Chapter Sixteen : Tear

8 2 0
                                        

Yoongi hanya pasrah saat bangku tersudut café di tempatnya bekerja sudah dipenuhi oleh tujuh orang yang sepakat untuk mengerjakan tugas mereka disana. Ah, dia penasaran, apa yang membuat enam teman sekelasnya itu begitu mendengarkan ucapan orang yang menjadi satu-satunya perempuan di antara mereka.

"Dua frappe, satu affogato, dua smoothie, dua latte dan satu espresso. Benar, 'kan?"

Yoongi hanya mengangguk sebagai jawaban akan pertanyaan dari rekan kerjanya itu sambil memandangi satu nampan berisi tujuh gelas aneka olahan minuman.

"Yoon, siapa yang minum espresso di jam seperti ini?"

Ah, benar. Sedari tadi tatapannya hanya tertuju pada secangkir espresso. Memangnya remaja mana yang mau minum espresso di tengah hari seperti ini? Maka jawabannya adalah Kang Hyera. Ya, disaat yang lain minum minuman dingin di cuaca panas seperti sekarang, gadis itu malah memesan segelas espresso. Aneh, bukan?

"Hanya satu orang aneh yang selalu membuat keputusan seenaknya." Yoongi mengambil nampan itu lalu membawanya menuju teman-temannya.

"Ya ampun, tanganku bisa lentur karena banyak mengetik." Jungkook menggerutu, mengibaskan tangannya yang sudah pegal karena sudah mengetik sedari tadi.

"Mataku saja sudah ingin berputar rasanya karena harus menatap buku dan ponsel untuk mencari referensinya." Seokjin melempar ponselnya ke atas meja. Dia ingin menyerah.

Yoongi hanya meletakkan nampan yang berisi gelas itu di tengah-tengah lalu menarik kursi untuk duduk di antara Namjoon dan Hyera.

"Kemana tiang listrik?" Tanya Hyera sambil menyikut lengan Yoongi.

"Sebentar lagi datang." Yoongi mengambil buku yang terletak di depan Namjoon lalu membacanya.

Taehyung menutup bukunya lalu mengambil gelas yang berisi berry smoothie dan menyeruputnya. "Ada beberapa hal yang diperlukan dari buku yang kita gunakan sebelumnya."

Jimin meletakkan ponselnya lalu menatap Taehyung yang duduk di depannya. "Ah, kau benar. Bukunya, aku lupa ada dimana."

Hyera mengambil cangkir espresso. "Masih di rumahku. Tersimpan dengan rapi." Kemudian menyeruputnya.

"Ambil sana!" Hoseok menyahut, sudah kembali menjadi sosok menyebalkan seperti sebelumnya.

"Kau tidak lihat aku sedang menikmati espresso-ku?"

Hoseok mendengus. "Aku tidak yakin kau masih waras. Perempuan mana yang hobi meminum espresso ditambah cuaca seperti ini?"

"Dan orangnya adalah aku." Hyera tampak membanggakan dirinya tanpa ragu. "Lalu siapa yang ikut denganku mengambil bukunya?"

Seokjin langsung mengambil ponselnya sebelum bersuara. "Suruh Jimin saja. Dia sudah menyimpan ponselnya."

"Apa? Aku?"

Hyera menyimpan cangkir espresso-nya yang sudah kosong lalu beranjak dari posisinya, meraih ranselnya. "Ayo, Park!"

"Aku bahkan tidak menjawab iya."

Saat yang sama dengan perginya dua orang tadi, Chanyeol datang memasuki café. Matanya langsung tertuju pada Yoongi yang sedang mengerjakan tugas kelompoknya.

"Yoon!"

Yoongi menoleh, ke arah Chanyeol yang berdiri sambil bersandar pada meja pemesanan. Dia menatap aneh ke arah pemuda tinggi itu.

"Dimana Hyera?"

Yoongi mendengus. "Kau memanggilku hanya menanyakan hal itu? Dia baru saja pergi mengambil buku."

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang