Hyera menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah restoran keluarga. Kerongkongannya terasa kering seolah dia baru saja melakukan marathon dari tempat mereka berkumpul sebelumnya. Setelah mempersiapkan seluruh keberaniannya, kakinya mulai melangkah memasuki restoran mewah itu.
Tepat masuk ke dalam ruangan, Hyera disambut ramah oleh seorang karyawan wanita. Setelah menyebutkan nama, karyawan itu langsung mengantar Hyera menuju lantai dua dimana ruangan VIP berada.
Ruang VIP bernomor 209 adalah penghentian terakhirnya dan Hyera terus mengumpulkan seluruh keberaniannya yang perlahan menghilang seolah terkikis di setiap langkah gadis itu. Bibirnya terus bergumam, memanggil nama pamannya, sepupunya bahkan mengabsen seluruh teman sekelasnya hanya untuk mengumpulkan seluruh keberanian.
Setelah cukup, gadis itu langsung menggeser pintu dan mendapati seorang pria paruhbaya duduk tepat menghadap ke arahnya. Seorang pria yang pernah menghubunginya saat dia dan teman-temannya berada di Pulau Jeju. Seorang pria yang selalu memberikan tatapan dingin yang tak mudah diartikan. Seorang pria yang seharusnya dia benci seumur hidupnya. Byun Seojoon.
"Ayah pikir kau tidak akan datang. Terima kasih sudah datang." Sapa Seojoon dengan senyum yang jarang dia tunjukkan. Kedua tangannya langsung meletakkan alat makannya yang sedari dipegangnya lalu bersiap untuk beranjak dari posisinya jika saja Hyera tidak bersuara.
"Duduk saja." ucapnya seraya menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan sang ayah.
"Bagaimana liburanmu kemarin? Ayah dengar dari Daniel, ponselmu rusak. Ingin membeli ponsel baru?"
"Tidak perlu," balas Hyera dengan nada dinginnya yang khas, "aku menggunakan ponsel paman untuk sementara."
Seojoon hanya bisa mengangguk paham, memaklumi sifat dingin putrinya yang sudah diduganya. Jadi dia memutuskan untuk terus menatap putrinya seraya tersenyum.
"Ayah sudah melihat berita soal sekolahmu. Maafkan ayah karena tidak mengetahui apapun yang terjadi padamu. Ayah menyesal."
"Kau tidak perlu menyesal," ucap Hyera lalu memberanikan dirinya untuk menatap sang ayah, "kalian tidak merawatku sejak dulu jadi tidak perlu menyesalkan apa yang terjadi padaku tanpa kalian ketahui."
"Ayah benar-benar tidak bermaksud untuk menyerahkanmu pada pamanmu tapi keadaan sangat memaksa. Ayah dan ibumu~"
"Aku paham. Kalian tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Aku kelewat paham karena harus lahir saat nama kalian berada di puncak kesuksesan. Setidaknya aku sedikit bersyukur karena kalian tidak membuangku ke sungai atau menyerahkanku ke panti asuhan."
Kalimat panjang itu baru saja menusuk Seojoon secara tak kasat mata. Hatinya sangat sakit mendengar kalimat-kalimat yang lebih seperti pedang yang baru diasah lalu menikam tubuhnya. Namun, sebisa mungkin Seojoon harus memakluminya karena ini juga merupakan salahnya. Kesalahan terbesar yang berhasil merenggut pandangan sang putri.
"Tidak ingin makan?"
Hyera menatap meja besar yang memisahkan jaraknya dan ayahnya lalu menggeleng. "Boleh aku pesan americano atau sejenisnya? Aku ingin minum kopi lagi."
Seojoon tersenyum lalu mengangguk. Tangan kirinya terangkat untuk memanggil seorang pelayan yang berada di sudut ruangan. Setelahnya dia membisikkan apa saja yang dibutuhkannya.
"Hanya kopi?"
Hyera mengangguk sebagai jawaban. Dia sungguh tak ingin hal lain selain kopi. Oh, ada satu lagi hal yang dia butuhkan. Jadi dia menatap sang ayah yang masih berbicara dengan pelayan. Menatap pria itu sepuas mungkin untuk mengobati rasa rindu yang sempat tersingkir oleh perasaan kecewanya selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fiapeless Class [ COMPLETED ]
FanfictionFiapeless Class adalah kelas 2-F yang terkenal sebagai kelas yang berisi siswa-siswa yang tidak memiliki harapan. Seluruh murid yang pernah menghuni peringkat 10 besar harus rela terdepak ke peringkat akhir. Ini adalah tentang bagaimana para penghun...
![Fiapeless Class [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/177861637-64-k145016.jpg)