parkiran. Dimana lo?!

Tanpa sadar Selma berdecak melihat balasan itu. Arial ini walaupun mereka tidak berinteraksi secara langsung, Selma masih bisa merasakan kegalakan cowok itu.

Selma Tabitha: Otw :) btw seloww dong

Arial Radezka W: Lo pikir gue lagi ngapain pake nyuruh-nyuruh gue seloww! Herann

Sabarr, Selma! Sabaar!

Gadis itu tak habis pikir dengan watak Arial yang sebenarnya. Cowok itu seperti mempunyai beban hidup yang berat dengan karakternya yang suka sekali marah-marah tidak jelas. Memikirkan hal itu membuat Selma sedikit bergidik. Kalau Arial benar sedang mengalami yang namanya beban hidup yang berat, kasihan juga. Sayang, ganteng-ganteng punya beban berat.

Menyimpan kembali ponselnya pada tas, Selma segera melangkah dengan tergesa menyusuri koridor. Sebenarnya hari ini ia ada rencana untuk berkumpul dengan teman se-ekskulnya. Apalagi kalau bukan untuk membahas kelanjutan lombanya besok. Tapi Selma sudah telanjur janji dengan Arial, atau lebih tepatnya, cowok itu tak mau dibantah. Membuat ia tak punya pilihan lain.

Sekitar lima menit berjalan, sampailah Selma di parkiran motor siswa. Mata bulatnya tampak menyusuri setiap jengkal parkiran, sedang mencari-cari sosok Arial. Tanpa perlu waktu yang lama, akhirnya ia menemukan keberadaan cowok itu.

Dengan langkah ringan, Selma segera menghampiri sosok Arial yang sedang duduk anteng di jok motornya. Posisi cowok itu sekarang berada di area parkiran yang berdekatan dengan pos satpam.

"Yuk, berangkat!" ajak Selma sesampainya ia di sana. Tak lupa, senyum ia ulas di bibirnya agar Arial tak menunjukkan kegarangannya.

"Lama banget lo! Ngapain aja di kelas? Semedi?"

Sudah Selma duga, ia pasti akan mendapat semburan galak dari Arial. Namun, Selma hanya bisa memberikan senyum terbaiknya. Bahaya kalau ia terpancing, bisa-bisa ia bertengkar dengan Arial di sini.

"Yaaa, maaf. Tadi gue nunggu koridornya lega dulu, gue gak suka desak-desakan gitu," jujur Selma. Ia memang biasanya suka mendekam beberapa menit di kelas, menunggu koridor sedikit lega dari desak-desakan murid yang ingin pulang.

Terlihat Arial menghela napas sejenak, sebelum ia mengulurkan sebuah helm untuk Selma.

"Yaudah kita berangkat sekarang, Pak Kardi pasti udah nungguin."

Mata Selma mengerjap-ngerjap lucu seraya menerima helm berwarna cokelat dari tangan Arial. Ia sempat terpaku sejenak, sebelum senyum kecil terulas di bibirnya. "Lo beneran beliin helm buat gue?" tanyanya.

"Ralat. Gue beli itu buat siapa aja yang bakalan pulang sama gue," kilah Arial tanpa menatap wajah Selma. Telinga cowok itu tampak memerah, menahan gugup yang tiba-tiba saja datang. Untung, pemandangan itu tak Selma perhatikan. Karena kalau iya, sudah pasti Arial akan diledek habis-habisan.

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang