Chapter Thirty Three : Decision

4 2 0
                                        

Sepeninggalan Hyera, Taehyung, Jungkook dan Daniel beberapa menit yang lalu, ketiganya langsung bungkam. Tidak ada yang berbicara, seolah ragu untuk memulai perkataan yang tepat. Bahkan masing-masing dapat mendengar suara nafas mereka.

"Apa kalian sedang berdiskusi dalam pikiran?"

Jimin adalah orang pertama yang membuka pembicaraan. Matanya terus bergerak mengamati dua orang yang ada di sekitarnya.

Chanyeol menghela nafas. Benar, jika mereka terus diam maka masalah kecil ini tidak akan pernah selesai.

"Aku sungguh minta maaf kepada kalian berdua. Yoongi, kau benar, seharusnya aku kembali saja pada saudaraku waktu itu tapi kau sendiri tahu, kakiku sendiri sudah berat untuk melangkah kesana. Pikiran bodoh itu sukses membuatku takut untuk bertemu Jimin. Aku benar-benar takut membuat Jimin tersakiti tapi nyatanya Jimin lebih tersakiti setelah aku pergi."

"Tapi, aku sendiri sangat bersyukur karena tidak meninggalkanmu sendiri. Aku tidak bisa membayangkan kemana kau akan berakhir jika aku benar-benar pergi dari awal. Apakah kau masih di dunia ini atau bahkan di suatu tempat yang tidak pernah bisa aku bayangkan. Aku sudah memikirkannya selama beberapa hari ini, bagaimana kehidupanmu tanpaku."

"Mungkin aku terlalu egois karena hanya membutuhkanmu sebagai teman serumah tapi setelah pertemuanku dengan Jimin lagi, aku malah takut kau kenapa-kenapa. Aku takut kau marah padaku padahal kau berhak. Egois, 'kan?"

Yoongi masih menatap Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresinya, sedangkan Jimin malah membuang muka.

"Jimin, aku sebagai hyung-mu minta maaf karena sudah meninggalkanmu sepuluh tahun yang lalu. Aku juga minta maaf karena sudah membuat keadaanmu memburuk. Harusnya aku tidak meninggalkanmu. Itu yang aku pikirkan saat bertemu denganmu lagi. Tapi setelah aku pikir lagi, aku harusnya tidak mengatakan hal itu karena Yoongi."

"Kau benar, aku lebih lama tinggal bersama Yoongi dibanding denganmu. Jadi, aku memutuskan untuk membayar semua hal yang seharusnya kau dapatkan selama sepuluh tahun ini dariku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Yoongi sendirian. Aku takut, dia sering melakukan hal bodoh saat sendirian."

"Apa pedulimu? Lebih baik kau pedulikan adikmu dibanding aku. Kau tahu, aku hanya menyusahkanmu karena aku, kau harus membiayai sekolahku. Karena aku, kau harus membagi uang tabunganmu demi menghidupi aku." Diam-diam Yoongi meremas kedua tangannya yang dimasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Aku hanya menyusahkanmu selama ini jadi beri aku waktu untuk melunasi semua uang yang sudah aku gunakan."

"Tidak. Tidak perlu, Yoon. Tinggal denganmu, aku sangat bersyukur."

"Aku harus membayar semuanya. Lagipula aku tidak peduli kau akan menerima atau menolaknya. Aku tetap akan membayar semuanya."

"Hei, ayolah! Ini juga tentangku, kenapa hanya kalian saja yang ribut?"

Jimin berdecak kesal. Bibirnya sedari tadi gatal ingin mengatakan apa yang ada di otaknya tapi sungguh tidak diberi kesempatan. Ah, Jimin juga sebenarnya tidak ingin marah dengan Yoongi terlalu lama apalagi saat Chanyeol menceritakan segala hal tentang Yoongi. Tapi, hei, dia terlalu gengsi.

"Oke, baiklah. Aku potong sampai disini." Hyera datang sambil menepuk tangannya tiga kali lalu berdiri di belakang Chanyeol. "Hasilnya?"

"Hasil apa? Kau pikir kami sedang diskusi kelompok?" Ah, Jimin ingin mengatai gadis itu rasanya tapi mulutnya terlalu tidak biasa mengumpat Hyera. Oh, tidak di depan Chanyeol.

"Hmm, sejenis. Oke, Park Chanyeol! Sampaikan pemikiranmu!"

Chanyeol agak tersentak saat Hyera menepuk pundaknya dari belakang secara tiba-tiba. Pemuda itu bahkan hampir mengumpat gadis itu jika saja tidak memikirkan tempatnya berada atau parahnya akan dilempar sepatu dari Daniel yang saat ini sedang menonton mereka dari lantai atas.

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang