Chapter Fourty Five : Meeting at The Grave

4 2 0
                                        

"Paman Seojoon menghubungiku," ucap Daniel seraya menatap sang ayah yang duduk di balik meja kerjanya. "Hubungannya dan Hyera mulai membaik. Hyera sendiri mulai sering menghubungi ayahnya."

Minhyuk mengangguk paham. Jari-jarinya masih sibuk menari di atas keyboard komputer yang ada di hadapannya, sedangkan matanya fokus pada layar komputer.

"Syukurlah. Setidaknya dia mulai menerima ayahnya."

Daniel tersadar jika ayahnya berhenti mengetik. Dia beranjak dari posisinya lalu menggigit bibir bawahnya. "Ayah, sebenarnya aku tidak tahu kenapa tapi perasaanku tidak nyaman beberapa hari ini. Aku takut, dengan membaiknya hubungan Hyera dan ayahnya akan ada masalah baru yang timbul. Apa semuanya akan baik-baik saja?"

Minhyuk menatap putranya lalu tersenyum. "Perasaan tidak nyamanmu mungkin berasal dari kelelahan karena jadwal latihan. Untuk sementara, beristirahatlah! Hyera dan Yoongi terus menanyakan keberadaanmu."

Daniel mengangguk lalu menundukkan kepalanya. "Sebenarnya aku merindukan ibu."

"Kalau begitu, besok kita akan mengunjunginya. Ajak Hyera dan Yoongi juga. Sesekali kita mengunjunginya bersama."

"Ayah Hyera masih hidup?"


Namjoon menghela nafas lalu menatap pintu bercat cokelat di depannya. Sudah hampir setengah jam dia berdiri disana dengan perasaan ragu. Padahal sejak beberapa hari ini dia meyakinkan dirinya untuk menanyakan sesuatu pada sang ayah.

"Sampai kapan kau akan berdiri disana?"

Namjoon menoleh ke sumber suara dan mendapati Taehyung, saudara tirinya sedang berdiri di belakangnya.

"Kau...ragu-ragu?"

Pernyataan itu membuat Namjoon mengalihkan pandangannya kembali untuk menatap pintu. "Sangat ragu sampai berbagai pikiran negatif memenuhi kepalaku."

Taehyung menghela nafas lalu menepuk pundak saudaranya itu. "Keraguan dapat menghancurkan kepercayaan diri seseorang. Ragu-ragumu hanya akan membuatmu tidak bisa berpikir logis."

"Aku tahu itu." Namjoon menggigit bibirnya selama beberapa saat lalu membalikkan badannya untuk menatap Taehyung. "Aku harus menghilangkan keraguan ini sebelum bertemu Ayah."

"Besok ikut aku! Aku akan membantumu untuk menghilangkan keraguannya."


Malam ini Chanyeol hanya bisa menyaksikan sang adik yang terlihat uring-uringan di tempat tidurnya sejak pulang sekolah. Dia sendiri tidak tahu kenapa adiknya itu terlihat seperti gadis patah hati. Jimin tiba-tiba datang ke kamarnya, melempar ransel dan sepatunya ke sembarang arah lalu menghempaskan diri ke tempat tidurnya.

"Kau kenapa?"

Hanya pertanyaan seperti itu yang bisa diajukan Chanyeol sejak tadi tapi tak ada jawaban dari sang adik, selain gumaman entah apa maksudnya.

"Kau bertengkar dengan Jungkook?"

Lagi, bahkan tidak ada jawaban berubah gelengan atau anggukan. Jimin bahkan terus memunggungi Chanyeol yang berusaha untuk melihat wajahnya

"Yak!"

Chanyeol sudah menyerah. Bahkan karena adiknya itu, dia harus melewatkan makan malam. Sebenarnya bisa saja dia meminta bantuan ibu mereka tapi respon ibunya sungguh diluar akal.

"Mungkin Jimin sedang terserang penyakit bulanan."

Apa-apaan jawaban itu? Memangnya adik mochi-nya itu perempuan? Walaupun Jimin termasuk tipe yang sensitif –misalnya dikatai pendek.

Fiapeless Class [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang