Ok, ekhem, epilognya bulan Agustus 2020, lalu Extra partnya pas April 2021, keren.
Daripada ditagih terus, hehehe, sebelum baca, bisa kalian tambahin book baruku yang yeonbin judulnya The Story of Youth ke perpustakaan kalian? Dibaca ya, vote dan komennya aku tunggu lho, thanks, hehehe.
***
Koas sambil hamil itu emang ada enak dan enggak enaknya, apalagi jika jadwal dia ada yang sampai malam.
Enaknya dia gak terlalu banyak disuruh dan dimarahin jika salah melakukan sesuatu, yang gak enaknya dia tetap harus hadir di jadwal yang ditentukan.
Maka dari itu dia suka minta maaf ke suaminya kalau saat dia pulang Soobin gak ada dirumah, Yeonjun sih biasa aja, malah dia menyemangati Soobin, Soobin sampai gak enakan sendiri.
Lalu jika saat dia hamil tua begini, pikirannya selalu kemana-mana, dia tetap fokus dengan apa yang dia lakukan, tapi kadang dia suka mikir aneh-aneh ke suaminya itu.
Dia pulang saat suaminya sudah tidur, lalu dia sudah makan duluan tentu saja, bagaimana kalau Yeonjun kesal dan berniat mencari pasangan baru? Walaupun hal ini langsung dibantah oleh Yeonjun.
Untuk apa dia melakukan semua kasus pembunuhan di sekolah ataupun kampus hanya untuk berniat mencari pasangan baru? Dia melakukannya hanya karena Soobin, biar dia tidak diganggu, jadi mana mungkin bukan dia berniat selingkuh.
Soobin takut sendiri setelah berkata hal seperti itu, bagaimana Yeonjun akan membunuhnya? Ok, pikirannya memang terlalu overthinking semenjak hamil.
"Jangan memegang perutku sembarangan," ucap Soobin dengan ketus sambil menyingkirkan tangan seseorang yang sedang memegang perutnya itu.
Cowok yang memegang perutnya itu tertawa, dia menatap menyeringai ke cowok yang sedang hamil tua di hadapannya itu.
"Bukankah kamu jarang bertemu suamimu selama koas ini? Lagipula aku hanya menemanimu," balasnya membuat Soobin menoleh dan menatapnya tidak suka, apa-apaan itu.
Menemaninya dalam konteks apa? Selama Soobin koas disini, dia selalu saja di dekati oleh cowok ini, padahal dia sudah menikah dan bahkan lagi hamil, apa mata dia buta?
Jika suaminya bertanya apakah ada yang menganggunya selama ini di rumah sakit? Maka Soobin selalu menjawab tidak, dia tidak mau suamimya melakukan pembunuhan disini.
Bukankah dia baik tapi cowok ini sepertinya tidak berniat menjauh darinya, seniornya yang sama sepertinya sedang koas disini juga sudah menyuruh cowok di hadapannya yang juga seniornya itu segera menjauh dari Soobin, tapi seniornya itu tidak menurut sama sekali.
Kalau suaminya tau dan cowok ini ada masalah dengan hal itu, maka dia lepas tangan, dia gak akan menyelamatkan cowok ini lagi, mau dia mati juga Soobin gak akan peduli, bukankah lebih aman jika dia mati daripada Soobin takut dengan godain seniornya itu.
Emangnya dia kurang belaian apa sampai harus selingkuh, mengerikan sekali.
"Dasar senior gila, menyingkir dari Soobin," ucap salah satu cewek sambil mendorong tubuh seniornya agar menjauh dari Soobin.
Leesoo, cowok yang merupakan senior Soobin itu mendecih dan menatap tajam kearah cewek tersebut dan segera pergi dari sana.
Cewek ini adalah temannya di kampus, gak terlalu akrab sih, tapi semenjak koas di rumah sakit yang sama dia jadi kenal dekat dengan Anne.
"Kamu gak diapa-apain sama diakan? Maaf, aku tadi dapat tugas memeriksa pasien di kamar atas," tanyanya membuat Soobin mengangguk sambil tersenyum.
"Gak kok, santai aja, lagipula itukan tugasku seharusnya, tapi entah kenapa malah pindah ke kamu," balas Soobin yang tidak enakan dengan Anne yang hanya tersenyum itu.
Apalagi pasien di kamar atas itu agak kasar karena penyakitnya yang membuat emosi pasien tersebut tidak terkontrol.
"Santai, daripada kamu yang memeriksa, orang-orang disini juga gak bakalan tega menyuruhmu untuk ke atas dengan perut besarmu itu."
Kandungan Soobin yang sudah berusia 8 bulan itu memang tampak besar sekali, beberapa hari lagi akan masuk ke bulan 9, disaat itulah penantian Yeonjun dan Soobin akan berakhir, anak mereka akan lahir.
Tapi dia tetap saja gak akan bisa merawat mereka selama 24 jam penuh karena koas ini.
Dia harus tetap tanggung jawab bukan dengan hal ini, secepat mungkin dia harus segera selesai dari koasnya dan mencari pekerjaan di banyak rumah sakit di kota ini.
"Aku tidak habis pikir dengan senior tadi, sudah tau kamu ada suami masih aja mendekati, gak waras," gerutu Anne dengan kesal karena dia tidak suka saja dengan seniornya itu, gak ada bagusnya sama sekali tingkahnya, bagaimana bisa dia mau menjadi dokter yang ada pasien bakalan digodain semua sama dia, mengerikan.
Jika melihat tingkah Anne itu dia teringat dengan Yeonhee, cewek itu sudah diterima bekerja di sebuah lab sebagai peneliti, lalu Renjun dia belum bekerja karena lagi mengambil S2nya untuk menjadi dosen, dia suka bertemu dengan Renjun ketika di kampus, bukankah jika Renjun menjadi dosen akan mengerikan, Soobin jadi gak bisa membayangkan mahasiswa yang diajar oleh Renjun nanti.
Kebetulan Renjun mengambil S2nya di kampus yang sama, kadang mereka bertiga suka bertemu walaupun sama-sama sibuk.
"Jadwalmu atau aku sudah selesai, ayo pulang," ajak Anne sambil bangkit dari duduknya itu mengajak Soobin agar segera berdiri juga.
Mereka ke ruangan ganti lalu untuk melepaskan jas yang mereka pakai, lalu bersedia untuk pulang.
Soobin sebenarnya emang berencana pulang sih, lagipula sekarang masih sore, jadi suaminya akan menjemputnya dari tempat kerjanya.
Bukankah lucu suaminya itu menjadi seorang pengancara mendengarnya saja membuat Soobin mau tertawa, tapi mau bagaimana lagi? Itukan memang jurusan yang dipilih oleh suaminya.
Kadang dia juga membantu orang tuanya di perusahaan sebagai penasehat perusahaan tapi tentu juga membantu hal yang lain juga bukan hanya itu.
"Anne aku duluan ya, kak Yeonjun sudah menjemput diluar," ucap Soobin sambil pamit ke Anne, Anne mengangguk dan melambaikan tangannya pelan ke Soobin.
Soobin berjalan dengan agak pelan ke lobi rumah sakit karena saat ini kakinya membengkak efek hamil.
Namun sebentar lagi dia mau sampai ke lobi, lagi-lagi seniornya itu menghadangnya membuat Soobin menatap tidak suka ke seniornya..
"Mau pulang? Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Bukankah kamu sedang hamil besar seperti in-"
"Tidak perlu dan tidak akan pernah," jawab Soobin sambil berjalan pergi meninggal seniornya itu.
Soobin bisa melihat suaminya di dalam mobil sambil melihat dirinya dan seniornya tadi.
Tangannya membuka pintu mobil tersebut dan segera masuk.
"Dia menganggumu terus selama ini?"
"Ah enggak kok, dia hanya bertanya tentang jadwal," elak Soobin karena dia gak mau Yeonjun melakukan hal aneh.
Bukankah suaminya berjanji tidak akan melakukan hal ini terbukti selama ini suaminya gak pernah melakukan pembunuhan sama sekali.
"Kamu gak bisa bohong, Soobin."
Soobin cuma bisa diam saat mendengar lanjutan dari perkataan suaminya yang mutlak itu.
"Jika dia menganggumu lagi, maka dia harus mengucapkan selamat tinggal untuk semua orang, aku akan membunuhnya."
Itu mutlak, sangat mutlak.
Tbc.
Ada yang masih menunggu extra part book ini? Sorry, aku lupa huehue😭
Kukira aku sudah buat, ternyata belum, hehehe.
Masih ada beberapa extra part, tungguin aja.
Jangan lupa baca book baruku, sekalian nunggu extra part ini update, ok?:")
Semoga suka, vote dan komen jangan lupa.
Sampai jumpa di extra part selanjutnya.
Salam,
Anaknya Taekook.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone -yeonbin✔
FanfictionHanya kisah dari Soobin yang sendirian karena dibully dan kakak kelasnya yang menjadi pacarnya secara tiba-tiba tanpa pendekatan apapun, jangan lupakan sifat yang agak tertutup pacarnya itu. #1 in yeonbin || 120720 #1 in yeonjun || 120122 ➡️04.11.19...
