Chapter Fifty Eight : The Real Last Attack

11 1 0
                                        

Kembali ke lantai dua, Taehyung menyudahi kegiatan menembaknya. Dia tidak tahu jika ada orang lain di belakangnya. Seseorang yang sedang berniat jahat kepadanya.

Setelah memasukkan kembali Hyukie ke dalam tasnya, Taehyung segera beranjak dari posisinya. Namun baru saja akan berbalik, terdengar suara tembakan bersamaan dengan timah panas yang mengenai permukaan kaki kirinya dan membuat tubuh itu jatuh berlutut. Kepalanya mendongak dan mendapati seorang pria asing tengah tertawa sambil mengacungkan pistol ke arahnya.

Jo Insung mendekat, dengan jari yang setia menarik pelatuk pistolnya kapan saja. Dia menyeringai, tidak peduli jika Taehyung sedang meringis.

"Kim Taehyung, keponakanku."

Taehyung mengernyit heran namun tetap meringis. Dia menjatuhkan tas Hyukie dan sibuk menghentikan pendarahan di kakinya.

"Siapa kau?"

"Oh, kau tidak mengenaliku? Pamanmu sendiri? Ayahmu benar-benar pria yang jahat."

"Apa maksudmu?" balas Taehyung yang masih tidak mengerti apa maksud pria itu.

"Jo Insung, ayah kandung Kim Seokjin."

Saat itu pula Taehyung dapat merasakan ketakutan yang sebelumnya dirasakan Seokjin. Dia tidak tahu kenapa tapi pria di depannya ini benar-benar berbahaya. Pria di depannya ini sangat menakutkan, entah atas dasar apa.

"Lalu, apa maumu?"

"Anggap saja sebagai ucapan selamat datang karena sudah menjadi bagian dari keluarga besarku, bagaimana? Baguskan?" ucap Insung yang sudah menurunkan pistolnya. "Untuk ukuran pemula, aku patut mengakui cara menembakmu. Walaupun melumpuhkan tapi tetap saja ada yang mati di bawah sana. Kau diperintahkan untuk melumpuhkan, bukan? Bukannya membunuh."

Taehyung tidak terlalu terkejut karena ya, memang mustahil rasanya hanya melumpuhkan seseorang sedangkan orang itu berusaha menembak temanmu sendiri. Tidak sekali atau dua kali, tapi beberapa kali Taehyung melanggar amanat Joonhyuk dan pria bernama Minhyuk. Lagipula dia siap menerima resikonya, setidaknya kedua guru dan teman-temannya selamat.

"Lalu, memangnya apa yang salah dengan membunuh? Aku bahkan belum membunuh ratusan orang, atau mungkin ribuan orang sepertimu?!"

Ayolah, Taehyung memang tidak tahu bagaimana rupa ayah dari seorang Kim Seokjin. Dia hanya pernah tidak sengaja mendengar jika Ayah Seokjin adalah seorang pembunuh dalam organisasi gelap. Pria berdarah dingin yang tak segan mencongkel mata targetnya jika memang bernafsu.

Insung tertawa, menggema sepanjang area lantai dua ini. Kemudian dia kembali menatap Taehyung dengan pandangan jika ia benar-benar tertarik pada pemuda itu.

"Aku suka orang sepertimu."

"Suka untuk kau siksa atau bunuh?!" balas Taehyung yang kini sudah berdiri tegak walaupun kakinya masih terasa sangat perih.

"Mari kita pikirkan sambil berbincang," ucap Insung lalu menyimpan pistolnya dan berjalan ke sisi lain, tepatnya jendela yang dilompati Minhyuk sebelumnya.

"Taehyung!"

Taehyung tersentak lalu mendapati Hyera sedang berlari ke arahnya. Gadis itu, wajahnya semakin banyak bekas luka. Namun tidak menghentikannya untuk bertingkah cerewet seperti biasa.

"Kau?! Kenapa mau-maunya disuruh Joonhyuk-ssaem? Kau tidak apa-apakan? Astaga, kakimu kenapa?"

Bukannya menjawab, Taehyung malah menarik Hyera agar berdiri di belakangnya. "Tetap di belakangku."

Saat itu juga Hyera menyadari ada orang lain di belakangnya. Jo Insung.

"Hmm, kalian berdua punya hubungan spesial? Kisah cinta memang indah ya." Insung berkomentar seraya tersenyum lembut. "Aku sudah memutuskan semuanya, mari mati bersama di tempat ini. Bagaimana?"

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang