Sebenarnya sejak pertemuan dengan Nayoung di depan gedung pengadilan tadi, Hoseok sedikit memikirkan apa maksud wanita itu. Bukannya meragukan hubungan mereka tapi Hoseok hanya penasaran. Dia ingat sekali selama beberapa bulan terakhir mereka sering menghabiskan waktu bersama, hanya Hyera yang tidak terlalu banyak menyinggung soal keluarganya.
Hoseok mengetahui sedikit tentang orang tua ketujuh temannya, termasuk orang tua Yoongi yang sudah meninggal karena kecelakaan, berdasarkan informasi dari Chanyeol waktu itu. Namun untuk Hyera, dia hanya ingat gadis itu mengatakan orang tuanya telah tidak ada. Setelahnya, mereka tidak mengungkinya kembali.
"Jika memang Hyera adalah putrinya Paman Byun tapi kenapa nama depannya Kang?" gumam Hoseok sambil menatap kosong ke permukaan kolam yang tenang. "Lalu bukannya Hyera sendiri yang mengatakan jika orang tuanya sudah meninggal?"
"Yak! Apa yang kau lakukan disini?"
Hoseok ingin mengumpat. Dia bersumpah jika sampai tubuhnya berendam di dalam kolam saat ini, dia akan mencelupkan kepala siapapun ke dalam kloset. Untung saja tidak sampai terjatuh.
"Kenapa kau diam saja?"
Itu Park Jimin, calon yang akan dicelupkannya ke dalam kloset.
Jimin mendudukkan dirinya di samping Hoseok lalu menelisik wajah bermarga Jung itu dengan khidmat. Keningnya berkenyit bingung, tidak mengerti dengan ekspresi Hoseok yang tidak seperti biasanya.
"Memikirkan apa?"
Hoseok menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas. "Sesuatu yang harusnya tidak memusingkan kepalaku."
"Dan sesuatu apakah yang membuat wajahmu bertekuk sepanjang hari ini? Apa karena Hyera memukul kepalamu dengan panci?"
Ah, Hoseok jadi teringat kejadian beberapa jam yang lalu saat dia tiba di rumah Jungkook. Tepat pintu rumah terbuka, kepala dan telinga Hoseok langsung berdengung karena panci yang dipukulkan ke kepalanya. Pelakunya yang tak lain Kang Hyera juga menatapnya sebal karena datang terlambat.
"Atau kepalamu gegar otak karena panci tadi?" lanjut Jimin yang menutup mulutnya karena shock yang dibuat-buatnya.
Hoseok mendesis sebal. "Ingin kutenggelamkan kepalamu?"
"Bercanda saja." Jimin mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda damai. "Ingin memberitahuku?"
"Soal Hyera," ucap Hoseok yang lalu melirik ke arah tiga orang yang masih terlelap di bawah pondok di seberangnya, "apa kau tahu soal orang tuanya?"
Jimin ikut melemparkan pandangannya ke objek yang sama. Dari tempatnya, mereka dapat melihat Namjoon yang menggeliat selama beberapa saat sebelum akhirnya bangun dan beranjak dari posisinya. Kini meninggalkan dua orang tukang tidur disana.
"Orang tuanya sudah tidak ada, 'kan? Makanya sekarang dia tinggal dengan pamannya."
Hoseok mengangguk sebagai pembenaran atas fakta yang dia sendiri tahu. Hanya saja kata-kata Nayoung terngiang di kepalanya.
Jimin mengalihkan pandangannya pada Hoseok yang sudah mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam. "Tumben bertanya soal anak itu. Ada apa?"
Hoseok menghela nafas. Dia sendiri bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan kepada Jimin. Otaknya memutar memori-memori saat mereka bersama, menghabiskan waktu dengan bersantai atau bertengkar kecil, saling mengejek. Sampai ingatannya terlempar di hari mereka berkumpul di rumah Seokjin setelah kejadian Hyera menangis ketika tiba di café bersama Jimin.
"Kau bilang bertemu dengan Byun Seojoon saat di rumahnya. Kau yakin itu Byun Seojoon?"
Jimin mengenyit bingung sebelum akhirnya mengangguk. Ingatannya ikut terlempar pada kejadian hari itu. Jelas sekali dia menjadi saksi Hyera menangis walaupun dia sendiri tidak yakin apa yang membuat gadis menyebalkan itu menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fiapeless Class [ COMPLETED ]
FanfictionFiapeless Class adalah kelas 2-F yang terkenal sebagai kelas yang berisi siswa-siswa yang tidak memiliki harapan. Seluruh murid yang pernah menghuni peringkat 10 besar harus rela terdepak ke peringkat akhir. Ini adalah tentang bagaimana para penghun...
![Fiapeless Class [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/177861637-64-k145016.jpg)