"Apa? Aku sudah mengurus surat perceraian itu. Sekarang kau mau apa?"
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"
"Apa peduliku? Kau hanya sibuk pada klien-klien yang membutuhkan keadilan, bukan padaku. Cepat tanda tangan!"
"Kenapa kau begitu memaksa? Aku harus menandatangani dokumen-dokumen ini."
"Apa susahnya? Ini hanya dua lembar. Kau tidak perlu membacanya lagi."
"Kau, kau tidak memikirkan bagaimana rasa bersalahku karena sudah membuat dia meninggal. Apa kau tidak pikir?"
"Oh, akhirnya kau sadar. Ya, kau penyebab kematian Hana. Kau membuat putri kecilku pergi untuk selamanya. Justru karena itu, aku ingin pergi darimu."
Hal terakhir yang dapat dia dengar adalah suara isakan dari Ibunya. Hoseok tidak tahan lagi. Bahkan pertengkaran kali ini, dua orang yang disebutnya sebagai Ayah dan Ibu itu kembali mengungkit perihal kematian adiknya. Itu sudah sangat lama, terlalu lama untuk kembali dibahas. Bukan, bukannya Hoseok tidak suka.
Makanya, setelah kembali mendengar bunyi gebrakan dari ruang kerja Ayahnya itu, Hoseok beranjak dari posisinya yang sudah cukup lama mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang tiada habisnya. Dia tidak tahan lagi.
Pintu bercat cokelat itu didobraknya, sontak membuat dua orang di dalamnya terkejut.
"Hoseok?!"
Suara Ibunya hampir terdengar seperti cicitan tikus, ditambah lagi isakan yang masih terdengar darinya.
"Belum cukup? Belum cukupkah kalian bertengar setiap hari dan membahas hal yang sama? Apa kalian tidak lelah? Aku saja sudah lelah mendengarnya." Hoseok berdecih. Airmatanya sudah menerobos keluar, dadanya sakit karena sesak. "Perceraian? Hana? Apa kalian pikir adikku akan bahagia mendengar kalian bicara seolah hal ini mudah di atasi?"
"Aku pikir, kalian telah melupakan sesuatu yang saat ini berada di tengah kalian. Apa kalian lupa jika masih ada aku disini? Aku, putra kalian yang masih bernafas ini, berdiri di depan kalian. Apa kalian lupa?"
Luapan emosi yang saat ini ditahannya keluar sudah. Hoseok benar-benar sudah lama menahan diri dan hanya berpikiran jika kedua orang tuanya sama-sama lelah dengan pekerjaan mereka. Dan itu semua berlalu selama bertahun-tahun.
Kakinya melangkah untuk mengambil surat perceraian yang terletak di atas meja kerja Ayahnya. Sedikit tidak menyangka jika Ibunya benar-benar ingin menceraikan Ayahnya, terbukti dari tanda tangan yang sudah ada disana.
"Baiklah, jika itu keinginan kalian." Hoseok melempar surat itu kembali ke meja Ayahnya. "Silahkan kalian berdua cerai dan lupakan aku. Kalian bahkan terlihat sudah tidak peduli padaku. Apakah Hoseok sudah makan, apakah Hoseok tidak ada masalah, apakah Hoseok lelah. Kalian tidak pernah mempertanyakan hal itu kepadaku. Jadi, urus saja surat perceraian kalian dan jangan harap aku akan ikut dengan salah satu dari kalian."
Hoseok pergi. Benar-benar pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
Hyera sedang berada di perjalanan pulang setelah mengantar barang-barang milik Pamannya. Sejujurnya, dia sedikit mengeluh ketika Daniel melemparkan sebuah paper bag ke arahnya dan memintanya untuk mengantar barang Pamannya. Padahal Daniel yang diminta, tapi pemuda itu malah menyuruh sepupunya menaiki bus sendirian menuju kantor Ayahnya, sedangkan dia harus kembali latihan. Menyebalkan.
"Ah, lagipula kenapa Paman harus mengajakku makan malam lagi?"
Diiringi dengusan kesal, Hyera hanya menatap jadwal bus yang sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Apalagi yang bisa dia lakukan? Taksi? Dia hanya membawa uang pas untuk naik bus. Lagipula di tempatnya sekarang, taksi jarang melewati wilayah itu. Pilihan terakhir, pulang dengan jalan kaki. Hanya perlu waktu kurang lebih 40 menit dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fiapeless Class [ COMPLETED ]
FanfictionFiapeless Class adalah kelas 2-F yang terkenal sebagai kelas yang berisi siswa-siswa yang tidak memiliki harapan. Seluruh murid yang pernah menghuni peringkat 10 besar harus rela terdepak ke peringkat akhir. Ini adalah tentang bagaimana para penghun...
![Fiapeless Class [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/177861637-64-k145016.jpg)