Chapter Twenty Five : Jump

4 2 0
                                        

Hyera menyusuri sepanjang jembatan. Matanya sibuk mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok yang dicarinya. Sesekali mengeratkan blazer abu-abunya, Hyera melangkah cepat berdasarkan informasi yang didapatnya dari Hoseok.

"Dia memintaku untuk mengantarnya di tengah jembatan karena ada hal yang perlu dilakukannya. Jadi aku menurutinya saja setelah itu aku pergi."

Hoseok mengantar Yoongi ke jembatan dimana dirinya berada. Masalahnya, jembatan ini sangat panjang dan Hyera harus menemukan teman sebangkunya sendirian.

Mungkin sudah sekitar lima belas menit kakinya menyusuri jalanan sambil mengamati keadaan sekitarnya untuk menemukan Yoongi dan dia sedikit bersyukur ketika mendapati orang yang dicarinya itu sedang berdiri di seberangnya. Namun rasa syukur itu tidak bertahan lama karena lokasi pemuda berkulit pucat itu berdiri berada diluar pagar pembatas jembatan.

"Yoongi!"

Suara teriakannya terkalahkan oleh klakson dan deru kendaraan yang ada. Bahkan Hyera sampai lupa jika dia baru saja berlari ke tengah jalan dan mendapat umpatan dari pengendara mobil yang mengerem mendadak. Setelah berteriak maaf, Hyera segera berlari ke arah Yoongi.

Semakin dekat, jelas sekali Yoongi melepaskan tangannya dari pagar, membiarkan tubuhnya yang mungkin akan jatuh kapan saja.

"YOONGI! BERHENTI!"

Terlambat adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan Hyera saat ini. Saat kedua tangannya terulur untuk menarik Yoongi, tubuh itu sudah menjatuhkan dirinya ke gelapnya sungai.

Sial.

Entah sadar atau tidak, Hyera memanjat pagar pembatas lalu melemparkan dirinya ke udara dan ikut masuk ke dalam dinginnya air sungai. Berbekal pencahayaan dari jalanan, dia dapat melihat tubuh Yoongi yang semakin tertarik ke dalam. Tangannya terulur, berusaha menggapai setiap inci bagian tubuh Yoongi yang sudah tidak sadarkan diri dan menariknya.

Semakin dalam, udara yang dimilikinya terbatas. Namun tangannya tetap berusaha menggapai tubuh Yoongi sampai akhirnya dia berhasil mencengkeram kaos yang dikenakan Yoongi lalu menariknya ke dalam pelukan dan bergerak naik ke permukaan.

Keduanya tiba di permukaan. Hyera segera meraup oksigen sebanyak mungkin. Setelah merasa cukup, tubuhnya mulai berenang ke pinggir sungai sambil membawa tubuh Yoongi.

Berbekal kekuatan yang tersisa, Hyera langsung membaringkan tubuh mereka berdua. Hanya beberapa detik ketika Hyera menyadari tidak ada tanda-tanda Yoongi akan sadar. Kemudian tubuhnya langsung beranjak, menepuk pipi pemuda Min yang pucat dan dingin itu.

"Yoon, bangun!"

Hyera segera melakukan CPR dan sesekali memberikan nafas buatan. Terus berulang kali. Berteriak frustasi dan meminta agar teman sebangkunya itu segera bangun. Bahkan airmata sudah tersamarkan oleh air yang membasahi tubuhnya.

Setidaknya keputusasaannya terjawab. Yoongi terbatuk dan perlahan membuka matanya. Mengeluarkan seluruh air yang memenuhi tenggorokannya kemudian menatap Hyera yang menampilkan wajah paniknya.

"Hyera?!"

"Bodoh!" Hyera memukul dada pemuda itu sambil terisak. "Kenapa kau bodoh? Apa yang kau lakukan sangat bodoh! Bodoh! Kenapa Min Yoongi sangat bodoh? Apa yang kau pikirkan, bodoh?!"

Yoongi tidak menghentikan perlakuan Hyera padanya. Dia memilih untuk tetap berbaring dan memalingkan wajahnya. Meruntuki apa yang sudah dilakukannya.

"Jangan melakukan hal seperti itu, Yoon! Apa kau lupa kita seharian ini bersenang-senang?"

"Tidak. Aku tidak merasakannya."

"BOHONG! Kau bahkan tadi tertawa sangat lebar. Apa kau lupa?"

Yoongi kembali memalingkan wajahnya. Bohong jika dia lupa tentang hari ini. Kegiatan yang berhasil membuatnya melupakan sejenak apa yang diingatnya.

Hyera menjatuhkan kepalanya tepat di atas dada Yoongi saat dua suara meneriakan nama mereka.

"Yoongi?! Hyera?!"

"Apa yang kalian lakukan disini?"

Yoongi menoleh namun cahaya disana membuat silau matanya. Kepalanya juga pusing dan merasa kegelapan berusaha merenggut kesadarannya. Tapi hal yang dia sadari adalah pemilik suara yang meneriaki nama mereka. Jeon Jungkook dan Park Jimin.

Namjoon baru saja akan mematikan lampu kamarnya saat pintu kamarnya mendadak didobrak paksa. Bibirnya berdecih kesal ketika menyadari sosok saudara tirinya berdiri di ambang pintu.

"Apa maumu?"

"Rumah sakit. Kita harus ke rumah sakit sekarang!"

"Siapa yang~"

Namun detik itu juga Taehyung sudah melangkah kakinya terlebih dahulu, membuat Namjoon mau tak mau harus beranjak dari posisinya dan segera menyusul saudaranya itu.

Setidaknya empat orang itu harus bersyukur karena penampilan mereka tidak terlalu kacau walaupun Seokjin hanya mengenakan piyama putih bergambar alpaca, Hoseok yang mengenakan baju kaos dan celana pendek, Namjoon yang sebelumnya hanya mengenakan baju tak berlengan lalu dipinjamkan jaket yang dikenakan Taehyung, sedangkan Taehyung masih mengenakan pakaian yang sama.

Di depan keempat pemuda itu, dua orang lainnya sedang duduk di kursi tunggu dengan kepala yang menunduk. Pakaian mereka masih sama dengan terakhir mereka bertemu, hanya saja keadaannya sedikit basah.

"Jadi, apa yang terjadi pada mereka berdua?"

Suara Namjoon membuat keduanya mengangkat kepala. Jungkook mengangkat tangannya, meminta waktu untuk menetralkan kepanikan yang melandanya.

"Hah, aku juga tidak tahu. Aku dan Jimin sedang makan ramyeon di minimarket di bawah jembatan saat mendengar suara teriakan dari arah sungai."

Ah, Jungkook benar. Sepulang dari mereka berkumpul, Jungkook dan Jimin memutuskan untuk mampir ke minimarket di bawah jembatan dan makan ramyeon disana. Awalnya tidak ada yang aneh sampai mereka mendengar suara seorang perempuan berteriak menyuruh bangun. Mereka sempat berpikir hanya gurauan sampai akhirnya teriakannya diiringi isakan dan berhasil membuat mereka beranjak dari posisi dan melangkah menuju sumber suara. Saat itulah mereka mendapati dua orang yang mereka kenal dalam keadaan basah dan tidak sadarkan diri.

"Mereka tidak mungkin lompat dari jembatan, 'kan?"

Pertanyaan Seokjin kontan mengundang perhatian kelima temannya yang lain. Dia sendiri tiba-tiba saja berpikiran seperti itu tanpa sadar.

"Orang bodoh mana yang akan lompat berdua dari jembatan?!" Seru Namjoon yang takut membenarkan kemungkinan dari pernyataan sepupunya.

"Sebelum kalian memberitahu ini," Hoseok menghantarkan tubuhnya untuk duduk di samping kiri Jimin, "Hyera menghubungiku dan bertanya tentang keberadaan Yoongi. Aku tidak tahu apa yang terjadi."

"Kita tunggu saja mereka sampai sadar." Taehyung menengahi, dia juga setengah berharap apa yang dikatakan Seokjin tidaklah benar.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampiri keenam remaja itu.

"Siapa wali pasien?"

Keenamnya saling bertatapan selama beberapa saat lalu mengangguk. Kemudian Namjoon melangkah maju mendekati sang dokter.

"Kami temannya, Dok. Wali mereka sedang berada diluar kota."

Dokter itu mengangguk paham. "Kedua pasien mengalami hipotermia yang parah karena terlalu lama di dalam air. Selain itu, apa mereka baru saja terjatuh dari tempat ketinggian?"

Namjoon menatap kelima temannya, meminta bantuan untuk menjawab. Dia tidak tahu pasti jadi mulutnya tidak ingin asal bicara.

"Kami juga tidak tahu, Dok. Saat ditemukan, mereka sudah berada di pinggir sungai."

Mendengar penjelasan Taehyung, dokter itu hanya mengangguk. "Mereka juga tidak mengalami cedera yang parah selain hipotermia. Hanya memar karena benturan di beberapa bagian tubuh jadi mereka hanya perlu istirahat."

"Terima kasih, Dok." Namjoon membungkukkan badannya, membiarkan dokter tersebut lewat.

Helaan nafas lega menggema di koridor. Setidaknya mereka cukup tenang seputar keadaan teman sekelas mereka.

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang