Chapter Eighteen : Rain

5 2 0
                                        

Taehyung bersumpah, perutnya benar-benar menuntut banyak malam ini. Padahal dia baru saja sampai di rumah sekitar satu jam yang lalu dan akan terlelap. Namun, perutnya berkata lain. Dia butuh makanan.

Jadi, setelah lelah bergulat dengan pikirannya dan perut yang tidak sinkron, Taehyung memutuskan untuk mengambil jaket dan dompetnya yang tergeletak di atas meja lalu melangkah keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke minimarket terdekat.

Rumah besar ini sedang kosong. Kedua orang tuanya sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis, sedangkan Namjoon masih menetap di rumah Seokjin. Asisten rumahnya, mungkin sudah berada di alam mimpi dan Taehyung tak ingin mengganggu. Hoseok juga sudah pulang ke rumahnya.

Sebenarnya bisa saja pemuda Kim itu membuat makanannya sendiri tapi sungguh, ketika membuka kulkas dan hanya menemukan warna-warni dari sayuran serta beberapa bahan makanan lainnya, nafsu makannya berubah. Dia ingin makan ramyeon atau sejenisnya.

Duduk di sudut minimarket dengan satu cup ramyeon dan sekaleng cola sudah cukup untuk menemani Taehyung yang sedang mengisi perutnya. Matanya menelisik keluar minimarket dari dinding kaca, mengamati beberapa orang yang sedang berlari sambil menutupi kepala mereka dari jatuhan air.

Hujan.

Untung saja dia sudah tiba disini jadi tidak perlu berlari dan menghindari basahnya hujan.

Setengah jam berlalu dan tiga cup ramyeon bersama dua kaleng cola menemaninya untuk menanti hujan mereda. Namun sepertinya hujan itu tidak menunjukkan akan reda dalam waktu dekat.

Bahkan Taehyung sampai mengambil sebungkus keripik kentang dan membayarnya lalu kembali duduk di kursinya. Sedikit menyesali tidak membawa ponsel.

"Baiklah, tunggu sampai lima belas menit lagi, Kim Taehyung!" Dia berbisik pada dirinya sendiri sambil menatap jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.

Dua puluh menit berlalu dan hujan tampak enggan mereda. Namun, setidaknya derasnya hujan tadi sudah berganti dengan rintikan tapi tidak melepas kemungkinan akan membasahi tubuh saat sampai di rumah.

Dan Taehyung menyerah. Dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya, mengambil sebuah payung lalu membayarnya. Setelah itu, dia memutuskan untuk pulang di bawah rintikan hujan yang tersisa.

Jalanan yang sepi, cukup untuk membuat Taehyung bersenandung kecil sambil menikmati perjalanan pulangnya. Langkah kakinya terhenti untuk menatap ke sisi kanannya, sebuah lapangan basket yang biasa menjadi tempat bermain anak-anak di sekitar rumahnya. Lampu yang remang-remang menyinari lapangan membuat Taehyung dapat melihat jelas apa yang ada disana.

Tidak, orang bodoh mana yang bermain basket saat hujan seperti ini? Setidaknya itulah pikirannya ketika menyadari ada seseorang berbaring tepat di tengah lapangan. Dan Taehyung tidak sempat berpikir aneh-aneh ketika kakinya membawa tubuhnya kesana.

Semakin dekat, Taehyung semakin yakin jika tubuh itu berbalut seragam sekolahnya dan dia juga semakin yakin jika orang yang sempat dikatainya bodoh itu adalah seorang perempuan. Wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh tangan kanannya. Tapi Taehyung dapat menyimpulkan, gadis itu adalah orang yang dikenalnya.

Hyera sadar. Dia sadar sepenuhnya ketika tubuhnya berjalan di bawah derasnya guyuran hujan tanpa sadar daerah yang menjadi tempatnya berada saat ini bukanlah areal yang dikenalnya. Dia hanya tidak sadar sudah berapa lama dan sejauh apa kakinya melangkah. Yang dia sadar hanyalah kata-kata menyakitkan yang dilontarkan Ibunya, tatapan tidak peduli adiknya, kekecewaanya pada sang Ayah. Hanya itu yang mendominasi pikirannya.

Langkahnya terhenti tepat di tengah lapangan basket. Masih di bawah guyuran hujan, Hyera memilih untuk berbaring disana. Tidak peduli seberapa dinginnya cuaca menerpa tubuhnya yang hanya berbalut seragam. Tangan kanannya terangkat untuk menutup wajahnya. Dia lelah dan ingin beristirahat.

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang