kartu kuning 2

1K 122 0
                                        

Batas sabar sebenarnya tidak ada
Itu hanyalah istilah dari pengendalian diri
Jika dia orang cerdas
Tutur kata dan tindakan pastinya sangat dijaga
Kalau baru disenggol sudah ngamuk
Maka itulah ciri-ciri orang bodoh

Menilai kepribadian seseorang itu dari marahnya
Jika dia hanya diam, itulah sebaik-baik manusia
Jika dia mencaci maki, itulah si bodoh
Jika dia main tangan, itu si tempramen
Jika dia hanya tersenyum,
Itulah yang patut diwaspadai.
Tidak ada yang tahu
dibalik Sunggingan itu terselip apa
Maka berhati-hatilah!
Jaga tutur kata mu

_Arcanus_


_____

Sejak kejadian di ruang aula tadi, entah mengapa pikiran Danu terus tertuju kepada bundanya. Mungkinkah ini saatnya ia harus jujur pada Dinda? Haruskah dia mengungkapkan fakta tentang kematian ayahnya dan teman temannya? Serta mengungkap siapa sebenarnya Zefa?

Jujur saat ini ia takut. Takut kehilangan lagi. Danu hanya punya bundanya, ia tak punya siapa-siapa lagi selain Dinda. Tekadnya sudah bulat, ia akan menjauhi Zefa secepatnya. Ia akan memaksa Dinda agar mereka pindah dari kota itu bagaimanapun caranya ia tak peduli. Meskipun sebenarnya ia tidak pernah bisa melupakan Zefa, tapi kali ini ia harus menekan egonya demi menyelamatkan sang bunda.

Danu memilih acuh tak acuh, saat ia tak sengaja berpapasan dengan Zefa di tangga tadi di sekolah. Cowok itu semakin mempercepat langkahnya, enggan sekadar menyapa Zefa. Namun, tanpa Danu sadari sebenarnya sedari tadi Zefa sedetikpun tak mengalihkan pandangannya pada Danu. Gadis itu hanya terdiam menyorotnya lekat, seolah paham gelagat kalau Danu sedang mencoba kabur darinya.

Tidak ada hal yang lebih penting untuk Danu selain   pulang ke rumah dan segera menemui sang Bunda. Pikirannya masih mencemaskan wanita itu, apalagi setelah menyaksikan kejadian di sekolah hari ini. Zefa benar-benar sebuah ancaman yang besar untuknya dan orang-orang disekitarnya. Gadis itu bisa melenyapkan siapapun yang berhubungan dengan Danu. Tapi, kali ini Danu tidak akan diam saja. Dia tidak mau lebih banyak korban lain lagi, untuk itu lebih baik kalau dia menghilang saja dari gadis itu.

"Assalamualaikum," hening, tak ada Jawaban.

Napas laki-laki itu tersengal-sengal. Dia tidak memberi jeda untuknya menghirup udara dengan baik karena terlalu buru-buru.

"Bunda, Danu pulang," ia menyisir ruang tengah, namun tetap tak ada sahutan.

Hingga tiba-tiba suara tawa bersahutan terdengar dari arah dapur. Danu menghembuskan napas legah, berarti bundanya ada di rumah. Tapi dengan siapa? Siapa tamu yang datang berkunjung? Memotong rasa penasarannya, Danu memilih mengecek sendiri ke dapur.

Langkahnya terhenti diambang pintu dapur, wajahnya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa. Bagaimana bisa secepat ini? Zefa, orang yang dihindarinya malah terlihat tersenyum malu-malu dihadapan sang bunda. Danu terdiam, tak mampu berkata satu kata pun lagi. Ia menyorot interaksi kedua orang tersebut terlihat sangat akrab. Apa jangan-jangan bundanya sudah tahu tentang siapa Zefa?

"Eh, Danu, udah pulang kamu?" Sapa Dinda saat menyadari keberadaan putranya.

Danu masih terdiam menatap Zefa yang nampak tenang di sana.

"Kamu ini kok nggak bilang sama bunda kalau Zefa ini Nindi tetangga kita dulu." Sontak, Danu menatap bundanya heran.

"Kenapa Zefa ngasih tau identitasnya sama bunda?" Batin Danu terlihat kebingungan.

"Danu," Danu terperanjat saat Dinda menepuk tangannya. "Malah bengong, bukannya jawab."

Danu menggaruk tengkuknya tak gatal, ia kebingungan mencari alasan. "Eh.. anu.."

Arcanus (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang