Chapter Twenty Eight : Better or Not?

6 2 0
                                        

Baiklah, Hyera sudah cukup muak dengan hal yang ada di hadapannya saat ini. Sudah hampir dua jam setengah dia duduk di ranjangnya sambil mengamati sembilan orang yang ada disana terdiam dalam pikiran mereka. Tidak ada suara, bahkan ketika dokter mengunjungi ruangan untuk memastikan keadaannya dan Yoongi lalu mengatakan mereka bisa pulang sore itu.

Oh, mereka dalam keadaan sadar, termasuk Yoongi yang hanya tertunduk.

Helaan nafas dari Daniel memecah keheningan. Pemuda itu menatap sepupunya yang sudah bersiap seperti akan melemparkan sejuta pertanyaan.

"Apa?!"

Daniel menggeleng. Suara Hyera sudah cukup mengentak keadaan yang aneh dan hening itu. Jadi dia memutuskan untuk menatap Chanyeol yang hanya terduduk di samping kanan Jimin.

"Sampai kapan kalian akan terdiam? Kau ingin harimau betina itu mencekikmu sambil berteriak?"

Chanyeol mengangkat kepalanya, menatap Hyera yang memberi tatapan tersindir akan ucapan sepupunya. Detik berikutnya dia menghela nafas lalu melirik Yoongi yang sebisa mungkin ingin memutuskan kontak matanya dengannya.

"Ayolah!"

Oh, gadis itu sudah berteriak terlebih dahulu. Lebih lagi dia tampak akan segera menurunkan tubuhnya dari ranjang dan mendekati Chanyeol untuk mencekik pemuda itu jika saja Taehyung tidak menekan keningnya agar tetap berbaring.

"Jelaskan padaku tentang segala hal!" Dia menyerah dan memutuskan untuk duduk sambil melipat kedua tangannya. "Kenapa kalian terdiam? Kenapa mata Jimin memerah? Kenapa Yoongi menangis? Kenapa Chanyeol duduk disana? Kenapa Jimin memegang tangan Chanyeol? Kenapa tidak ada yang bersuara? Jungkook? Hoseok? Namjoon? Seokjin? Taehyung? Daniel?"

Oh, bukan tanpa alasan. Hyera benar-benar melihat apa yang ditanyakannya. Bahkan dia beralih pada pemilik nama yang disebutkannya satu persatu. Mereka sendiri tampak memasang wajah tidak mengerti. Ah, kecuali untuk Jungkook.

"Jung~"

"Katakan saja, hyung." Jungkook beranjak dari posisinya lalu menatap Chanyeol yang menatapnya bingung. "Itu kewajibanmu untuk menjelaskannya." Kemudian melangkah menuju pintu ruangan.

"Hei, hei! Aku tidak memintamu keluar, Jeon!"

Jungkook menatap Hyera, dingin. "Kenapa? Siapa kau? Diam dan biarkan aku pergi!"

Baru saja Jungkook akan meraih ganggang pintu, seseorang sudah menahannya. Namjoon mengulurkan tangannya untuk menepis tangannya.

"Jeon, aku rasa penjelasan ini tidak akan lengkap tanpamu walaupun aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi."

Jungkook memejamkan matanya lalu menghela nafasnya. Dia membalikkan badannya lalu menatap seluruh teman-temannya.

"Baiklah." Seokjin menengahi. Kini matanya melirik Jungkook, Chanyeol dan Jimin secara bergantian. "Aku penasaran dari awal kenapa Jungkook mengenal Chanyeol dan sekarang Jimin."

"Maafkan aku karena sudah membuat tanda tanya besar di antara kalian," Chanyeol mengusap punggung Jimin yang masih menggenggam lengannya, "intinya, Jimin itu adikku. Tepatnya adik tiri."

"Sedikit terjawab," Hoseok yang mendudukkan dirinya di pinggir jendela mengangguk, "tidak perlu menceritakan detailnya. Cukup inti-intinya saja."

"Aku pikir, informasi tentang Tuan Park memiliki dua putra itu hanya kesalahan penulis artikel." Hyera bersuara. Dia tidak terlalu bodoh untuk tidak mengenal siapa Ayah Jimin karena Tuan Park adalah teman sekolah Pamannya dan sering berkunjung ke rumah saat mereka masih kecil. "Tapi aku tidak menduga, si tiang itu juga putranya."

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang