[22] Pengakuan Palsu

367 45 5
                                        

"Duhh, gak kerasa, ya, Senin nanti udah UTS aja. Padahal gue belum ada persiapan sama sekali."

Selma yang sedang sibuk mengunyah keripik kentang menoleh ke arah Kanin yang duduk di depannya. Saat ini, kedua sahabat itu sedang menghabiskan waktu istirahat pertama di gazebo yang ada di taman belakang sekolah.

Tidak seperti taman-taman belakang sekolah lainnya yang terkesan kurang terawat. Di Star High, taman belakangnya menjadi tempat paling nyaman untuk tiduran setelah UKS.

Di sana, berdiri beberapa gazebo di pinggiran taman. Lalu banyak pohon mangga yang di bawahnya disediakan meja dan kursi. Tempat itu cocok sekali dipakai untuk kerja tugas. Tak ketinggalan air mancur mini serta beberapa jenis bunga juga ada di sana.

"Sel? Lo denger gue gak, sih?!" Kanin berdecak kesal ketika tak mendengar respon dari Selma. Ternyata sahabatnya itu sedang sibuk mencomot keripik kentang seraya fokus menatap buku Sejarah yang terbuka lebar di depannya.

Kanin menghela napas jengah, hampir seminggu ini ia melihat Selma yang suka sekali belajar dimana saja dan kapan saja. Oh, bukan. Hampir dua minggu ini, ditambah kemarin menjelang seleksi OSN.

"Hmm." Sekalinya merespon, hanya gumaman tak jelas yang Selma keluarkan. Membuat Kanin misuh-misuh di tempat.

"Gimana sama nasib gue nanti. Gak pernah belajar sama sekali, padahal UTS tinggal dua hari lagi." Kanin kembali bercuap-cuap. Kali ini diiringi tampang memelasnya.

Selma refleks menghela napas jengah. "Udah tau waktunya bentar lagi, malah gak pernah belajar."

"Gimana dong, Sel. Gue, 'kan, akhir-akhir ini sibuk banget."

"Sibuk ngurusin pendakian, sih, iya," tukas Selma diiringi putaran bola mata. Ia tahu sekali tabiat sahabatnya itu. Kanin memang akhir-akhir ini sering berkumpul dengan teman se-ekskulnya. Mereka sedang merencanakan pendakian ke gunung Rinjani libur semester nanti. Padahal masih lama, tapi sudah dibahas.

"Gak sabar pengen ke Rinjani. Duhh, pengen cepet-cepet libur semester deh."

Kanin ini memang ajaib sekali. Selma menggerutu diam-diam, sudah tak tertarik lagi terlibat obrolan dengan sahabatnya ini. Namun itu tak berlangsung lama, ketika Kanin kembali bersuara.

"Sel, ngomong-ngomong lo ada hubungan apa sama Arial?"

Mendadak materi Sejarah yang sedang dipelajarinya, tak menarik lagi. Selma menatap Kanin dalam diam.

Arial, ya?

Selma dapat merasakan hatinya menghangat mendengar nama itu disebut. Sejak insiden tak terduga malam itu, hubungannya dengan Arial memang bisa dikatakan semakin dekat.

Hampir setiap malam cowok itu selalu mengiriminya chat. Walaupun hanyalah kata-kata singkat dan penuh tanda seru di belakangnya. Namun, itu cukup membuat Selma menjadi belingsatan sendiri karena kesenangan.

"Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?"

Kanin memutar bola mata. "Gimana gue gak nanya kalo tiap hari tuh Arial selalu nyamperin lo ke kelas dengan alesan berbeda-beda. Mau bahas pelajaranlah, padahal kalian beda jurusan. Mau bahas ekskul, jelas-jelas ekskul kalian gak ada sangkut pautnya sama sekali, yaa ... kecuali sama OSIS, sih. Tapi, itu sedikit gak masuk akal. Apa jangan-jangan, Arial suka sama lo?"

Selma membulatkan mata mendengar hipotesa tak masuk akal itu. Mana mungkin cowok seperti Arial suka dengannya. Walaupun, Selma berharap akan hal itu, tapi ia sama sekali tak ingin percaya dengan kata-kata Kanin.

"Gak usah ngaco!" sergah Selma.

"Gue gak ngaco, ye, tolong. Gue bilang gini ada alesannya kali. Biasanya kalo cowok suka nyamperin dengan berbagai alesan, dia itu tertarik sama kita."

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang