[42] Timbangan Tak Seimbang

198 39 6
                                        

Bu Lina keluar dari kelas 11 IPS 1 tepat ketika bel istirahat jam pertama berbunyi. Layaknya domba yang diberi komando, para penghuni kelas itu berbondong-bondong ikutan keluar. Bersiap mengisi perut yang keroncongan di kantin.

Selma selesai membereskan peralatan menulisnya ketika Kanin menyambar lengannya dengan cepat.

"Aduuh! Pelan-pelan, Nin," protes Selma terdengar sebal. Kini keduanya sudah berjalan beriringan menuju kantin. Arus murid tampak padat di sepanjang koridor karena para siswa kelas sebelah rupanya juga baru keluar.

"Laper." Hanya satu kata itu tanggapan Kanin. Selma tak lagi memberi protes apapun. Ia pasrah saja ditarik sahabatnya menerjang arus murid yang lama-lama semakin sesak saja.

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah keduanya di kantin lantai satu. Tempat itu sudah dipastikan sangat ramai. Bahkan stand nasi Bu Juli tampak berdesakan, membuat niat Selma yang tadinya ingin menyantap nasi goreng menyurut.

"Masih ada meja di pojok sana, kita duduk di situ aja," ujar Kanin dengan heboh. Dengan gesit sahabatnya itu mulai berjalan cepat menuju meja yang masih kosong itu.

Selma hanya bisa tersenyum tipis melihat keaktifan Kanin. Sungguh energi perempuan itu sangat positif dan energik. Membuatnya yang dari kemarin malam dilanda keresahan perlahan bisa lebih tenang.

"Mau makan apa? Gue yang pesenin. Tapi lo jaga meja."

Selma menarik kursi yang terletak di depan kursi yang diduduki Kanin ketika mendapat pertanyaan itu. Meja yang mereka tempati sekarang memang hanya memiliki dua kursi.

"Mi ayam aja, minumnya pake susu cimory stroberi."

"Oke, Bos!" Setelah menyerahkan sejumlah uang, Kanin mulai beranjak meninggalkan meja mereka.

Selma hanya menunggu dalam diam. Ponselnya ia lupa bawa, menyebabkan dirinya sekarang seperti mati kutu karena tidak tahu harus melakukan apa. Untuk membunuh kebosanan, Selma meraih sebungkus keripik kentang yang ada di keranjang anyaman di meja. Membuka plastik itu dan mulai mengunyah isinya.

Suasana kantin di jam istirahat seperti ini memang tidak pernah sepi. Suara-suara pentolan sekolah bergaung di pojok kiri dekat pintu masuk kantin. Disusul suara para penjual yang saling bersahutan dengan si pembeli.

Untungnya Kanin datang tak lama kemudian. Membuat Selma diam-diam menghela napas lega. Sungguh ia tidak suka berdiam diri di tengah keramaian seperti ini, apalagi sendirian.

"Eh, anjir! Itu Arial sama siapa, Sel?" Nampan berisi pesanan mereka baru saja diletakkan Kanin ketika perempuan itu berseru. Tatapan matanya menuju ke arah belakang Selma.

Selma mengernyit lantas berdeham pelan. "Arial?"

Kanin terlihat terkejut, ia memegang kepala Selma lantas memutarnya menghadap belakang.

"Si Arial selingkuh?!" tanya Kanin dengan nada meninggi.

Selma bergeming sejenak ketika pandangannya jatuh pada meja di bagian tengah. Di sana, ada Arial yang sedang menikmati makan siangnya, bersama Audya. Keduanya tampak mengobrol ringan, beberapa kali diselingi senyuman dan tawa. Hal yang sempat membuat perasaan Selma menjadi tak nyaman.

"Jangan ngaco! Itu Audya, Nin. Sahabatnya Arial," ujar Selma menjelaskan. Ia kembali memalingkan pandangnya dan pura-pura fokus pada makanan yang tadi dipesan. Meski pemandangan barusan jelas membuatnya sedikit tertohok. Teringat, pesannya semalam belum dibalas sama sekali cowok itu, bahkan mungkin sampai sekarang.

"Sahabat? Lo serius? Hari gini masih ada gitu sahabatan cowok cewek yang gak ada rasa lebih?" Kanin menyeru dengan nada jengkel. Senyum sinis tampak terbit di bibirnya. Itu tanda bahwa ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Selma.

Halcyon [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang